Universitas Jambi Turun Peringkat ke 66, Begini Penjelasan WR I Unja

Kemenristekdikti mengumumkan klasterisasi perguruan tinggi Indonesia tahun 2019. Universitas Jambi berada diurutan ke 66.

Universitas Jambi Turun Peringkat ke 66, Begini Penjelasan WR I Unja
Tribunjambi/Nurlailis
Wakil Rektor I, Prof.Dr. Ir. H. RA Muthalib, M.S. 

Universitas Jambi Turun Peringkat ke 66, Begini Penjelasan WR I Unja

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengumumkan klasterisasi perguruan tinggi Indonesia tahun 2019. Universitas Jambi (Unja) di 2019 ini berada diurutan ke 66 yang artinya mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu 54.

Wakil Rektor I, Prof.Dr. Ir. H. RA Muthalib, M.S mengatakan penilaian dari Kemenristekdikti memang sangat ketat dan dari banyak aspek. Seperti prosentase jumlah dosen berpendidikan S3, prosentase jumlah lektor kepala dan guru besar, dan rasio mahasiswa terhadap dosen.

“Kalau di perguruan tinggi diatas 30 persen, di Unja sendiri belum mencapai 30 persen. Dosen dalam jabatan lektor kepala dan guru besar di Unja masih sedikit yaitu sekitar 40. Sedangkan di perguruan tinggi lain itu sudah mencapai diatas 100,” ungkapnya.

Baca: Fakultas Kedokteran Unja Adakan Pemeriksaan Pap Smear Gratis

Baca: Enam Hotel Bintang Tiga di Kota Jambi Terima Sertifikasi Berbintang

Baca: Kejati Tunggu BPK Pilih Ahli untuk Ungkap Kasus Beasiswa Pemprov Jambi

Baca: BREAKING NEWS, Rektor UIN STS Jambi Bungkam Usai Diperiksa Penyidik Kejati

Mengenai hal ini ia mengatakan ada program rektor untuk menggenjot kekurangan dengan mengadakan percepatan guru besar. Jadi lektor ini diminta untuk mengadakan penelitian yang didanai universitas.

“Bagi dosen-dosen baru juga diminta untuk menulis di jurnal internasional. Sebenarnya item-item ini mempengaruhi rangking tadi,” ujarnya.

Mengenai rasio mahasiswa terhadap dosen juga termasuk mahasiswa asing. Di Unja sendiri belum ada mahasiswa asing sekalipun dari tingkat Asia. Disamping itu juga dihitung dosen asing yang mengajar di Unja, dan hal ini belum terjadi di Unja.

“Memang dulu pernah ada fakultas peternakan bekerja sama dengan salah satu universitas di Jepang dengan program pertukaran mahasiswa dari 2014-2019. Namun untuk sekarang belum ada kelanjutan lagi karena disana sedang pergantian rektor baru,” jelasnya.

Selain itu akreditasi universitas dan program study juga mempengaruhi penilaian. Persyaratan akreditasi prodi 30 persen harus A, saat ini Unja baru ada 5 prodi yang akreditasi A. Sedang untuk akreditasi B juga sudah banyak di Unja.

Memang untuk persyaratan mendapat akrditasi A di universitas, prodi dengan akreditasi C jumlahnya masih 23 karena Unja punya 50an program mandat. Sehingga Unja ada 88 prodi namun disisi lain tidak ada penerimaan dosen baru. Hal ini membuat sedikit kualahan di akreditasi.

“Aspek penilaian lainnya kerjasama perguruan tinggi luar negeri. Ini banyak dilakukan seperti fakultas hukum bekerja sama dengan salah satu univ di Thailand, peternakan dengan salah satu univ di Jepang, FKIP juga bekerjasama dengan salah satu univ di Thailand,” pungkasnya. (lai)

Penulis: Nurlailis
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved