Gajah di Lanskap Bukit Tigapuluh Terdesak Pendatang, Butuh Peran Swasta Selamatkan Gajah Jambi
Pertengahan Juli 2019 yang lalu, seekor gajah betina yang diberi nama Karina mati dalam proses translokasi dari lansekap Bukit Tiga Puluh.
Penulis: Jaka Hendra Baittri | Editor: Teguh Suprayitno
Dengan keadaan ini, kawanan gajah mau tidak mau keluar dari habitat aslinya. Dan tidak jarang ini memicu konflik dengan manusia. Selama 2018 saja, terjadi sekitar 286 konflik.
Untuk menanggulangi hal itu, BKSDA akan menggiring kemampuan masyarakat agar mandiri dalam penangananan konflik. "Kemarin sudah kita bentuk, tapi belum dilatih. Mungkin September ini kita latih," kata dia.
Selain itu, pihak BKSDA berencana untuk mengembangkan kawasan ekowisata minat khusus. "Seperti melihat atraksi satwa liar," kata Rahmad.
Gajah juga merupakan mamalia darat terbesar yang ada di dunia. Sayangnya, dewasa ini populasi gajah semakin menurun tiap tahunnya. Padahal, gajah merupakan mamalia yang cerdas dan cinta damai. Hari Gajah Sedunia (World Elephant Day) ditetapkan oleh PBB sejak tanggal 12 Agustus 2012 untuk dirayakan setiap tahunnya.
Tujuan ditetapkannya Hari Gajah Sedunia adalah untuk memberi tahu dunia bahwa kelangsungan hidup gajah, terutama di daerah Asia dan Afrika, sudah terancam punah. Dengan adanya Hari Gajah Sedunia, diharapkan kepedulian masyarakat terhadap hidup gajah semakin meningkat.
Populasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) yang tinggal di dataran rendah, terutama di lokasi yang berdekatan dengan sungai, semakin sedikit. Di Sumatera, Gajah dipanggil Datuk Gedang. Disebut 'Datuk' karena menurut penuturan sesepuh terdahulu, gajah adalah jenis binatang yang mempunyai adat mirip dengan manusia.
Mereka tidak akan menggangu, jika tidak diusik. Mereka juga sudah lebih dahulu menjadi penguasa lahan yang saat ini sedang mereka perjuangkan. Hal tersebut membuat para orangtua terdahulu memanggil mereka dengan sebutan “Datuk”. Hingga panggilan tersebut, turun temurun sampai sekarang ini.
Saat ini hanya tersisa 2.400 hingga 2.800 individu Gajah Sumatera di alam. Kehidupan mereka terancam oleh perburuan, deforestasi, dan hilangnya habitat, serta konflik dengan manusia.
Baca: VIDEO: Polres Bungo Tangkap Pelaku Pembunuhan dan Perampokan di Dusun Sebrang Jaya
Baca: Timnas Indonesia vs Laos, Piala AFF U-18 2019 Live Streaming Sedang Berlangsung di SCTV Sekarang
Baca: 103 CPNS Ikuti Orientasi Calon Pegawai Negeri Sipil Dosen Universitas Jambi
Baca: Pasca Idul Adha 1440 H, Harga Cabai Merah di Pasar Kuala Tungkal, Tembus Rp 100 Ribu Per Kg
Sebagai mamalia besar yang harus dilestarikan keberadaannya, pemerintah, swasta dan masyarakat berperan dalam melindungi keberadaan gajah. Khususnya di Provinsi Jambi. Lansekap Bukit Tiga Puluh merupakan kantung populasi gajah tebesar di Sumatera Bagian Tengah yang menampung sekitar lebih kurang 120 gajah.
Dari pihak swasta, kata Rahmad, pada dasarnya perusahaan sudah ikut melakukan upaya pelestarian gajah. Tapi karena setiap perusahaan bergerak sendiri-sendiri jadi tidak terlalu terlihat. "Seperti LAJ (Lestari Asri Jaya) sudah mengalokasikan arealnya kurang lebih 10 ribu hektare untuk konservasi," kata Rahmad.
Sekarang, lanjutnya, harus dipisahkan antara kepentingan untuk habitat gajah dan kepentingan manusia. "Jangan saling mengganggu," kata dia.
BKSDA, kata dia, akan menyatukan semua stake holder, Pemerintah, masyarakat dan pihak swasta. Penyatuan itu dalam bentuk Kawasan Ekosesistem Esensial (KEE). ''Sekarang kita lagi susun masterplannya."
Dalam upaya pelestarian lingkungan dan satwa, pihak PT Lestari Asri Jaya (LAJ) membentuk Wildlife Conservation Area (WCA) yang terletak di area konsesinya. WCA ini merupakan inisiatif LAJ bersama WWF untuk perlindungan jangka panjang Gajah Sumatera.
Upaya yang dilakukan adalah dengan mengubah 9.700 hektare area terdegradasi menjadi area konservasi dan produksi. Kemudian, PT Lestari Asri Jaya juga bekerjasama dengan Balai TNBT untuk memperkuat kawasan penyangga TNBT melalui kegiatan perlindungan kawasan, pengawetan flora dan fauna, restorasi ekosistem dan pemberdayaan masyarakat. Dalam pengembangan KEE oleh BKSDA Jambi, WCA termasuk di dalamnya.