Breaking News:

30 Tahun Jadi Teknisi Elektronik, Atik Sebut Tekun Jadi Syarat Utama

Tidak semua orang yang memiliki kemampuan untuk memelihara bahkan memperbaiki perangkat elektronik.

tribunjambi/Monang
Atik (53), teknisi sekaligus pemilik toko servis elektronik Star Elektronik, sedang memperbaiki tv pelanggannya, Rabu (2/9/2020). 

TRIBUNJAMBI, JAMBI - Produk elektronik merupakan produk yang istimewa. Pemeliharaanya pun harus diperhatikan. Tidak semua orang yang memiliki kemampuan untuk memelihara bahkan memperbaiki perangkat elektronik.

Atik (53), satu di antara pemilik toko jasa servis elektronik di Kota Jambi, telah menggeluti bidang jasa ini selama 30 tahun. Ia sangat senang dengan apa yang ia kerjakan. 

“Saya buka usaha ini dari tahun 1990. Jaman dulu (1990-an) menjadi teknisi seperti saya adalah suatu kebanggaan. Karena di tahun 1990-an, perangkat elektronik seperti TV, tape, radio, setrikaan, dan lainnya itu sedang jaya-jayanya. Jadi, jika kita menguasai elektronik kala itu, dicari orang,” ujarnya saat Tribun Jambi temui di toko jasanya.

Toko Jasa Servis Star Elektronik Terimbas Pandemi, Omzet Turun 50 Persen

Jaga Transparansi Tahapan Pilkada, KPU Bungo Akan Siarkan Langsung Lewat Medsos

VIDEO Nenek 87 Tahun Terkubur Hidup-hidup Selama 3 Hari di Lumpur, Fakta Sebenarnya Terungkap

“Saya ingat, masa puncak kejayaan elektronik itu saat setelah 1998. Saat acara tv berkembang, tape dan cd juga mulai banyak bertebaran, itu saya dapat dampaknya juga. Banyak yang datang untuk servis tv, tape, amplifier, dan vcd player,” ujarnya lagi.

Menurut Atik, teknisi sekaligus pemilik toko Star Elektronik di Thehok, Jambi ini, syarat untuk menjadi teknisi elektronik yang handal itu adalah ketekunan.

“Memang tekun itu nomor satu. Karena perangkat elektronik ini terus berkembang. Tiap tahun, tiap produsen, pasti punya inovasi, dan juga perangkat yang digunakan selalu baru,” kata Atik sambil memperbaiki tv di hadapannya.

Atik hanyalah lulusan SMA. Setelah lulus, ia langsung ikut kursus elektronik di Jakarta. “Sebenarnya saya ingin kuliah, karena ada satu dan lain hal, saya urungkan niat itu. Pada masa itu, memang kursus elektronik sangat populer. Saya ikut kursus selama satu tahun di Jakarta. Setelah saya dapat sertifikat, saya kerja sosial. Ikut kerja sana-sini. Kerja elektronik dan tidak dibayar. Tapi saya mendapatkan pengalaman banyak dari situ. Sampai akhirnya saya memberanikan diri membuka toko jasa servis di tahun 1990,” tuturnya.

“Selama 30 tahun pasti ada saja suka dukanya. Dulu di tahun 1990an-2000 awal, toko ini buka pukul 08.00-21.00. Lama-lama menurun. Terus sekarang buka hanya sampai pukul 17.00. Apa lagi awal-awal corona, sepi. Untungnya masa pandemi harga sparepart stabil. Jadi, masih bisa tercukupi,” katanya.

Penulis: tribunjambi
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved