Karhutla di Jambi

Terungkap Fakta-fakta Karhutla di Jambi, Warga Antre Hirup Oksigen Tabung hingga Berebut Air

"Sebagian ado yang ke Jambi ada yang ke dusun, kami tetap bertahan di sini karna dak mungkin ninggalin rumah," katanya.

Terungkap Fakta-fakta Karhutla di Jambi, Warga Antre Hirup Oksigen Tabung hingga Berebut Air
Tribunjambi.com/Dedy Nurdin
Warga Desa Puding, Kabupaten Muarojambi bertahan di rumahnya, meski krisis air bersih dan di tengah hujan abu dari karhutla 

Terungkap Fakta-fakta Karhutla di Jambi, Warga Antre Hirup Oksigen Tabung hingga Ngungsi Tapi Bingung

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pagi ini kabut asap di Kota Jambi makin pekat.

Jarak pandang pada Senin (23/9) lebih pendek dibanding pada Minggu (24/9).

Masyarakat yang beraktivitas di luar rumah menggunakan penutup hidung dan mulut (masker). Namun masih ada yang nekat tak mengenakan penutup untuk mengurangi dampak kabut asap untuk kesehatan.

Kemarin, warga Desa Puding, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muarojambi antre menghirup oksigen murni serta air yang dibawa oleh PMI Provinsi Jambi.

Baca Juga

 Mencekam, Langit Jambi Berubah Oranye, Kabut Asap dan Kabut Asap di Muarojambi Makin Parah

 Belasan Penerbangan Lion Air Group Dibatalkan Akibat Kabut Asap, Berikut Daftarnya

 VIDEO: Kebakaran Masih Terjadi di Kabupaten Muarojambi, Petugas Kesulitan ke Lokasi Titik Api

 VIDEO: Mencekam Tengah Hari Macam Malam, Langit di Jambi Berubah Oranye Akibat Kebakaran Lahan

 Daftar 14 Artis yang Lolos Jadi Anggota DPR RI 2029-2024, dari Arzeti s/d Rachel Maryam dan Tommy

Baca: Tanpa Batasan Usia, Tak Mengenal Jenis Penyakit, Program Jaminan Kesehatan Nasional BPJS Jamin Semua

Di desa ini jarak permukiman dengan lahan yang terbakar hanya sekitar dua kilometer.

Abu dari lahan terbakar mengotori udara dan desa.

Saking pekatnya, walau waktu menunjukkan pukul 11.30 langit di sana tampak gelap seperti menjelang petang.

Kabut asap dengan hawa panas terasa kering saat terkena kulit.

Tedjo Sukmono, Ketua Bidang Bencana dan Pelayanan Sosial PMI Provinsi Jambi, mengatakan mereka membawa bantuan air bersih sebanyak 5.000 liter, masker, layanan oksigen hingga pemeriksaan kesehatan.

"Tadi kita bagikan pada warga dan untuk kebutuhan posko personel pemadam, karena memang air bersih salah satu kebutuhan penting di Desa Puding untuk saat ini," kata dia.

Ia bilang warga banyak megeluhkan pernapasan.

“Kebanyakan mengeluh ISPA, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Karena memang kondisi udara saat ini di Desa Puding sangat tidak layak dan berbahaya," katanya kemarin.

Kata dia, PMI berencana akan merutinkan penyaluran kebutuhan tersebut setiap 3 hari sekali.

“Termasuk kita sedang merencanakan rumah aman asap tapi tempatnya di mana masih kami usahakan," kata pria yang juga akademisi Unja itu kepada Tribunjambi.com.

Pantauan Tribunjambi.com, di rumah warga yang dijadikan tempat untuk posko dadakan warga berdatangan.

Mereka antre untuk bisa menghirup udara bersih dari tabung oksigen.

Utamanya anak-anak dan kelompok lanjut usia.

Beberapa personel TNI dan relawan PMI menyisir rumah warga untuk membagikan masker serta memberikan informasi layanan air bersih dan cek kesehatan di ambulans.

“Perih di mata dan sesak napas,” kata Jariah warga setempat.

Ia mengkhawatirkan seorang anaknya yang menderita asma.

"Harus rajin bersihkan rumah. Apalagi sekarang nambah parah makanya kami larang keluar rumah," ujarnya.

Warga lainnya, Nyai Zainatun mengatakan merasakan sesak dada dan sulit bernapas terutama pada malam hari.

Ia enggan mengungsi meski beberapa waktu lalu sejumlah warga memilih mengungsi.

"Sebagian ado yang ke Jambi ada yang ke dusun, kami tetap bertahan di sini karna dak mungkin ninggalin rumah," katanya.

Menurut dia dengan kondisi saat ini mengungsi ke dusun kondisinya juga sama.

“Di Kota Jambi juga asap jadi kami tetap di rumah," ujarnya.
Sebagian warga yang sempat mengungsi juga kini kembali ke rumah mereka.

M Yunus, Kepala Dusun I Desa Puding mengatakan sebanyak 140 KK di sana saat ini kesulitan mencari air bersih dan terpaksa membeli air galon.

Satu galon di desa Puding dijual seharga lima ribu rupiah.

Di Desa Betung, Kecamatan Kumpeh, kondisinya setali tiga uang.

Warga khawatir kebakaran merembet ke permukiman.

Mereka berbondong mendatangi lokasi kebakaran yang jaraknya hanya sekitar dua kilometer dari peemukiman.

Namun, banyaknya warga dan personel TNI yang berada di lokasi kebakaran tak sebanding dengan peralatan yang ada.

Kebakaran Hutan dan Lahan sampai dengan saat ini masih terjadi di wilayah Kabupaten Muarojambi, satu di antaranya kebakaran yang terjadi di Desa Puding, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muarojambi, Minggu (22/9/2019). TNI, Polri, BNPB, BPBD Provinsi Jambi, BPBD Kabupaten Muarojambi, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api turun untuk melakukan pemadaman. Adapun lahan yang terbakar merupakan lahan milik PT Bara Eka Prima.
Kebakaran Hutan dan Lahan sampai dengan saat ini masih terjadi di wilayah Kabupaten Muarojambi, satu di antaranya kebakaran yang terjadi di Desa Puding, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muarojambi, Minggu (22/9/2019). TNI, Polri, BNPB, BPBD Provinsi Jambi, BPBD Kabupaten Muarojambi, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api turun untuk melakukan pemadaman. Adapun lahan yang terbakar merupakan lahan milik PT Bara Eka Prima. (tribunjambi/samsul bahri)

Warga pun terlihat hanya menggunakan ember untukbasahi tanah gambut yang terbakar.

Hanya ada dua mesin pompa air dengan panjang selang hanya sekitar 30 meter.

"Sulit karena mesin cuma dua, sumber airnya cuma di sekat kanal ditarik ke lokasi selang tak sampai. Itu pun airnya kecil dan bercampur lumpur yang keluar," ujar seorang personel TNI yang dibincangi

Krisna, Kepala Desa Puding, ditemui di lokasi mengatakan api merembet dari lahan perusahaan ke lahan warga.

Lokasi yang terbakar menurutnya adalah daerah restorasi dari Badan Restorasi Gambut (BRG).

"Ini kanalnya disekat tahun 2017 kemarin, tapi tetap juga kering. Malah terbakar sekarang, kami berharap ada bantuan peralatan karena minim sekali, setidaknya untuk mencegah agar api tak sampai ke permukiman warga," ujarnya.

Warga Desa Puding, Muarojambi bertahan dirumahnya. Meski krisis air Bersih dan di Tengah Hujan Abu dari Karhutla
Warga Desa Puding, Muarojambi bertahan dirumahnya. Meski krisis air Bersih dan di Tengah Hujan Abu dari Karhutla (Tribunjambi/Dedy Nurdin)

Di Desa Betung terdapat 900 KK, sebagian besar tinggal tak jauh dari lokasi kebakaran gambut.

Sementara itu, di Posko Kesehatan Induk di Desa Arang-arang menerima keluhan dari tim pemadam. Eli Hayati tim kesehatan di sana menyebutkan sejumlah personel mengeluhkan batuk hingga diare.

"Kemarin itu ada sekitar 6 orang, hari ini sudah ada 5 orang yang cek kesehatan. Ini khusus Arang-arang saja. Kalau di Kumpeh ada 13 desa dan laporan itu langsung ke Puskesmas Kumpeh," ujarnya. ( Tribunjambi.com)

Follow IG Tribunjambi.com

 Mencekam, Langit Jambi Berubah Oranye, Kabut Asap dan Kabut Asap di Muarojambi Makin Parah

 Mengapa Kabut Asap di Jambi Masih Pekat? Analisa KKI Warsi Sudah 47 Ribu ha Lahan dan Hutan Terbakar

 Warga Desa Puding, Muarojambi, Berebut Air Bersih di Tengah Hujan Abu dari Karhutla

 VIDEO: Mencekam Tengah Hari Macam Malam, Langit di Jambi Berubah Oranye Akibat Kebakaran Lahan

 VIDEO Viral Seorang Ibu Bawa Bayi yang Diduga Anak Kandung ke Tempat Dugem, Simak Bahayanya

Editor: duanto
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved