WAWANCARA EKSKLUSIF

PKS Sebaiknya Tidak Masuk Kabinet Prabowo, Waketum Partai Gelora, Fahri Hamzah, Seri I

Di sebelah kiri ada teman-teman dari PDIP yang mengambil gagasan Soekarnois sebagai jalan dari politiknya yang mengkritik misalnya kebijakan

Editor: Duanto AS
TRIBUNNEWS
Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah (kiri), dan Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra (kanan), saat podcast di kantor Tribun Network, Palmerah, Jakarta, Senin (6/5). 

PEMERINTAHAN Prabowo Subianto- Gibran Rakabuming Raka memerlukan check and balance sehingga tidak bisa seluruh partai politik yang berkompetisi bersatu. Pandangan itu dipaparkan Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah, saat podcast di kantor Tribun Network, Palmerah, Jakarta, Senin (6/5).

Fahri Hamzah menilai baik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDP) dapat berjalan di luar pemerintahan.

"Karena kemarin itu terus terang aja saya termasuk yang berkepentingan kalau bisa terutama PKS dan PDIP sebaiknya mengembangkan gagasannya," ucapnya.

Dengan fokus di luar diharapkan dapat melahirkan alternatif pemikiran. "Misalnya PKS karena saya pernah di PKS mengapa tidak mengembangkan gagasan tentang Islam yang agak kental gitu. Lalu kemudian mengajukan alternatif-alternatif ideologi Islam dalam menjalankan pemerintahan," urainya.

Menurutnya, jangan-jangan memang bisa kuat lalu kemudian itu jadi alternatif pemikiran kalau setia dengan pikiran itu. Jangan-jangan pendukungnya yang banyak ini sekaligus juga untuk mengabsorsi sebagian dari masyarakat kita yang mungkin berpandangan seperti itu.

“Tapi dengan diorganisir kita lalu berdebat nanti berdebat dengan kita apa betul ini seperti itu. Apakah itu valid di abad sekarang," tukasnya.

Di sebelah kiri ada teman-teman dari PDIP yang mengambil gagasan Soekarnois sebagai jalan dari politiknya yang mengkritik misalnya kebijakan pemerintahan Pak Prabowo dan kawan-kawan. "Jangan-jangan Pak Prabowo dan kawan-kawan ini dianggap neo Orde Baru misalnya bisa saja tapi ini menyebabkan kita bertarungnya enak," lanjut Fahri.

Pertarungan gagasan amat diperlukan, kalau tidak pertarungan gagasan Fahri khawatir nanti pertarungannya itu kepada hal-hal yang non gagasan, suka atau tidak suka. "Ini soal loyal atau tidak ini repot kita kalau masuk kepada perdebatan seperti itu tidak ada logikanya, tidak ada rasionalitasnya. Kita harus membangun medium pertarungan yang rasional," tukasnya.

Berikut wawancara Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra, dengan Fahri Hamzah.

Setelah adanya penetapan ini, muncul ide mengenai presidential club yang meniru konsepnya di Amerika Serikat. Menurut Bang Fahri, apakah ide ini bisa terealisasi mengingat konfigurasi politik kita ini para presiden terdahulu sebelum Pak Prabowo ini kan tidak mempunyai komunikasi politik yang baik?

Pak Prabowo, presiden terpilih kita, ini adalah pribadi yang unik dan juga manusia sejarah yang dilahirkan secara unik. Seperempat abad yang lalu, dia keluar dari institusi militer dengan segala macam kontroversinya pada saat Indonesia dalam transisi dan juga dunia sedang dalam konflik geopolitik atau krisislah paling tidak kita katakan krisis karena waktu itu adalah krisis moneter.

Beliau keluar lalu kemudian selama seperempat abad itu beliau berbisnis dan mencoba kembali dalam politik. Seperempat abad kemudian dia terpilih persis pada saat ada konflik geopolitik dan ada krisis baru di dunia ini setelah covid yang akan berefek pada krisis-krisis lainnya perang Rusia, Ukraina belum selesai sekarang ini ada perang Iran dan Israel.

Ada kemungkinan orang membaca terjadinya perang dunia ketiga, artinya Prabowo adalah pribadi yang unik lahir secara unik dan sekarang dia kembali memimpin kita dalam situasi yang juga unik sehingga keinginan besar beliau untuk menyatukan bangsa ini yang sudah diungkapkan dalam kampanye beliau berkali-kali adalah satu ikhtiar yang menurut saya persis dan tepat waktunya dan harus kita dukung secara bersama-sama karena memang dunia tidak sedang baik-baik saja dan kita memerlukan satu ikhtiar kuat untuk mengikat dan merawat elite kita supaya tidak menjadi pemicu ketegangan dan konflik bangsa.

Jadi bentuk-bentuknya presidential club atau dulu pernah beliau katakan kantor untuk para presiden, karena tidak ada istilah mantan dari presiden itu yang saya kira di antara ikhtiar untuk menyatukan elite Indonesia sehingga yang anda sebut tadi safari beliau ke kelompok-kelompok, ke partai dan sebagainya itu adalah dalam rangka itu.

Saya kira nomor satu kita harus hargai tetapi memang ada akar dari kecemasan kita tentang konflik elite, yaitu bahwa konflik elit kita ini berakar dari sistem politik yang harus kita perbaiki terlalu liberal. Kemudian medium daripada konfliknya dan persaingannya itu terlalu melebar mengikuti atau meliputi juga aspek-aspek yang non-rasional, soal pribadi, ketersinggungan, tidak tahu berterima kasih, pengkhianatan dan sebagainya.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved