Pilkada di Jambi

Pemilih di Jambi Anggap Wajar Politik Uang, Pengamat: Efektivitasnya Rendah

Mayoritas pemilih di Jambi menganggap bahwa money politic atau politik uang itu adalah hal yang wajar dilakukan pada pelaksanaan Pilkada Serentak 2024

Penulis: Danang Noprianto | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
ist
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Toto Izul Fatah. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Mayoritas pemilih di Jambi menganggap bahwa money politic atau politik uang itu adalah hal yang wajar dilakukan pada pelaksanaan Pilkada Serentak 2024 ini.

Kesimpulan ini berdasarkan hasil survei dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA.

"Sebanyak 58,3 persen masyarakat menganggap wajar jika ada calon yang memberikan uang atau sembako," ungkap ungkap Direktur Eksekutif Citra Komunikasi Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Toto Izul Fatah.

Dari 58,3 persen tersebut, 17,9 persen menganggap sangat wajar, kemudian 40,4 persen cukup wajar.

Sementara sisanya, 14,5 persen pemilih menganggap kurang wajar, 23,1 persen menganggap tidak wajar sama sekali, dan  4,1 persen tidak tahu atau tidak menjawab.

Namun apa yang menyebabkan politik uang di Jambi ini dianggap wajar dilakukan, apakah karena budaya yang selama ini terjadi atau kurangnya pendidikan politik bagi masyarakat?.

Pengamat Politik dan Kebijakan Publik Universitas Jambi, Citra Darminto menilai salah satu faktor terjadi politik uang disebabkan oleh perilaku elit-elit politik atau politisi.

"Politisi ini ingin bagaimanapun harus menang walaupun dengan segala cara, sehingga kondisi inilah yang menyebabkan elite-elite atau kandidat-kandidat tersebut melakukan politik uang," ucapnya, Kamis (17/102/2024).

Apalagi kata dia ditengah laju inflasi dan tekanan ekonomi global saat ini, termasuk kondisi ekonomi masyarakat Provinsi Jambi, menurutnya godaan pemilih untuk menerima politik uang memang cukup tinggi.

"Tren ini bisa terus berkembang jika permisifitas pemilih pada politik uang masih sangat besar dan angka inflasi dan tekanan ekonomi masih menyulitkan kehidupan mayoritas pemilih pada masyarakat Provinsi Jambi," jelasnya.

Namun dengan tegas ia menolak pernyataan bahwa politik uang merupakan hal yang wajar, meskipun dalam banyak survei mayoritas responden mengakui menerima uang atau pemberian yang lain, dari kandidat atau partai politik agar mereka memilih pihak pemberi.

"Saya menilai jawaban tidak mempengaruhi kemenangan khususnya dalam kontestasi Pilgub Jambi, 'money politic itu dibenci tapi di rindukan'," ujarnya.

Ia juga berpendapat bahwa money politik ini tidak berpengaruh terhadap kemenangan kandidat di Pilgub Jambi 2024.

Ia menilai semakin kesini, trennya semakin banyak pemilih yang mengatakan menerima uangnya, tetapi untuk pilihannya bisa saja memilih kandidat lain.

"Tren ini bahkan sudah terjadi di pemilih tradisional atau dari kalangan grassroots (akar rumput), karena saya memandang saat ini pemilih khususnya di provinsi Jambi, memahami bahwa pilihan mereka di bilik suara sepenuhnya hanya dia yang tahu," ungkapnya. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved