Profil dan Biodata Tokoh
Sosok Savic Ali, Aktivis 98 yang Kritik Budiman Sudjamiko Temui Prabowo: Perumus 9 Nilai Gus Dur
Inilah Sosok Syafiq Alielha atau Savic Ali, Aktivis 98 yang mengkritik Budiman Sudjatmiko lantaran temui Prabowo Subianto
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
TRIBUNJAMBI.COM - Inilah Sosok Syafiq Alielha atau kadang disebut Syafi' saja alias Savic Ali, Aktivis 98 yang mengkritik Budiman Sudjatmiko lantaran menemui Prabowo Subianto.
Budiman dan Savic merupakan mantan aktivis yang gencar memperjuangankan reformasi pada tahun 1998.
Saat itu pemerintahan Indonesia dipimpin oleh Soeharto sebagai presiden yang telah menjabat selama 32 tahun.
Savic Ali dikenal sebagai pegiat gerakan di kalangan anak muda Nahdliyin.
Bahkan dia juga terlibat dalam perumusan 9 Nilai Utama Gus Dur bersama beberapa sahabat yang lain.
Savic Ali juga terlibat dalam beberapa eksperimen lain di bidang digital.
Sementara dalam dunia gerakan mahasiswa 98 atau dikenal dengan istilah Aktivis 98, Savic Ali juga sangat dihormati karena keterlibatannya di dalam Forkot, Famred, dan FPPI.
Dilansir dari bangkitmedia.com, Savic Ali merupakan kelahiran Tayu, Pati pada 21 November 1974 silam.
Dia merupakan anak dari Ali Hamdan dan Ibu Karsi.
Dari pasangan itu, Savic Ali memiliki 4 saudara, yaitu: A Qomaruddin, Hani Rasyidah, A Khoroni,dan Laili Husniyah.
Baca juga: Savic Ali Pertanyakan Nalar Pergerakan Budiman Sudjatmiko Puji Prabowo Subianto: Apa Sih Budiman Ini
Baca juga: Hasil Survei Elektabilitas Al Haris, Syarif Fasha dan Romi Harianto Jelang Pilkada Jambi 2024
Baca juga: Gegara Masalah Asrama, Pemuda di Kota Jambi Tega Aniaya Teman Wanitanya hingga Masuk Rumah Sakit
Sebagai orang yang lahir di Pati, Savic Ali sangat lekat dengan tradisi santri dan pesantren.
Sang ayah, Ali Hamdan, dulu nyantrinya di Pondok Mbah Fadhol Senori.
Menurut cerita sang ibu, ketika zaman bayi, Savic Ali dibawa ke Mbah Fadhol, dan Mbah Fad ngendiko "Anakmu iki nakal” Mendengar cerita seperti itu dari ibunya, Syafi' hanya tertawa dan mesam-mesem saja.
Ayahnya kemudian menjadi guru madrasah dengan usaha sampingan membuka warung kelontong, sedangkan Karsi, sang ibu, menjadi guru sekolah dasar.
Di Pati, sejak kecil, Savic Ali sudah diminta ngaji oleh orang tuanya agar menjadi orang mengerti dasar-dasar agama dan ilmu-ilmu pesantren.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.