Sejarah Indonesia

Kisah Pak Harto Gugup Saat Terima Surat Ini hingga Lengser dari Kursi Kepresidenan, Merasa Ditinggal

Kisah Pak Harto Gugup Saat Terima Surat Ini hingga Lengser dari Kursi Kepresidenan, Merasa Ditinggal

Editor: Andreas Eko Prasetyo
(KOMPAS/EDDY HASBY)
Mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR, menuntut Presiden Soeharto untuk mundur dari jabatan Presiden, pada Mei 1998. 

Presiden Soeharto bertemu dengan para ulama dan tokoh masyarakat pada pukul 09.00 WIB - 11.32 WIB.

Kemudian, Presiden Soeharto mendeklarasikan akan segera mengadakan re-shuffle Kabinet Pembangunan VII sekaligus mengganti namanya menjadi Kabinet Reformasi.

Bahkan, Presiden Soeharto sempat membentuk Komite Reformasi.

Pada sore harinya, Nurcholish menuturkan bahwa gagasan reshuffle kabinet dan membentuk Komite Reformasi itu murni gagasan Soeharto dan bukan usulan mereka.

5 dari 31 Pembawa Paksa Jenazah PDP Corona di Makassar Dinyatakan Reaktif Rapid Test

Dalam pertemuan yang dibuat kala itu, sudah menujukkan tanda-tanda Soeharto akan mengundurkan diri.

Adapun dua orang tidak setuju bila Soeharto dinyatakan mundur dari jabatannya karena menurutnya kemunduran Soeharto tidak akan menyelesaikan masalah yang ada pada saat itu.

Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita bersama dengan Memperindag Mohammad Hasan melaporkan kepada Presiden masalah kerusakan jaringan distribusi ekonomi akibat aksi penjarahan dan pembakaran pada pukul 16.30 WIB.

Saat itu mereka bersama dengan Menteri Pendayagunaan BUMN Tanri Abeng yang melaporkan soal rencana penjualan saham BUMN yang beberapa peminatnya menyatakan mundur.

Ngebetnya Rangga Azof Mau Jadi Pasangan Cut Syifa di Web Series Omen Gantikan Verrell Bramasta

Bandara Sultan Thaha Jambi Layani Tiga Maskapai Hari Ini

Penambahan Kasus Baru Covid-19 Capai 1.241, Ini 5 Provinsi Penyumbang Kasus Terbanyak!

Menko Ekui pun menyebut adanya reaksi negative para senior ekonomi: Emil Salim, Soebroto, Arifin Siregar, Moh Sadli dan Frans Seda, atas rencana Soeharto yang membentuk Komite Reformasi dan melakukan reshuffle kabinet.

Kesimpulannnya, mereka menyebut tindakan itu mengulur-ulur waktu.

Tanggal 20 Mei 1998

14 menteri bidang ekuin mengadakan pertemuan di Gedung Bappenas tepat pukul 14.30 WIB,

Dua menteri lain, yakni Mohamad Hasan dan Menkeu Fuad Bawazier tidak hadir.

Mereka sepakat tidak bersedia duduk dalam Komite Reformasi, ataupun Kabinet Reformasi hasil reshuffle.

Hajar Pria Bule yang Mengganggunya, Ini Alasan Mahasiswa Indonesia di AS Mau Ladeni Perkelahian Itu

Semula ada keinginan untuk menyampaikan hasil pertemuan itu secara langsung kepada Presiden Soeharto, tetapi akhirnya diputuskan menyampaikannya lewat sepucuk surat.

Surat itu kemudian disampaikan kepada Kolonel Sumardjono pada pukul 20.00 WIB. Surat itu kemudian disampaikan kepada Presiden Soeharto.

Soeharto langsung masuk ke kamar dan membaca surat itu. Soeharto saat itu benar-benar terpukul. Ia merasa ditinggalkan.

Apalagi, di antara 14 menteri bidang Ekuin yang menandatangani surat ketidaksediaan itu, ada orang-orang yang dianggap telah "diselamatkan" Soeharto.

Nagita Slavina Ngaku Tak Kenal Ayu Ting-ting, Begini Reaksi Kocak Raffi Ahmad

Alinea pertama surat itu, secara implisit meminta agar Soeharto mundur dari jabatannya.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved