Gajah di Lanskap Bukit Tigapuluh Terdesak Pendatang, Butuh Peran Swasta Selamatkan Gajah Jambi

Pertengahan Juli 2019 yang lalu, seekor gajah betina yang diberi nama Karina mati dalam proses translokasi dari lansekap Bukit Tiga Puluh.

Gajah di Lanskap Bukit Tigapuluh Terdesak Pendatang, Butuh Peran Swasta Selamatkan Gajah Jambi
ist
Kawanan gajah di Tebo, Jambi. 

Gajah di Lanskap Bukit Tigapuluh Terdesak Pendatang, Butuh Peran Swasta Selamatkan Gajah Jambi

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pertengahan Juli 2019 yang lalu, seekor gajah betina yang diberi nama Karina (berusia lebih kurang 50 tahun) mati dalam proses translokasi dari lanskap Bukit Tiga Puluh di Kabupaten Tebo ke wilayah Hutan Harapan, Batanghari.

Laporan dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi menyebutkan jika Karina mati akibat stres saat dilakukan upaya penyelamatan itu.

Berbagai faktor memengaruhi tingkat populasi gajah. Seperti pada kasus Karina, gajah betina ini disebut sudah sangat lama tidak hidup berkelompok dengan gajah lain. Karina hidup menyendiri selama kurang lebih 10 tahun. Semakin berkurangnya populasi gajah bisa jadi alasan Karina harus menjadi gajah soliter selama bertahun-tahun.

Konflik dengan manusia juga menjadi ancaman besar bagi keberadaan mamalia besar ini. Tercatat pada 2018 di Jambi terdapat 286 kasus konflik gajah dan manusia.

BKSDA Jambi bersama berbagai pihak mengupayakan wilayah habitat dan jelajah gajah jadi kawasan ekosistem esensial. Di lanskap Bukit Tiga Puluh sebagian besar wilayah jelajah gajah merupakan kawasan hutan produksi. Di sana terdapat sejumlah perusahaan yang memegang izin konsesi. Sehingga peran swasta sangat krusial dalam upaya menyelamatkan populasi gajah yang tersisa.

Baca: Di Hari Lebaran Idul Adha 1440 H, 3 Orang di Jambi, Hilang Terseret Sungai Batanghari

Baca: Download Lagu MP3 Sholawat Paling Merdu Nissa Sabyan, Habib Syech, Gus Azmi, Haddad Alwi Full Album

Baca: Kejar-kejaran di Jalan Raya, Polisi Tembak Ban Mobil yang Bawa 250 Kg Ganja, Lalu Ini yang Terjadi

Baca: Begini Modus Pengedar Ganja 250 Kg yang Ditangkap Ditresnarkoba Polda Jambi, Pakai 2 Unit Mobil

Semakin sempitnya luas jelajah gajah terkadang memaksa mamalia besar ini harus berjalan cukup jauh untuk mencari asupan makanan dan minuman. Beberapa waktu lalu diketahui ada tiga ekor gajah Sumatera yang mendekati pemukiman penduduk di wilayah Batanghari, Jambi.

BKSDA menyebutkan, gajah yang keluar dari kelompoknya untuk mencari sumber air.

Gajah merupakan satwa yang sangat bergantung pada air. Seekor gajah Sumatera membutuhkan air minum sebanyak 20-50 liter per hari dan mampu mengisap 9 liter air dalam satu kali isap.

Menurut Kepala BKSDA Jambi Rahmad Saleh, Gajah merupakan hewan penjelajah, ia mampu menjelajah hingga 7 kilometer semalam. Bahkan saat musim kering atau musim buah-buahan di hutan, daya jelajahnya mencapai 15 kilometer per hari. Maka tak jarang gajah berpapasan dengan manusia saat mencari air atau makanan. Konflik kadang harus terjadi saat gajah masuk ladang warga ataupun sebaliknya.

Halaman
123
Penulis: Jaka Hendra Baittri
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved