Kisah Insipiratif Kepala BPJS Kesehatan Jambi, Dukungan Suami dan Keluarga Sangat Berarti
Lika-liku liku pekerjaan dilewati Sri Widiastuti dengan tidak mudah, proses sangat panjang dilalui hingga dapat berada pada posisi seperti saat inu
Penulis: Danang Noprianto | Editor: Rahimin
Setelah 10 tahun menjadi asisten mananger, akhirnya pada 2018 dirinya kembali dapat kesempatan promosi menjadi PLH Kepala Cabang di Katanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Ya, dirinya kembali ke kampung di Sumatera Utara, meskipun berbeda kabupaten jarak tempuh ke rumah orang tuanya sekitar 3 jam perjalanan.
Sri Widiastuti dihadapkan pada situasi yang sulit, karena pada 2014 dirinya kembali melahirkan putra keduanya, yang artinya pada saat dipindahkan ke Katanjahe putra keduanya tersebut baru berusia 4 tahun dan harus merasakan jauh dari sang suami.
"Memang kemarin waktu bertugas disana nggak bawa keluarga, karena masih kecil nanti kasian penyesuaiannya," ungkapnya.
6 bulan menjadi PLH akhirnya definitif pada 2019.
Menjadi kepala kantor cabang Katanjahe menjadi tantangan yang sangat luar biasa bagi dirinya, karena harus meninggalkan suami dan kedua putranya.
Sri Widiastuti tetap menyempatkan pulang ke Jambi setidaknya satu kali dalam sebulan untuk bertemu keluarga kecilnya terebut.
Momen paling sedih pada saat pandemi, dirinya tidak bisa pulang ke Jambi karena ada pembatasan perjalanan baik darat maupun udara.
Dirinya harus menahan rasa rindu selama 7 bulan tidak bertemu suami dan kedua putranya.
Baca juga: BPJS Kesehatan Kenalkan Program Pendanaan Masyarakat Peduli JKN
"Jadi waktu dinyatakan pertama kali pandemi dan tidak dibolehkan penerbangan perjalanan darat dan udara ada 7 bulan tidak bertemu keluarga," ujarnya.
Ditambah lagi pada saat lebaran harus rela tidak bersama dengan keluarga kecilnya di Jambi, meskipun bisa lebaran dengan kedua orang tuanya di Deli Serdang, namun rasa rindu kepada suami dan anak tentu membuat dirinya tetap sedih.
Bukan hanya cerita tersebut, lika-liku selama 2 tahun 9 bulan di Kabanjahe membuat dirinya menyadari arti pentingnya kebersamaan dengan keluarga dan berupaya menyiapkan waktu untuk bertemu keluarga di Jambi sebulan sekali.
Perjalanan dari Kabanjahe ke bandara Kualanamu di Medan memakan 3 jam, pernah dalam sebulan ia tidak pulang ke Jambi.
Sebab, jika musim tidak bersahabat banyak terjadi longsor di wilayah antara Kabanjahe dan Medan yang menyebabkan dirinya tak bisa melintas dan harus merelakan tak berangkat ke Jambi hingga dirinya dibuat menangis.
Selain itu, Selama di Kabanjahe juga dirinya merasakan dua kali erupsi gunung Sinabung bahkan gempa.
Soal tidur di bandara menunggu jadwal penerbangan, itu sudah sering dilakukan oleh Sri, karena dirinya berangkat ke Jambi hari Jumat, dan jadwal penerbangan paling malam jam 8/9 malam, transit di Jakarta jam 11/12.
"Pesawat pertama dari Jakarta ke Jambi kan jam 06.00 pagi, jadi tidur di bandara, di mushola, di kursi tunggu, tapi banyak kawannya itu yang awalnya kita takut kan, apalagi kita cewek nanti ada pikiran negatif itu," ungkapnya.
Sri Widiastuti sering merasakan ngantuk saat di kantor ketika baru pulang dari Jambi, karena Minggu sore dari Jambi lewat jalur udara dan lanjut darat sampai Kabanjahe dini hari.
Bahkan Sri Widiastuti sempat takut naik pesawat karena ada kecelakaan pesawat Lion air.
Terpikir setiap dirinya akan naik apakah bisa bertemu dengan anak-anaknya lagi. Hal tersebut membuatnya merasa cemas dan was-was .
Namun dirinya hanya bisa berdoa karena takdir Tuhan sudah ditentukan dapat datang kapan saja.
Lika-liku yang dialami Sri Widiastuti menurutnya merupakan sebuah perjuangan, karena dirinya sudah memilih maka harus siap resiko, tak ada pilihan menyerah.
Dirinya bisa sukses seperti ini tentu ada dukungan dari suami yang sangat luar biasa, karena dirinya memandang setiap perempuan yang berhasil ada peran suami yang mendukung di belakangnya.
"Alhamdulillah dukungan keluarga itu luar biasa banget, kalau keluarga tidak memberi kekuatan, suami memberikan kepercayaan mungkin kalau kami perempuan tidak mungkin bisa mencapai ke level seperti ini," ungkapnya.
Baca juga: CATAT Ini 21 Layanan yang tak Ditanggung BPJS Kesehatan, Di antaranya Kosmetik
Menurutnya, perempuan yang sudah bersuami pasti harus diridoi oleh suaminya, juka suami tidak ridho maka tidak mungkin perempuan bisa berjalan sukses.
Meskipun kadang dirinya berpikir kenapa cari rezeki sampai seperti ini, untuk anak, tapi anak malah ditinggalkan, namun dirinya mengingat perjuangan teman-temannya bahwa dirinya lebih beruntung, karena ada yang lebih sulit dari dirinya.
"Jadi ya saya merasakan temen-temen ads yang beda pulau dengan keluarganya, perjuangan yang dialami untuk ketemu keluarga lebih berat," ucapnya.
Perjalanan yang dialami itu bisa menjadi modal bagi dirinya menghadapi teman-teman yang mengalami nasib yang sama ditugaskan di daerah yang jauh dari keluarga.
Pengalaman yang ia miliki ini bisa memberikan motivasi meskipun masih ada yang lebih susah karena ditempatkan di lokasi terpencil.
Sri Widiastuti sangat merasa bersyukur ketika diterima di Askes (BPJS) selain dapat pengalaman pertama naik pesawat juga mendapat kesempatan melihat wilayah-wilayah yang jauh sampai ke desa-desa pelosok Indonesia.
"Itu sebenarnya ya keuntungan juga, kalau nggak gitu kita gak mengenal wilayah kita ini, bersyukur ya Allah gak nyangka ya aku bisa melihat tempat orang lain, ya meskipin itu hutan, karena kalau bukan karena ini nggak bakal pernah nyampai kesana," ungkapnya.
Baca berita terbaru Tribunjambi.com di Google News
Baca juga: Sebelum Kepesertaan Dinonaktifkan, Begini Cara Cek Denda Iuran BPJS Kesehatan