Wawancara Eksklusif

Wawancara Eksklusif Eks Kabareksrim Ito Sumardi: Iptu Rudiana Penyelidik atau Bukan Harus Dibuktikan

Komjen (Purn) Ito Sumardi menilai masyarakat saat ini mengarah kepada Iptu Rudiana sebagai pembuat skenario setelah pernyataan saksi Dede.

Editor: Darwin Sijabat
TRIBUNNEWS/LENDY RAMADHAN
WAWANCARA EKSKLUSIF - Mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri, Komjen Pol (Purn) Ito Sumardi melakukan sesi wawancara eksklusif dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahedra Putra di Studio Tribun Network, Jakarta Pusat, Kamis (25/7). 

Di sini dibuktikan meskipun ada beberapa hal yang di beberapa daerah yang mungkin membuat masyarakat tidak percaya. Tapi kembalikan ada oknum, di polisi ada kode etik. Kode etik itu harus dipatuhi, kalau tidak ya hukumannya mulai dari hukuman disiplin, hukuman, sampai dengan hukuman pidana.

Baca juga: Jelang PK Saka Tatal, Mantan Kabareskrim Polri Sebut Tewasnya Vina Cirebon Kecelakaan Tunggal

Ini yang membuat kalau soal reserse itu ibaratnya kaki berdarah berada di kuburan, satu di penjara. Itu yang saya rasakan. Kita buat sudah baik, kita semua sudah selama ini sudah dicintai masyarakat, tiba-tiba saya berbuat sesuatu yang sangat memalukan polisi.

Hilang semua prestasi saya. Semua orang itu bermimpi jadi Reserse. Karena kalau Reserse itu ibaratnya seperti orang yang akan mendapatkan, mudah mendapatkan reward ya. Sekolah mereka berlomba-lomba, tapi untuk menjadi Reserse itu juga tidak gampang. Karena dia harus pandai lah Pak, harus cerdas.

Saya pengalaman baru menyelesaikan satu kasus, selesai ini masih ada DPO. Masa saya nungguin DPO? Saya sudah datang lagi kasus lain, harus ditangani. Datang lagi kasus lain. Padahal itu kasus kan semuanya prioritas. Jadi orang kadang-kadang tidak berpikir bahwa penanganan satu kasus tidak ditangani oleh satu orang atau satu tim. Tapi dia ditangani oleh satu tim, kemudian pada saat kasus datang lain, maka ini kasus menjadi prioritas kedua.

Kemudian ada kasus lain datang, ini menjadi prioritas yang selanjutnya gitu. Karena terus menurut datang ya kasus baru. Ibaratnya kalau jadi anggota Reserse itu, kalau misalnya, maaf ya kalau orang Jawa Timur itu bilang ‘enggak edan, alhamdulillah gitu loh’.

Untung gak edan. Dan rata-rata mereka sakit ya. Saya mengalami sakit dulu ya. Karena kita harus 24 jam. Gak ada tuh namanya kita ingin. Kalau ini setelah melakukan penyedikan, kita harus cari apa namanya tersangkanya.

Di mana-mana tempat. Tidak didukung dengan dana yang cukup. Tidak didukung dengan istilahnya.

Kadang-kadang kita udah bener jadi salah. Kadang-kadang yang kita hadapi itu di belakangnya gajah.

Ada juga ya gitu ya?

Oh banyak. Sehingga orang itu salah. Jadi kita mau bilang salah, ya nanti dulu lah. Daripada nanti besok lagi aku dicopot kan. Itu yang terjadi. (Tribun Network/Reynas Abdila)

Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Baca juga: Peduli dengan Masyarakat, TNI di Lokasi TMMD Gelar Cek Kesehatan Gratis

Baca juga: Pedagang di Jambi Tak Percaya Roti Okko yang Pernah Dijualnya Berbahaya

Baca juga: Prediksi Skor Indonesia U-19 vs Malaysia U-19 : Head to Head dan Starting XI, Kick off 19.30 WIB

Baca juga: 54 Kasus Kebakaran Terjadi di Kota Jambi mulai Januari hingga Juni 2024

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved