Kultum Ramadan

Makna Penciptaan Manusia

Salah satu ayat yang selalu kita baca, selalu kita dengar, baik disampaikan oleh guru-guru kita maupun kita dengar, atau kita saksikan di media

Penulis: Rara Khushshoh Azzahro | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Istimewa
Ustadz Anwar Sadat 

Oleh: Ustaz Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag. 

TRIBUNJAMBI.COM - Salah satu ayat yang selalu kita baca, selalu kita dengar, baik disampaikan oleh guru-guru kita maupun kita dengar, atau kita saksikan di media, atau kita sendiri yang membaca Alquran. Potongan ayat itu ialah: wama kholaqtal jinni Wal ins Ilal ya'budun. Allah tidak menjadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Allah SWT. 

Para ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan liya'budun iyalah ada dua hal: yang pertama berkaitan dengan ibadah kita hambanya kepada Allah. Apakah ibadah mahdhah secara langsung berupa sembahyang puasa haji, dan sebagainya. 


Lalu ada ibadah yang ghairu mahdhah, ibadah yang tidak langsung kita lakukan kepada Allah tetapi ibadah itu berdimensi sosial kemasyarakatan, lingkungan kita berbaik dengan manusia, berbaik dengan lingkungan, berbaik dengan alam dan sebagainya, kita niatkan menjadi bagian dari ibadah kita kepada Allah. 


Maka apabila dua hal ini kita lakukan, kita termasuk sesuai dengan apa yang kita cita-citakan. Sesuai dengan apa yang diprogramkan oleh sang pencipta kita iyalah Allah SWT. 


Nabi Yahya ketika beliau kecil, beliau berjalan dari rumah ke Baitul maqdis. Ketika itu beliau berusia 10 tahun, lalu ketika di perjalanan beliau diajak teman-temannya untuk bermain sebagaimana anak-anak pada umumnya yang usia pada waktu itu adalah usia bermain. Paragraf yang usia pada waktu itu adalah usia bermain.


Tetapi apa yang keluar dari mulut nabi Yahya as, justru ia mengatakan dengan teman-teman yang seusia dengan beliau pada waktu itu: bahwa aku diciptakan dan dijadikan oleh Allah SWT bukan untuk bermain seperti apa yang teman-teman ajak saya. 


Kita tidak bisa menyaksikan secara keseluruhan program Allah kepada manusia, tetapi nabi Yahya sejak kecil beliau sudah ditanamkan untuk selalu Istiqomah mantap menjalankan program yang diciptakan oleh Allah kepada beliau. 


Oleh karena itu muslimin dan muslimat, sebagaimana media HP dan sebagainya fungsi awalnya adalah ber berkomunikasi. Tetapi apabila, dia tidak bisa berfungsi lagi untuk berkomunikasi HP itu dianggap error dan sebagainya. 
Begitu juga manusia, Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepadanya. Kemudian manusia itu untuk kenal kepada Allah. Tetapi apabila dua hal ini tidak dilakukan oleh manusia maka manusia itu sendiri dianggap error. Manusia tidak lagi menjalankan sesuai dengan program yang diciptakan oleh Allah SWT. 

Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat sering kita dengar, beliau dalam ibadahnya kepada Allah sampai kakinya bengkak, sakit dan sebagainya. Padahal kita tahu bahwa beliau adalah orang yang sangat dekat dengan Tuhan. Sangat akrab dan selalu berkomunikasi. Tetapi apa yang dicontohkan beliau adalah sebuah pembelajaran yang bisa diikuti oleh umatnya. Beliau saja seorang nabi seperti itu apalagi kita sebagai umatnya yang jauh dari nilai-nilai kebaikan. Maka seyogyanya kita, lebih kuat dan lebih keras beribadah daripada Rasulullah SAW. 

Ini menegaskan kepada kita bahwasanya untuk tidak 

Makna Penciptaan Manusia
Oleh: Ustaz Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag.
Photo Insert: Anwar Sadat 

Salah satu ayat yang selalu kita baca, selalu kita dengar, baik disampaikan oleh guru-guru kita maupun kita dengar, atau kita saksikan di media, atau kita sendiri yang membaca Alquran. Potongan ayat itu ialah: wama kholaqtal jinni Wal ins Ilal ya'budun. Allah tidak menjadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Allah SWT. 

Para ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan liya'budun iyalah ada dua hal: yang pertama berkaitan dengan ibadah kita hambanya kepada Allah. Apakah ibadah mahdhah secara langsung berupa sembahyang puasa haji, dan sebagainya. 

Lalu ada ibadah yang ghairu mahdhah, ibadah yang tidak langsung kita lakukan kepada Allah tetapi ibadah itu berdimensi sosial kemasyarakatan, lingkungan kita berbaik dengan manusia, berbaik dengan lingkungan, berbaik dengan alam dan sebagainya, kita niatkan menjadi bagian dari ibadah kita kepada Allah. 

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved