Gambangan, Kesenian Leluhur Desa Jambi Tulo Tentang Keselarasan Alam
Dengan kerja keras sanggar yang kini dikelolanya bersama Adi dan beberapa warga desa lainnya, Edwar mulai memperkenalkan gambang ke masyarakat luas.
Penulis: Dedy Nurdin | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
TRIBUNJAMBI COM, JAMBI - Sebagai daerah penyangga keberadaan Candi Muaro Jambi, Desa Jambi Tulo menyimpan banyak kekayaan budaya dan kesenian tradisional. Salah satunya adalah Gambang.
Alat musik yang sering dimainkan warga disela aktifitasnya menunggu padi menguning di umo (Sawah). Alat musik ini sangat sederhana, terbuat dari kayu mahang. Namun, dapat menghasilkan nada-nada yang enak didengar.
Bahkan gambang sudah terdaftar sebagai warisan budaya tak benda Kementrian Kebudayaan RI tahun 2019 sebagai identitas lokal alat kesenian di Kabupaten Muaro Jambi.
Baca juga: Tiga Pegawainya Terpapar Covid-19, Pelayanan di Kantor Samsat Kota Jambi Ditutup Sementara
Adi Ismanto, salah satu pengurus Gerakan Murojambi Bezakat (GMB) yang kini fokus mengembangkan seni dan tradisi lama di desa Jambi Tulo mengatakan, Gambang saat ini termasuk alat kesenian yang terancam hilang jika tidak dijaga.
Alasannya karena selain tak ada lagi regenerasi pemain, orang-orang yang biasa membuat alat kesenian ini juga hanya tinggal beberapa orang dengan usia tua.
Baca juga: Kasus Covid-19 di Provinsi Jambi Selasa (8/12/2020) Bertambah 77, Sembuh 21, Meninggal 1
"Gambang kesenian tradisional desa Jambi Tulo yang kini jarang ditemukan. Maka itu kami mencoba menghidupkan kembali," kata Adi, Selasa (8/12/2020).
Gambang kata Adi biasanya dimainkan satu orang sambil bersenandung pada saat musim tanam padi. Mengisi waktu disela menjaga tanaman, warga biasanya menyenandungkan syair tentang alam sembari memainkan gambang.
Baca juga: SEDANG TAYANG! ILC TV One Selasa 8 Des 2020: Kasus Mensos Juliari Batubara Dikupas Malam Ini
Gambang juga kerap dimainkan bersama alat kesenian lainnya, untuk senandung gambang biasanya identik dengan syair pujian terhadap pemilik alam dan rasa syukur. Biasanya disenandungkan oleh kaum perempuan.
Seiring dengan kemajuan zaman dan berkembangnya alat musik, gambang kini mulai ditinggalkan. Disamping mulai banyak pemain gambang yang meninggal tanpa ada regenerasi.
Kerusakan alam juga membuat para seniman gambang sulit mencari bahan baku. Proses pembuatan gambang dibutuhkan isting yang kuat dari senimannya, kayu mahang pilihan dikeringkan.
"Proses pembentukannya disesuaikan dengan daya imajinasi dari penyenandung gambang. Mereka biasanya mencocokkan bunyi dengan senandung syair. Bila kurang pas maka akan dipapas kayunya sampai sesuai dengan yang diinginkan senimannya," kata Adi Isnanto.
"Makanya berbeda dari pembuatan alat musik lainnya, gambang mencocokkan nada dengan senandung, bukan malah sebaliknya," kata Adi.
Gambang yang lazim dimainkan terdiri dari tujuh buah kayu dilengkapi dengan sebilah kayu pemukulnya.

"Tapi sekarang sulit karena bahan bakunya (kayu mahang) mulai jarang ditemukan di sekitar desa. Kalau tidak didukung pemerintah bisa jadi 10 tahun lagi gambang sudah tidak ada," ujar Adi.
Edward Sasmita, seniman gambang desa Jambi Tulo mengatakan meski cukup sinpel namun memainkan gambang terbilang gampang-gampang susah.