Kisah Insipiratif Kepala BPJS Kesehatan Jambi, Dukungan Suami dan Keluarga Sangat Berarti
Lika-liku liku pekerjaan dilewati Sri Widiastuti dengan tidak mudah, proses sangat panjang dilalui hingga dapat berada pada posisi seperti saat inu
Penulis: Danang Noprianto | Editor: Rahimin
Ada kisah inspiratif di balik menjadi orang sukses. Ada lika-liku dan proses panjang yang dilalui hingga bisa menjadi orang sukses
Sri Widiastuti saat ini bisa dikatakan seorang wanita yang sukses. Sri Widiastuti saat ini menjadi Kepala Kantor Cabang BPJS Kesehatan Jambi.
Sri Widiastuti mendapat SK menjadi Kepala Kantor Cabang Jambi sejak Januari 2021 dan pindah ke Jambi pada Februari 2021 hingga saat ini.
Di balik kesuksesan Sri Widiastuti itu semua ternyata terdapat kisah yang sangat inspiratif.
Lika-liku liku pekerjaan dilewati Sri Widiastuti dengan tidak mudah, proses sangat panjang dilalui hingga dapat berada pada posisi yang seperti saat ini.
Sri Widiastuti lahir di Desa Sidodadiramonia, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara, 3 November 1981 silam di lingkungan yang mayoritas warganya merupakan para petani.
Sri Widiastuti Anak pertama dari tiga bersaudara yang tinggal di perkampungan ini sejak kecil tidak pernah terfikir saat besar nanti akan menjadi apa. Sebab, teman-temannya semasa sekolah banyak yang langsung melamar pekerjaan, hanya segelintir yang mau melanjutkan ke jenjang perkuliahan.

Beruntung Sri Widiastuti memiliki teman-teman yang membawa pengaruh positif sejak SMP hingga SMA dan akhirnya memiliki keinginan untuk lanjut berkuliah.
Kedua orang tua Sri Widiastuti sangat mendukung keinginan anaknya tersebut. Namun, saat ingin mendaftar kuliah Sri Widiastuti kembali dibingungkan dengan pilihan jurusan serta kampus tempat dirinya akan belajar.
Ssang Ayah justru memberikan saran yang menarik, yakni jurusan kesehatan masyarakat, karena yang ada di fikiran sang ayah jurusan tersebut bisa membawa dirinya menjadi kepala puskesmas.
"Waktu menentukan jurusan itu juga bingung, apa yang mau dipilih, akhirnya bapak yang kasih masukan, 'pilih kesehatan masyarakat aja, karena bisa jadi kepala puskesmas,' karena dulu taunya orang desa seperti itu," kata Sri Widiastuti kepada Tribunjambi.com.
Akhirnya Sri Widiastuti niatkan dalam dirinya mendaftar, berkat doa kedua orang tuanya saat mengikuti tes UMPTN, akhirnya dirinya lulus di jurusan Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara angkatan 2000.
Baca juga: Pastikan Badan Usaha Bayar Iuran Tepat Jumlah, BPJS Kesehatan Jambi Lakukan Pemeriksaan Khusus
Masa perkuliahan Sri Widiastuti lalui dengan baik hingga akhirnya pada akhir Desember 2004 dirinya dapat menyelesaikan jenjang perkuliahan dan mendapat gelar S.KM.
Selesai kuliah dirinya Sri Widiastuti dibingungkan dengan pertanyaan mau dibawa kemana ijazah dan ilmu yang sudah didapat ini.
Pada akhirnya Sri Widiastuti mencoba mencari pekerjaan dengan memasukkan lamaran pekerjaan ke peusahaan dengan latar belakang pendidikan, salah satunya ia masukan ke GP Farmasi.
"Saya masuk-masukin lamaran ke GP Farmasi, semuanyalah yang sesuai dengan latar belakang pendidikan waktu itu," ujarnya.
Tak lama, Sri Widiastuti diajak satu teman yang merupakan anak PNS untuk melamar pekerjaan ke Askes (BPJS sebelum berganti nama).
"Ada teman yang dia anak PNS, dia nanya, mau ke Askes gak ngelamar? Askes itu apa? Saya tanya, Gak tau saya waktu itu namanya juga di kampung, dia karena anak PNS jadi tau karena orang tuanya peserta Askes. Askes itu apa? Udah ikut ajalah kita masukan lamaran, katanya," ucap Sri menjelaskan percakapannya.
Baca juga: Ini Alasan Pentingnya Mendaftar Kartu BPJS Kesehatan Jauh-jauh Hari
Akhirnya Sri Widiastuti memasukan lamaran ke Askes masa perekrutan 2005. Prosesnya lama karena saat ini masih manual, ada 6 tahap yang harus dilewati untuk bisa lulus di Askes.
Proses seleksi ini memakan waktu yang cukup panjang yaitu 6 bulan, karena setiap bulan untuk satu tahap, Sri Widiastuti mengikuti proses seleksi ini di kedeputian regional Askes yang saat itu berada di Kota Medan.
Proses 6 bulan yang Sri Widiastuti ikuti tersebut ternyata tak sia-sia, dan dinyatakan lolos dalam tes dan berhasil mendapatkan SK pada Oktober 2005.
Lagi-lagi, Sri Widiastuti bimbang, karena SK yang ia terima saat ini menempatkan dirinya untuk bekerja di kantor cabang Jambi.
Artinya Sri Widiastuti harus meninggalkan kedua orang tuanya yang ada di Deli Serdang untuk merantau ke Jambi.
Padahal Sri Widiastuti belum pernah pergi merantau ke luar Provinsi Sumut, bahkan tidak terbayang Jambi itu seperti apa.
"Dulu nggak kebayang Jambi itu gimana, jadi itulah nggak pernah merantau, taunya kos pertama di Medan waktu kuliah, jadi bingung," ucapnya.
Sri Widiastuti berdiskusi dengan kedua orang tuanya, yang menyerahkan semua keputusan kepada Sri sendiri, jika Sri yakin dan mampu kedua orang tuanya akan mendukung.
Dengan pertimbangan yang sangat matang akhirnya dirinya memutuskan untuk merantau ke Jambi, karena itu merupakan resiko pekerjaan yang sudah dipilih.
Sebab, jika dirinya mengundurkan diri maka akan dikenakan denda sebesar Rp 10 Juta, dan pada 2005 nominal tersebut cukup besar dan ia serta orang tuanya tak memiliki uang sebanyak itu.
Berangkat Ke Jambi menjadi pengalaman pertama dirinya naik pesawat terbang dalam hidupnya.
Berangkat menggunakan pesawat dari Medan ke Pekanbaru karena harus melapor ke Kepwil.
Tak sendiri, Sri Widiastuti terbang menggunakan pesawat Merpati ke Pekanbaru dan dilanjutkan menggunakan travel ke Jambi bersama dua teman lainnya yang juga lolos di Askes dan ditempatkan di Jambi.
Sri Widiastuti menceritakan kedua teman satu angkatannya tersebut saat ini menjadi kepala kantor cabang Batanghari dan lainnya kepala kantor cabang Padang.
Awal sampai Jambi saat masih di kendaraan dirinya sempat berfikir karena melihat rumah-rumah panggung di sepanjang jalan di Sekernan.
"Kok Jambi kayak gini, banyak rumah panggung, berarti kos-kosanku rumah panggung kayak gini nanti," kata Sri Widiastuti mengenang pikirnanya saat itu.
Ternyata pikiran tersebut salah saat dirinya masuk ke Kota Jambi.
Kemudian dirinya mendapat SK definitif atau menjadi pegawai tetap pada 2006 dan menjabat sebagai staf verifikator Askes komersial.
Tak butuh waktu lama, dua tahun berselang pada 2008 dirinya mendapat kesempatan promosi menjadi Asisten Manajer (setara Kepala Seksi) dan langsung definitif ditempatkan ke kantor Cabang Muaro Bungo.
Berselang tiga tahun pada 2011 ternyata Sri Widiastuti mendapatkan jodohnya di Jambi, ia menikah pada 2011 dengan pria dambaannya.
Setahun berselang pada 2012 Sri Widiastuti melahirkan putra pertamanya.
Baca juga: Pembiayaan Kesehatan Pasien Jantung Tembus Rp7,7 Triliun, BPJS Kesehatan Alokasikan Rp8 Triliun
Ini merupakan tantangan pertama dirinya karena sang suami bekerja di Kota Jambi dan dirinya di Bungo, dirinya harus kuat karena dalam kondisi hamil dan jauh dari suami.
Bahkan, saat sudah melahirkan dirinya juga harus mengurus putra pertamanya tersebut sendiri di Bungo.
Satu tahun setelah putra pertamanya lahir, akhirnya pada September 2013 dirinya dipindahkan kembali ke kantor cabang Jambi masih dengan posisi yang sama.
Dirinya menjabat sebagai kasi kepesertaan dan pelayanan pelanggan, menjelang Askes berganti nama menjadi BPJS Kesehatan tugasnya bertambah karena ada fungsi pemasaran.
"Jadi September 2013 ke Jambi lagi dengan posisi sama, dulu kasi ganti nomenklatur jadi kabag, Kabag pemasaran," ungkapnya.
Setahun berada di pemasaran, 2014 dirinya diangkat menjadi kabid, kabid penjaminan manfaat primer dengan tugas mengurus puskesmas, klinik, dengan dinas kesehatan yang berhubungan dengan pelayanan primer atau pelayanan tingkat pertama.
Setelah 10 tahun menjadi asisten mananger, akhirnya pada 2018 dirinya kembali dapat kesempatan promosi menjadi PLH Kepala Cabang di Katanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Ya, dirinya kembali ke kampung di Sumatera Utara, meskipun berbeda kabupaten jarak tempuh ke rumah orang tuanya sekitar 3 jam perjalanan.
Sri Widiastuti dihadapkan pada situasi yang sulit, karena pada 2014 dirinya kembali melahirkan putra keduanya, yang artinya pada saat dipindahkan ke Katanjahe putra keduanya tersebut baru berusia 4 tahun dan harus merasakan jauh dari sang suami.
"Memang kemarin waktu bertugas disana nggak bawa keluarga, karena masih kecil nanti kasian penyesuaiannya," ungkapnya.
6 bulan menjadi PLH akhirnya definitif pada 2019.
Menjadi kepala kantor cabang Katanjahe menjadi tantangan yang sangat luar biasa bagi dirinya, karena harus meninggalkan suami dan kedua putranya.
Sri Widiastuti tetap menyempatkan pulang ke Jambi setidaknya satu kali dalam sebulan untuk bertemu keluarga kecilnya terebut.
Momen paling sedih pada saat pandemi, dirinya tidak bisa pulang ke Jambi karena ada pembatasan perjalanan baik darat maupun udara.
Dirinya harus menahan rasa rindu selama 7 bulan tidak bertemu suami dan kedua putranya.
Baca juga: BPJS Kesehatan Kenalkan Program Pendanaan Masyarakat Peduli JKN
"Jadi waktu dinyatakan pertama kali pandemi dan tidak dibolehkan penerbangan perjalanan darat dan udara ada 7 bulan tidak bertemu keluarga," ujarnya.
Ditambah lagi pada saat lebaran harus rela tidak bersama dengan keluarga kecilnya di Jambi, meskipun bisa lebaran dengan kedua orang tuanya di Deli Serdang, namun rasa rindu kepada suami dan anak tentu membuat dirinya tetap sedih.
Bukan hanya cerita tersebut, lika-liku selama 2 tahun 9 bulan di Kabanjahe membuat dirinya menyadari arti pentingnya kebersamaan dengan keluarga dan berupaya menyiapkan waktu untuk bertemu keluarga di Jambi sebulan sekali.
Perjalanan dari Kabanjahe ke bandara Kualanamu di Medan memakan 3 jam, pernah dalam sebulan ia tidak pulang ke Jambi.
Sebab, jika musim tidak bersahabat banyak terjadi longsor di wilayah antara Kabanjahe dan Medan yang menyebabkan dirinya tak bisa melintas dan harus merelakan tak berangkat ke Jambi hingga dirinya dibuat menangis.
Selain itu, Selama di Kabanjahe juga dirinya merasakan dua kali erupsi gunung Sinabung bahkan gempa.
Soal tidur di bandara menunggu jadwal penerbangan, itu sudah sering dilakukan oleh Sri, karena dirinya berangkat ke Jambi hari Jumat, dan jadwal penerbangan paling malam jam 8/9 malam, transit di Jakarta jam 11/12.
"Pesawat pertama dari Jakarta ke Jambi kan jam 06.00 pagi, jadi tidur di bandara, di mushola, di kursi tunggu, tapi banyak kawannya itu yang awalnya kita takut kan, apalagi kita cewek nanti ada pikiran negatif itu," ungkapnya.
Sri Widiastuti sering merasakan ngantuk saat di kantor ketika baru pulang dari Jambi, karena Minggu sore dari Jambi lewat jalur udara dan lanjut darat sampai Kabanjahe dini hari.
Bahkan Sri Widiastuti sempat takut naik pesawat karena ada kecelakaan pesawat Lion air.
Terpikir setiap dirinya akan naik apakah bisa bertemu dengan anak-anaknya lagi. Hal tersebut membuatnya merasa cemas dan was-was .
Namun dirinya hanya bisa berdoa karena takdir Tuhan sudah ditentukan dapat datang kapan saja.
Lika-liku yang dialami Sri Widiastuti menurutnya merupakan sebuah perjuangan, karena dirinya sudah memilih maka harus siap resiko, tak ada pilihan menyerah.
Dirinya bisa sukses seperti ini tentu ada dukungan dari suami yang sangat luar biasa, karena dirinya memandang setiap perempuan yang berhasil ada peran suami yang mendukung di belakangnya.
"Alhamdulillah dukungan keluarga itu luar biasa banget, kalau keluarga tidak memberi kekuatan, suami memberikan kepercayaan mungkin kalau kami perempuan tidak mungkin bisa mencapai ke level seperti ini," ungkapnya.
Baca juga: CATAT Ini 21 Layanan yang tak Ditanggung BPJS Kesehatan, Di antaranya Kosmetik
Menurutnya, perempuan yang sudah bersuami pasti harus diridoi oleh suaminya, juka suami tidak ridho maka tidak mungkin perempuan bisa berjalan sukses.
Meskipun kadang dirinya berpikir kenapa cari rezeki sampai seperti ini, untuk anak, tapi anak malah ditinggalkan, namun dirinya mengingat perjuangan teman-temannya bahwa dirinya lebih beruntung, karena ada yang lebih sulit dari dirinya.
"Jadi ya saya merasakan temen-temen ads yang beda pulau dengan keluarganya, perjuangan yang dialami untuk ketemu keluarga lebih berat," ucapnya.
Perjalanan yang dialami itu bisa menjadi modal bagi dirinya menghadapi teman-teman yang mengalami nasib yang sama ditugaskan di daerah yang jauh dari keluarga.
Pengalaman yang ia miliki ini bisa memberikan motivasi meskipun masih ada yang lebih susah karena ditempatkan di lokasi terpencil.
Sri Widiastuti sangat merasa bersyukur ketika diterima di Askes (BPJS) selain dapat pengalaman pertama naik pesawat juga mendapat kesempatan melihat wilayah-wilayah yang jauh sampai ke desa-desa pelosok Indonesia.
"Itu sebenarnya ya keuntungan juga, kalau nggak gitu kita gak mengenal wilayah kita ini, bersyukur ya Allah gak nyangka ya aku bisa melihat tempat orang lain, ya meskipin itu hutan, karena kalau bukan karena ini nggak bakal pernah nyampai kesana," ungkapnya.
Baca berita terbaru Tribunjambi.com di Google News
Baca juga: Sebelum Kepesertaan Dinonaktifkan, Begini Cara Cek Denda Iuran BPJS Kesehatan