Liputan Khusus

Kisah Pertobatan Pembalak Liar di Taman Nasional Berbak Sembilang

ilogal logging. Taman Nasional Berbak Sembilang. TN Berbak. liputan khusus. liputan eksklusif. TNBS. TNKS.

Penulis: Abdullah Usman | Editor: Andreas Eko Prasetyo
TRIBUN JAMBI/ABDULLAH USMAN
HASILKAN MADU - Peternak lebah madu di kawasan sekitar Taman Nasional Berbak Sembilang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, menunjukkan alat produksi. 

SETELAH bertahun-tahun mengambil kayu secara ilegal di kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang, BS akhirnya bertobat. Meski sempat berdarah-darah, kini dia cukup bisa menikmati kehidupan berkawan dengan ribuan bahkan belasan ribu lebah.

Bisa dikatakan, menjadi pembalak liar menjadi mata pencaharian sebagian warga sekitar taman nasional secara turun-temurun. Tapi pandangan itu akhirnya bisa dipatahkan BS, mantan pembalak liar.

BS mengenang dirinya, sejak usia anak sekolah dasar hingga belasan tahun diajak orang tuanya ke hutan kawasan TN Berbak untuk memotong pohon besar. Kala itu diameter kayu sangat besar, sangat lebat dan rindang daunnya.

Kini, memang pohon ukuran itu masih ada, tapi tidak sebanyak dahulu yang bisa dijumpai di pinggir perbatasan kawasan.

"Bisa dikatakan, pembalakan liar di kawasan TNB merupakan pekerjaan turun-temurun yang seperti sudah menjadi pekerjaan tradisi, terutama bagi warga Desa Telago Limo kala itu, " ujar BS, Jumat (11/3).

Baca juga: Serunya Menelusuri Kawasan Hutan di TNBS Yang Sempat Tandus Akibat Karhutla

Baca juga: Ini Langkah TNBS Cegah Karhutla Melibatkan 10 Desa Penyangga

Pada 2010-an, BS mengaku pernah menjadi bagian dari pembalak liar yang menggantungkan nasib dengan merambah hutan lindung. Meski tidak rutin, namun penghasilan sekali turun ke hutan cukup menjanjikan. "Kalau ibarat kata itu, seminggu bekerja hasilnya bisa dinikmati hingga satu bulan ke depan, " ujarnya.

"Makanya ini kayak mata pencarian yang sangat menjanjikan, meski harus bertaruh nyawa dan risiko. Tapi itu dulu," sambungnya.

Sekali turun, pundi jutaan rupiah sudah pasti di tangan. Belum lagi jika kayu-kayu tersebut sudah berhasil keluar dari hutan, tentu akan mendapat tambahan. "Terlebih jika satu pohon diameternya lebih dari tiga meter, tentu tambah banyak kayu yang dihasilkan, tambah besar pula uangnya," ujar BS.

Meski terbilang jadi pekerjaan turun temurun, bukan berarti tanpa risiko. Dalam beberapa kesempatan, BS dan rekannya kerap tertangkap tangan oleh petugas. Akhinya kucing-kucingan pun jadi hal wajar. "Bagaimanapun, warga lokal punya kelebihan selangkah dari petugas. Kerap lolos lah, nggak jera nggak," katanya.

Tapi semuanya berubah pada 2019-2020. Dia dan beberapa rekannya menyatakan pensiun dari dunia pembalakan liar. BS sempat merantau untuk menguji nasib di luar Jambi. Namun, akhirnya dia balik lagi hingga kini menjadi pembudi daya madu lebah yang digagas BRGM dan juga TNBS di kampungnya.

Sebagai warga lokal dan asli sekitar kawasan TNBS, BS paham benar paham penyebab illegal logging masih marak terjadi. Faktor utamanya kebutuhan ekonomi, biaya hidup dan kurangnya lapangan pekerjaan.

"Seandainya ada pilihan lain bagi masyarakat, baik itu lapangan pekerjaan atau penghasilan yang pasti, mungkin mereka juga nggak mau balik ke hutan yang penuh risiko," ungkapnya.

Meski sudah lepas dari aktivitas pembalakan liar, bukan berarti lepas dari masalah. Kini, budidaya madu yang telah dijalankan beberapa tahun mulai kurang maksimal hasil pengolahannya. Penyebabnya, selain pasokan nutrisi madu yang semakin sulit, penghasilan pun tergantung cuaca.

Baca juga: Ini Tanggapan Pihak TNBS Soal Harimau Masuk Kampung Warga Sadu Tanjabtim

Baca juga: Sepanjang 2021 Sebanyak 13 Hotspot Terpantau di Dekat TNBS Tanjabtim

"Jika musim penghujan selama tiga bulan, selama itu pula kita tidak bisa panen madu. Tentu berdampak pada ekonomi warga," jelas BS.

Selain itu, program lahan kemitraan yang saat ini ada juga belum maksimal, meski warga sudah menyiapkan semua persyaratan untuk mengelola lahan TNB tersebut. "Program budidaya madu itu memang bagus. Tapi kalau untuk sekarang, kurang tepat. Kalau bisa diganti dengan bibit perkebunan ataupun mengaktifkan lahan," harapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved