Belajar Sistem Pernafasan, Siswa di Kota Jambi Bawa Ikan Hidup dan Mati

Pelatihan pembelajaran, manajemen sekolah dan budaya baca diikuti 150 guru, kepala sekolah, pengawas, dosen LPTK Universitas Jambi dan UIN STS Jambi.

Belajar Sistem Pernafasan, Siswa di Kota Jambi Bawa Ikan Hidup dan Mati
Tribunjambi/Nurlailis
Siswa di SDN 47 Kota Jambi mengamati alat pernafasan ikan. 

Belajar Sistem Pernafasan, Siswa di Kota Jambi Bawa Ikan Hidup dan Mati

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI -Pelatihan pembelajaran, manajemen sekolah dan budaya baca diikuti 150 guru, kepala sekolah, pengawas dan dosen LPTK Universitas Jambi dan UIN Sulthan Thaha Saifuddin. Pelatihan ini diadakan Tanoto Foundation pada Program PINTAR (Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran).

Kegiatan berlangsung di Hotel Abadi Suite Jambi 25-29 Agustus 2019. Ada juga praktik mengajar yang diadakan di SDN 47 Kota Jambi, SDN 131 Kota Jambi dan SMP 7 Muarojambi pada 28 Agustus 2019.

Salah satu yang menarik adalah sejumlah guru dan dosen melakukan praktik mengajar dengan membawa ikan mas dan mujaer untuk pembelajaran siswa di SDN 47 Kota Jambi. Mereka mengamati alat pernafasan ikan dengan mengalami langsung. Sehingga siswa mengetahui bentuk insang, jumlah lapisan insang dan warna insang dengan cara memotong kepala ikan dan membelahnya menjadi dua bagian. 

Alat dan bahan yang digunakan adalah ikan hidup dan mati, pisau, sarung tangan plastik, dan toples besar berisi air untuk ikan hidup.

Baca: 150 Fasilitator Daerah dan Dosen Mengikuti Pelatihan Program PINTAR

Baca: Tak Juarai Kejuaraan Dunia BWF 2019, Bagaimana Peringkat Marcus/Kevin? Berpengaruh atau Tidak

Baca: HEBOH - Sebut Kerajaan Sriwijaya Fiktif, Ridwan Saidi Diprotes Sejarawan Hingga Gubernur Sumsel!

Baca: Siapa Sebenarnya Widya? Mahasiswi dalam Thread Twitter Cerita Horor KKN di Desa Penari

“Sengaja kita bawa dua ikan, untuk pengamatan secara langsung, ” ujar Issaura Sherly Pamela, dosen PGSD Universitas Jambi yang juga langsung praktik menjadi guru.

Selain mendapatkan materi IPA, dalam pembelajaran tersebut juga termuat muatan Bahasa Indonesia, tentang mengidentifikasi informasi yang terkait pertanyaan ADIKSIMBA (Apa, Dimana, Kapan, Siapa, Mengapa, Bagaimana) dilakukan dengan “bermain dadu pertanyaan” tentang ikan. Perwakilan anggota kelompok melempar dadu untuk kelompok sebelah. Ketika siswa sudah dapat kata tanya dari dadu tersebut, maka siswa kelompok lainnya harus menjawab. 

“Akhir kegiatan sebelum refleksi, setiap kelompok mempresenstasikan hasil diskusinya di depan kelas,” tambah Sherly.

Ujang Sukandi, Head of Teaching and Learning Tanoto Foundation menyampaikan sejauh ini kendala dari guru adalah belum terbiasa dengan metode seperti ini.

“Contohnya dalam mata pelajaran matematika, yang biasa digunakan adalah penjelasan rumus, contoh penggunaan rumus dan latihan soal. Sekarang rumus itu ditemukan olah anak. Jadi itu kendalanya, biasanya memberitahu sekarang harus menggali sendiri dari anak. Kemampuan menggali ini yang harus dibiasakan dari pengajar,” paparnya.

Kepala sekolah SDN 47 Kota Jambi, Ansori berterima kasih karena perubahan yang tampak setelah satu tahun masuknya program tonoto foundation terutama kreativitas guru dalam mengajar.

“Jika sebelumnya monoton sekarang jadi lebih aktif dan menyenangkan. Dari hal lainnya juga hadirnya pojok baca di SDN 47. Gerakan literasi sekolah ini bukan hanya pada waktu-waktu tertentu namun ada setiap waktu karena hadirnya ditiap kelas,” pungkasnya. (nurlailis)

Penulis: Nurlailis
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved