Kabut Asap Jambi

Mengapa Kabut Asap di Jambi Masih Pekat? Analisa KKI Warsi Sudah 47 Ribu ha Lahan dan Hutan Terbakar

Mengapa kabut asap di Jambi masih pekat dan kualitas udara berbahaya? Pertanyaan ini akan terjawab dalam data yang dirilis KKI Warsi

Mengapa Kabut Asap di Jambi Masih Pekat? Analisa KKI Warsi Sudah 47 Ribu ha Lahan dan Hutan Terbakar
Tribunjambi/Dedy Nurdin
Warga Desa Puding, Muarojambi bertahan dirumahnya. Meski krisis air Bersih dan di Tengah Hujan Abu dari Karhutla 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Mengapa kabut asap di Jambi masih pekat dan kualitas udara berbahaya?

Pertanyaan dari masyarakat luas ini sedikit banyak akan terjawab dalam data yang dirilis KKI Warsi, yang melakukan Analisis Citra Satelit Lansat TM 8 per 16 September 2019.

Data yang disampaikan Komunitas Konservasi Indonesia WARSI, sudah 47.510 ha kawasan hutan dan lahan yang terbakar.

Dari luas ini lebih dari separuh, tepatnya 28.889 ha, kebakaran terjadi di kawasan gambut.

Luas lahan yang terbakar ini menyumbang kabut asap dan partikel debu yang membahayakan kesehatan manusia.

Baca: Desa-desa di Kumpeh Gelap Tertutup Kabut Asap, Warga Takut Keluar Rumah

Baca: Tim Pemadam Karhutla Kekurangan Masker Oksigen, Arah Angin Ikut Jadi Penyebab

Baca: Belasan Penerbangan Lion Air Group Dibatalkan Akibat Kabut Asap, Berikut Daftarnya

Jika dilihat pada pemanfaatan lahan, kebakaran hutan dan lahan terjadi hampir di semua peruntukan lahan.

Kebakaran di Hutan Tanaman Industri mencapai 10.194 ha, di areal HPH 8.619 ha, serta di perkebunan kelapa sawit 8.185 ha.

Selanjutnya di Hutan Lindung 6.712 ha, Restorasi Ekosistem 6.648 ha, Taman Nasional 3.395 ha, lahan masyarakat 2.956 ha, serta Taman Hutan Raya 801 ha.

“Melihat data ini kebakaran yang terjadi di Provinsi Jambi hampir semuanya berada dalam kawasan yang ada pemilik dan pihak yang bertanggung jawab atas kawasan tersebut,” kata Rudi Syaf Direktur KKI WARSI, dalam rilis yang diterima Tribun, Minggu (22/9/2019).

Jika lebih detail terlihat banyak pemegang izin yang mengalami kebakaran berulang, terutama di kawasan gambut.

Halaman
123
Penulis: suang
Editor: suang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved