Profil dan Biodata Tokoh

Sosok Savic Ali, Aktivis 98 yang Kritik Budiman Sudjamiko Temui Prabowo: Perumus 9 Nilai Gus Dur

Inilah Sosok Syafiq Alielha atau Savic Ali, Aktivis 98 yang mengkritik Budiman Sudjatmiko lantaran temui Prabowo Subianto

Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
Capture Ig Savic Ali/ Kompas Tv /Kolase Tribun Jambi
Inilah Sosok Syafiq Alielha atau kadang disebut Syafi' saja alias Savic Ali, Aktivis 98 yang mengkritik Budiman Sudjatmiko lantaran menemui Prabowo Subianto. 

Dia juga berharap sahabat-sahabatnya yang telah belajar banyak ilmu sosial, agar bergiat kembali ke asalnya, komunitasnya, agar pembasisan gerakan memperoleh pijakan yang kokoh; tidak hanya berhenti dalam tumpukan laporan dan jilidan penelitian.

Baca juga: Tersangka Kasus Polisi Tembak Polisi Saling Lempar Soal Senpi Ilegal yang Sebabkan Bripda IDF Tewas

Ketika di Jakarta, Savic Ali juga masih sering berpuasa. Suatu ketika pernah berpuasa mutih selama seminggu. Ketika berbuka puasa, di P3M, nasinya beli di luar, dan tidak cukup selera, sangat beda ketika masak sendiri seperti di Pondok, sehingga hanya sedikit sekali yang dimakan.

Pada hari keempat, sebagian sahabat-sahabatnya melihat Savic Ali jatuh dari tangga P3M, karena sebenarnya dia sendiri tidak cukup bertenaga, dan ternyata dia memang sedang puasa mutih.

Menjadi Aktivis 98

Ketika gerakan reformasi dimotori mahasiswa begitu dahsyat, Syafi' terlibat aktif dalam gerakan mahasiswa 98 itu

melalui Forkot dan Famred: dua organisasi yang dikenal sangat fokal, tetapi kemudian ditandingi oleh pendirian FPI.

Di organisasi ini, Syafi' bertemu dengan aktivis-aktis 98 dan menjadi salah satu pimpinan pentingnya.

Dengan pecahnya gelombang aksi reformasi itu, Savic Ali menjadi belajar berurusan dengan banyak orang dan bertemu dengan banyak orang-jaringan, karena harus datang ke kampus-kampus untuk ngisi diskusi, mimbar bebas, dan berjejaring dengan banyak orang. Rapat hampir tiap hari.

Dari kerja- kerja seperti itu, Savic Ali menyelami pergerakan yang bukan hanya mikir dan diskusi, tetapi juga silaturahmi dan membangun jaringan.

Setelah gelombang reformasi menjatuhkan pemerintah Soeharto, Savic Ali sering bolak- balik Yogyakarta-Jakarta.

Disamping untuk berkoordinisasi soal gerakan mahasiwa, Syafi' juga mengunjungi adik-adiknya di Kalijaga. Menjamurnya penerbitan bar adanya kebebasan untuk membaca buku

Yogyakarta, yang semua kuliah di IAIN Sunan Kalijaga.
Menjamurnya penerbitan baru, dan adanya kebebasan untuk membaca buku setelah tumbangnya pemerintah Soeharto, Syafi' kemudian sempat membuat penerbitan buku, yang fokus pada buku- buku sastra dan humaniora, antara periode 2003-2009.

Di Jakarta, Savic Ali kemudian menjadi motor NU Online pada tahun 2003, bersama KH. Mun'im DZ (Wapemred); kemudian dipasrahi untuk menjadi Pimred (2009-2016); dan menjadi direktur untuk periode 2016-2020.

NU Online melalaui koordinasi dan kepemimpinan Savic Ali, menjadi media online yang dimiliki NU, terdepan dalam mengampanyekan Islam Aswaja, kebangsaan, dan masalah-masalah kemanusiaan, dan ratingnya terus naik.

Setelah itu juga mendirikan islami.co., Nutizen, dan melakukan pelatihan-pelatihan di berbagai tempat kaitannya dengan media, literasi, dan NU.

Setelah itu, sejak tahun 2011, bersama Alissa Wahid dan sahabat-sahabat senior lain di lingkaran murid-murid Gus Dur, Savic Ali terlibat menginisiasi pembentukan jaringan Gusdurian.

Baca juga: Tersangka Kasus Polisi Tembak Polisi Saling Lempar Soal Senpi Ilegal yang Sebabkan Bripda IDF Tewas

Sampai pada perumusan 9 Nilai Utama Gus Dur, Syafi' terlibat intens, yang dalam pertemuan perumusan akhir, dilakukan bersama sahabat Rumadi, Marzuki Wahid, NKR, Hamzah Sahal, Inung, Hairus Salim, dan Alissa Wahid beserta suami.

Pengalaman bersambung, diundang, dan berjejaring pada masa gerakan 98, terus berlanjut hingga sekarang.

Pengalaman itu membuat Savic Ali lebih sanggup bekerja membangun jaringan di lingkungan anak- anak muda NU, dan sanggup aktif di Gedung PBNU, ngurusi NU Online, bergiat di Gusdurian, dan menemani teman-teman muda NU progresif yang biasa bermain dan berkumpul di markas NU Online, dan terlibat aktif dalam kerja-kerja kaderisasi.

Karena menurutnya, salah satu hal penting dalam pergerakan adalah kaderisasi.

Di antara banyak gurunya di Jakarta, dengan Gus Im, Syafi sangat dekat dan sering berkunjung ke rumahnya. Menurut Syafi', bila ngobrol dengan Gus Dur akan dibawa pada pengetahuan yang meluas, tetapi ketika ngobrol dengan Gus Im.

Menurutnya: "Karakternya yang lebih underground membuat lebih nyambung," untuk menandaskan jalannya kaderisasi, pergerakan, dan eksperimen-eksperimen.

Di tengah kesibukannya itu, Syafi' selalu mengisi sebagian waktunya untuk menjalankan amalan membaca A-Qur'an, yang ketika di pondok sempat dihafalkan, meski hanya 4 juz.

Dia juga sering ingat pesan sang ayah, agar kalau bisa setiap seminggu khatam, agar doa gampang diijabahi. Semoga selalu panjang umur, sehat, dan hidup berkah.

Savic Ali Kritik Budiman Sudjatmiko Temui Prabowo Subianto

Aktivis 98 mempertanyakan maksud Budiman Sudjatmiko temui Prabowo Subianto di kediamannya.

Pertemuan Budiman dengan Ketua Umum Partai Gerindra itu terjadi beberapa waktu lalu.

Savic mempertanyakam hal itu lantaran dia tidak mengerti masksud dari pertemuan tersebut.

Itu dikatakan Savic Ali dalam bincang bersama jurnalis senior Kompas Tv dengan tema "Aktivis 98 Dukung Prabowo, Amnesia atau Demi Kuasa?".

Dia menyebutkan bahwa Budiman Sudjatmiko bukan orang yang pertama bertemu dengan Prabowo Subianto.

Savic Ali juga menyebutkan bahwa ada Aktivis 98 yang sudah bergabung dengan Partai Gerindra dibawah Ketua Umum Prabowo Subianto.

Tak hanya di Partai Gerindra, Savic Ali juga menyebutkan bahwa mantan Aktivis 98 ada juga di partai lainnya.

Hal itu menurutnya bahwa masa lalu tidak menjadi patokan untuk seseorang dalam menentukan pilihan di Indoneseia.

Seperti diketahui bahwa Budiman Sudjatmiko pernah ditetapkan bersalah hingga di vonis 13 tahun penjara.

Dia menjalani penahanan selama 3,5 tahun setelah Abdurahman Wahid atau Gus Dur memberikan amnesti.

Sementara Prabowo Subianto disebut erat kaitannya dalam kasus penculikan mahasiswa 98 dan penghilangan paksa.

Namun terkait beberapa Aktivis 98 yang masuk dalam partai politik menurut Savic Ali tidak akan mempengahi roh pergerakan.

Tetapi Savic Ali menyebutkan perlu menanyakan kembali ke Budiman Sudjatmiko terkait Prabowo Subianto pada tahun 1998 tersebut.

"Jangan-jangan Budiman Sudjatmiko tidak merasa seperti itu, antara dia lupa atau seperti apa, kita nggak tahu ya kan" ujarnya.

Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Baca juga: Nathalie Holscher Umbar Biaya Sekolah Adzam Capai Rp 24 Juta: SPP Tiga Bulan Rp 11 Juta

Baca juga: Antisipasi Karhutla, BPBD Tanjabbar Bentuk Posko Pengendalian

Baca juga: Disperindag Tanjabtim Bekerjasama dengan Perusahaan Hasilkan Minyak Makan dari Kelapa

Baca juga: Pasutri Meninggal Kecelakaan di Tol OKI Sumsel Pengurus DPD Partai Gelora, Begini Kronologisnya

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved