Profil dan Biodata Tokoh

Sosok Savic Ali, Aktivis 98 yang Kritik Budiman Sudjamiko Temui Prabowo: Perumus 9 Nilai Gus Dur

Inilah Sosok Syafiq Alielha atau Savic Ali, Aktivis 98 yang mengkritik Budiman Sudjatmiko lantaran temui Prabowo Subianto

Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
Capture Ig Savic Ali/ Kompas Tv /Kolase Tribun Jambi
Inilah Sosok Syafiq Alielha atau kadang disebut Syafi' saja alias Savic Ali, Aktivis 98 yang mengkritik Budiman Sudjatmiko lantaran menemui Prabowo Subianto. 

Ketika mengeluh sama ibunya, sang ibu selalu menghiburnya untuk bersabar dan telaten.

Setelah dari Mathali'ul Falah, Savic Ali sempat mampir di INISNU Jepara, selama setengah semester pada tahun 1992. Setelah itu fi' masuk ke IAIN Sunan Kalijaga, selama satu semester antara periode 1993-1994, di Fakultas Syari'ah.

Tahun 1993, Syafi mendapat uang kiriman Rp 40.000 sebulan melalui wesel, sementara teman-temannya saat itu ada yang mendapat kiriman Rp 150.000 per bulan. Dengan kiriman sebesar itu, Savic Ali menyadari:

"Sejak itu, saya baru merasa berasal dari keluarga miskin dan kampung saya berada di bawah garis kemiskinan."

Setelah itu, Syafi' mengambil cuti, dan selebihnya banyak aktif di pers mahasiswa Arena. Syafi' juga terlibat ikut di organisasi PMII, seangkatan dengan Kemal Fasya (Aceh).

Savic Ali saat itu memutuskan cuti kuliah, karena ayahnya wafat, sementara adiknya (A. Qomarudin, atau dipanggil Tole) juga kuliah, dan adik-adik yang lain ada di pondok.

Sebagai anak pertama, Savic Ali memikul tanggungjawab untuk meringankan beban orang tua.

Baca juga: Al Haris Jamu Presiden PKS Ahmad Syaikhu dalam Lawatannya ke Jambi

Sejak itu, Syafi' selain bergiat di Arena, juga menulis di berbagai media massa, baik resensi atau artikel, untuk menambah biaya hidup di Yogyakarta.

Ketika di Yogyakarta, pengetahuan Syafi' didodor-dodor dan dibuka, seperti diakuinya di Kompas: "Di IAIN pula frame saya tentang agama lain berubah. Dari sebelumnya cenderung paranoia terhadap agama lain, saya menjadi lebih terbuka. Di sini pengaruh Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) sangat signifikan. Gagasan pribumisasi Islam yang diwartakan Gus Dur membuka mata kami, bagaimana semestinya Islam diterapkan di Indonesia. Tanpa sosok Gus Dur, sulit membayangkan saya dan generasi muda NU umumnya bisa memiliki frame pluralistik seperti sekarang" (Kompas, 16 Mei, 2008).

Savic Ali kemudian memutuskan untuk pindah ke Jakarta belajar Filsafat Sosial di STF Driyarkara, pada periode 1996-1999.

Ketika keluar dari IAIN, dan masuk STF, pemahaman Syafi tentang agama-agal membuatnya lebih terbuka lagi dan mengalami langsung, dan meluaskan pergaulan dari sekadar di lingkaran santri tradisi.

la tak lagi hanya berkeinginan memperdalam pemahaman agama, melainkan tertarik pada sosiologi, filsafat, dan studi kultural.

Terlebih lagi, saat pindah ke Jakarta ini, Savic Ali aktif di Kelompok Studi 164 bersama yang lebih senior, seperti Ulil Abshor Abdalla, Elyasa KH Darwis, dan Chotibul Umam Wiranu; juga menjadi reporter Tabloid Warta NU, yang saat itu diterbitkan oleh PBNU pada masa Gus Dur.

Keaktifan di tabloid Warta NU, yang berkantor di Gedung PBNU, mengawalinya untuk aktif di PBNU. Syafi' sebagai orang yang datang dari daerah, tidak canggung-canggung lagi masuk gedung PBNU, yang harus memakai lift itu.

Dua persentuhan, di IAIN-STF dan di lingkaran Islam tradisi ini, menjadikan Savic Ali memiliki pergaulan yang luas, tetapi pada saat yang sama, ia mengaku tidak aka meninggalkan NU.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved