Pelecehan Siswa SMP di Jambi

Dosen UIN Jambi Kecam Maraknya Pencabulan Pelajar: Ruang untuk Perilaku Menyimpang Harus Dibatasi

Dosen Psikologi UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi, Afriansyah mengutuk keras maraknya aksi pencabulan yang menyasar ke pelajar di kota Jambi.

Penulis: Rifani Halim | Editor: Rohmayana
Tribunjambi.com/Rifani Halim
Oknum ASN Pemprov Jambi telah menahan dan menetapkan Y (39) sebagai tersangka pencabulan terhadap pelajar SMP laki-laki berusia 13 tahun.  

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Dosen Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Saifuddin Jambi, Afriansyah mengutuk keras maraknya aksi pencabulan yang menyasar pelajar dan santri di kota Jambi belakang ini. 

Menurutnya aksi tak pantas itu muncul karena adanya ruang-ruang yang diberikan oleh publik terhadap orang-orang yang  berperilaku menyimpang, hingga timbulnya keberanian dari orang yang memiliki perilaku menyimpang

"Perubahan zaman terlalu memberikan ruang terhadap orang yang berperilaku menyimpang untuk tampil di muka umum, hingga orang-orang menggap perilaku menyebabkan masyarakat menggangap itu hal lumrah," kata akademisi fakultas dakwah UIN itu, saat diwawancarai Tribun Jambi. 

Karena masyarakat mengganggap hal perilaku menyimpang itu lumrah, orang-orang menyimpang itu menjadi semena-mena. Terutama perilaku seksual menyimpang. 

"Andai kita dari dulu tidak memberi ruang terhadap orang yang menyimpang, pasti kegiatan meraka akan sembunyi-sembunyi. Mereka merasa ada peluang dan merasa ada tempat di masyarakat maka oknum dari orang menyimpang itu berani melakukan hal yang tidak senonoh belakang ini," ungkap Afriansyah. 

"Walaupun kita tidak boleh membenci orangnya, tapi benci perilakunya. Tetapi ujung-ujungnya seperti ini kejadiannya," tambahnya. 

Afriansyah menerangkan, ibarat pisau bermata dua, di satu sisi publik memberikan kesempatan orang menyimpang berdampingan secara sosial. Di satu sisi lain, orang menyimpang semakin semena-mena melakukan pelecehan hingga pencabulan, terlebih seperti di Jambi saat ini kepada pelajar. 

"Saat ini baru dua yang ketahuan publik, yang kita tidak ketahui bagaimana," tanya Afriansyah. 

Baca juga: Mobil Merah Milik ASN Pemprov Jambi yang Terjerat Pencabulan di Mapolda, Rambut Tersangka Botak

Baca juga: Tersangka Ketiga Pencabulan Panti Asuhan di Tangerang Ditangkap di Palembang, Tinggal di Perkebunan

Afriansyah juga bilang, orang tua dan sekolah seharusnya tidak menggangap sepela bila anak-anak yang sudah terlihat berperilaku menyimpang. 

"Kalau sudah ter indentifikasi anak berperilaku menyimpang sejak dini kenapa kita biarkan, kenapa tidak kita tindak dengan membawa ke psikolog, sekolah harus memberikan tindakan juga jangan dibiarkan hingga lulus. Oke mereka memang punya hak tapi kalau seperti kasus yang terjadi di Jambi ini mengganggu kan," katanya. 

Pemerintah seharusnya juga melakukan pencegahan dan penindakan seperti yang dilakukan terhadap penyalahgunaan narkoba.

"Pemerintah juga harus membawa pegawai-pegawai pemerintahan ke psikolog yang diperkirakan menyimpang, agar hal ini tidak terulang kembali, hingga korban bertambah," ungkap Afriansyah. 

"Indonesia melarang pernikahan sesama jenis, tetapi ada yang kearah sana kita malah cuek kan jadi rancu juga. Di satu sisi kita menolak, di satu sisi kita membiarkan," tutupnya. (Tribunjambi.com/ Rifani Halim)

 Dapatkan Berita Terupdate Tribunjambi.com di Google News

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved