Berita Internasional

Begini Reaksi Indonesia saat China Seenak Jidat Mengajak Buat Proyek Ini di Natuna Demi Sebuah Misi

Selain dari Amerika Serikat, banyak negara di kawasan Asia Tenggara bahkan wilayah lainnya yang menjadi musuh dari China.

Editor: Andreas Eko Prasetyo
TRIBUNNEWS/SETPRES/AGUS SUPARTO
(Ilustrasi Kapal Perang Indonesia) Presiden Joko Widodo meninjau kesiapan kapal perang KRI Usman Harun di Puslabuh TNI AL di Selat Lampa, Natuna, Rabu (8/1/2020). Selain itu Jokowi juga mengadakan silaturahmi dengan para nelayan di Sentra Kelautan Perikanan Terpadu (SKPT) Selat Lampa Natuna. 

TRIBUNJAMBI.COM - Selain dari Amerika Serikat, banyak negara di kawasan Asia Tenggara bahkan wilayah lainnya yang menjadi musuh dari China.

Tetapi Indonesia tidak termasuk di antaranya.

Pasalnya Indonesia sendiri punya hak. Khususnya yang berkaitan dengan Pulau Natuna.

Sehingga Beijing tak berhak ikut campur di atasnya.

 USAI Lepaskan Timor Leste dari NKRI, BJ Habibie Dihujat Seluruh Negeri, Namun Ini 2 Alasan Cerdasnya

 Toko Jasa Servis Star Elektronik Terimbas Pandemi, Omzet Turun 50 Persen

 Sekolah Zona Kuning dan Zona Hijau Boleh Belajar Tatap Muka, Mendikbud Siapkan Kurikulum Darurat

Kendati demikian arogansi China atas Laut China Selatan tak pernah habis.

Proposal pembangunan bahkan masih terus diajukan demi memperlancar agendanya.

Dikutip Sosok.ID dari The Interpreter pada Senin (31/8/2020), “pembangunan bersama” jelas merupakan istilah yang salah ketika China tidak memiliki saham legal di wilayah Indonesia.

Indonesia telah lama memperjelas posisinya sebagai negara non-penggugat di Laut China Selatan, dengan menyatakan kepentingan utamanya dalam perselisihan tersebut adalah untuk menjaga perdamaian dan keamanan di wilayah tersebut dengan bertindak sebagai perantara yang jujur.

Baca Juga: Sekolah Dibuka Kembali, Justru Kasus Virus Corona di Rusia Tembus 1 Juta Kasus, Bikin Putin Marah Besar dan Perintahkan Hal Ini

Namun hal ini tidak menghentikan China untuk berusaha menjerat Indonesia dalam visinya sendiri untuk Laut China Selatan.

China telah mengajukan beberapa proposal pembangunan bersama di Laut China Selatan sejak 2017, terutama ditujukan ke Filipina dan Vietnam.

Tapi Indonesia juga jadi unggulan.

 Bupati Muaro Jambi Imbau Masyarakat Setop Buang Air Besar di Jamban

 30 Tahun Jadi Teknisi Elektronik, Atik Sebut Tekun Jadi Syarat Utama

 Jaga Transparansi Tahapan Pilkada, KPU Bungo Akan Siarkan Langsung Lewat Medsos

China mengusulkan pembentukan Spratly Resource Management Authority (SRMA), dengan keanggotaan tidak hanya dari negara penuntut yang bersengketa, yaitu Brunei, China, Malaysia, Vietnam, dan Filipina, tetapi juga Indonesia.

Huaigao Qi dari Universitas Fudan berpendapat dalam sebuah artikel yang diterbitkan tahun lalu di Journal of Contemporary East Asian Studies bahwa tujuan China adalah memainkan peran konstruktif dalam mempromosikan wilayah yang damai dan stabil.

Serta mengembangkan hubungan baik dengan negara-negara pesisir lainnya dan mengurangi China- Persaingan AS di wilayah yang disengketakan.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved