Berita Internasional

Wuhan Kembali Diserang Covid-19, Tes Corona Besar-besaran Sampai Digelar hingga Warga Panik

Kota Wuhan, China kembali jadi sorotan kembali atas kasus Covid-19 yang kembali mewabah ke wilayah itu.

AFP/HECTOR RETAMAL
Para staf di Rumah Sakit Palang Merah Wuhan, China, Sabtu (25/1/2020), menggunakan pelindung khusus, untuk menghindari serangan virus corona yang mematikan. 

Wisatawan dari Nanjing ini diperkirakan telah mengunjungi kota itu baru-baru ini.

Pejabat kesehatan juga menduga klaster ini muncul dari sebuah teater di Zhangjiajie.

Sekarang otoritas ini berusaha melacak sekitar 5.000 orang yang menghadiri pertunjukan itu yang kemudian akan melakukan perjalanan kembali ke kota asal mereka.

"Zhangjiajie sekarang telah menjadi titik nol baru untuk penyebaran epidemi China," ujar Zhong Nanshan, seorang pakar penyakit pernapasan terkemuka China.

Warga Wuhan, Provinsi Hubei, China tengah, membeli bahan kebutuhan di supermarket Selasa (3/8/2021), ketika pihak berwenang akan melakukan uji Covid-19 terhadap seluruh warga kota itu.
Warga Wuhan, Provinsi Hubei, China tengah, membeli bahan kebutuhan di supermarket Selasa (3/8/2021), ketika pihak berwenang akan melakukan uji Covid-19 terhadap seluruh warga kota itu. (AFP)

Kasus penularan lokal baru ini juga telah mencapai Ibu Kota Beijing.

Inggris: Program Vaksinasi Mungkin Berlanjut karena Kemanjuran Vaksin Berkurang Seiring Waktu

Ilmuwan Inggris juga mengatakan bahwa perlindungan dari vaksin terhadap virus corona dan mutasi yang lebih kuat kemungkinan besar akan berkurang seiring berjalannya waktu.

Sehingga, pada program vaksinasi Covid-19 ini akan berlanjut selama bertahun-tahun yang akan datang.

"Sangat mungkin bahwa vaksin yang menginduksi kekebalan terhadap infeksi SARS-CoV-2, dan penyakit yang berpotensi parah (tetapi mungkin pada tingkat yang lebih rendah) akan berkurang seiring waktu," bunyi pada ringkasan dari dokumen yang dipertimbangkan oleh Kelompok Penasihat Ilmiah untuk Keadaan Darurat (SAGE), dikutip dari Reuters.

SAGE juga merupakan kelompok penasihat pemerintah Inggris terkait pandemi Covid-19.

"Oleh karena itu, kemungkinan akan ada program vaksinasi terhadap SARS-CoV-2 selama bertahun-tahun yang akan datang."

"Tetapi saat ini kami tidak tahu frekuensi optimal yang diperlukan untuk vaksinasi ulang guna melindungi mereka yang rentan dari Covid-19," bunyi dari laporan itu.

Dokumen bertajuk "How long will vaccines continue to protect against COVID?" ditulis oleh ahli virus dan epidemiolog terkemuka dari Imperial College London, Universitas Birmingham, dan Public Health England.

Diketahui Inggris sedang menggunakan tiga jenis vaksin untuk program vaksinasi nasional.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Kaltim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved