KISAH Burhan Kampak, Si Algojo Pembantai PKI: Mengaku Sering Datang ke Kostrad Untuk Minta Peluru
TRIBUNJAMBI.COM - Tanggal 30 September pada 1965 silam, tragedi yang dikenal dengan G 30S PKI meletus.
Hingga pucaknya saat G30 S PKI terjadi, Burhan ikut terjun dan melakukan perlawanan pada PKI.
Baca: Tiga Bawaslu Tolak Tandatangan NHPD, Anggaran yang Diberi Dinilai Tak Cukup
Baca: DPRD Sarolangun Resmi Miliki Ketua Defenitif Periode 2019-2024, Tantowi Dilantik Jadi Ketua DPRD
Baca: Pelajar dan Mahasiswa di Kota Jambi, Terima Bantuan Pendidikan BAZNAS Kota Jambi
Sebagai staf satu dalam Laskar Ampera Aris Margono dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia, Burhan memiliki lisensi untuk membunuh "License to kill"
Setidaknya ada 10 orang yang diberi pistol dan dilatih.
Mereka diberi pistol berjenis FN, lalu, Burhan seringkali datang ke markas Kostrad yang bertempat di Gedung Wanitatama, Yogya untuk minta peluru.
Dia beroperasi di daerah Luweng, Gunungkidul, kemudian Klaten.
Baca: Kompleks Candi Muaro Jambi sebagai Mahavihara, Ini Kata Arkeolog Universitas Indonesia
Baca: Polisi Berusaha Pukul Mundur Massa di Pejompongan dan Slipi, Sesekali Ada Perlawanan dan Yel-yel
Baca: Road Show AJI Kota Jambi, Ngobrolin Fesmed 2019 di Tribun Jambi
Baca: Bupati Safrial Lepas Asisten yang Masuk Masa Pensiun, Amdani Sampaikan Terimakasih
Ketika mengeksekusi pada malam hari, para tereksekusi ditutup matanya kemudian didorong dari tebing ke aliran sungai yang mengalir ke pantai selatan Jawa.
Kemudian, di Kaliwedi sebelah barat Klaten, sebelum melakukan eksekusi warga membuat parit sepanjang 100 hingga 200 meter untuk menaruh anggora PKI dan simpatisannya.