Breaking News:

Berita Merangin

Mashuri Sebut Sastra Lisan Ampek Ganjie Limo Gonop Lagi Dikaji

Sastra lisan Ampek Ganjie Limo Gonop dari Kecamatan Tabir Barat, Kabupaten Merangin akan dikaji vitalisasi sastranya. 

Istimewa
Wakil Bupati Merangin, Mashuri. Mashuri Sebut Sastra Lisan Ampek Ganjie Limo Gonop Lagi Dikaji 

Mashuri Sebut Sastra Lisan Ampek Ganjie Limo Gonop Lagi Dikaji

TRIBUNJAMBI.COM, BANGKO - Sastra lisan Ampek Ganjie Limo Gonop dari Kecamatan Tabir Barat, Kabupaten Merangin akan dikaji vitalisasi sastranya. 

Pengkajian itu dikatakan Wakil Bupati Merangin Mashuri, bertujuan untuk meneliti status daya hidup (vitalitas) sastra lisan daerah di suatu wilayah.

Usai menerima kunjungan Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra di ruang kerjanya, Mashuri mengatakan sastra yang dimiliki Kabupaten Merangin perlu kajian lebih dalam.

‘’Jadi tim ini nanti akan mengkaji lebih dalam terhadap sastra lisan Ampek Ganjie Limo Gonop. Mudah-mudahan kajian yang dilakukan nanti akan membawa manfaat bagi kita semua,’’ ujar wabup.

Kajian sastra lisan Ampek Ganjie Limo Gonop akan dilakukan oleh Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI.

E Aminudin Aziz selaku kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengatakan, status daya hidup sastra lisan daerah dikategorikan ke dalam beberapa status.

Pertama, ada status aman, kedua yakni rentan, dan ketiga mengalami kemunduran, keempat terancam punah, kelima kritis dan keenam punah. 

"Kita belum tahu Ampek Ganjie Limo Gonop masuk status mana, makanya kita kaji lebih dahulu,’’ terang E Aminudin.

Kegiatan pengkajian tersebut jelas E Aminudin akan dilaksanakan pada 27 Mei samapai 2 Juni 2021, melakukan observasi, wawancara mendalam, serta pembagian kuesioner kepada para penutur sastra lisan tersebut dan masyarakat setempat.

‘’Untuk itu, kami memohon dukungan dan bantuan bapak wabup dalam pelaksanaan kegiatan ini, sehingga bisa berlangsung lancar sesuai dengan yang ditargetkan,’’ pinta E Aminudin. 

Tradisi Ampek Gonjie, Limo Gonop, berkaitan dengan pantun berbalas yang dilakukan oleh muda-mudi (bujang gadis) desa setempat, dan dilakukan di talang/kebun/sawah pada saat hendak panen (ketalang Petang), dan dilaksanakan di talang, bukan di desa atau dalam rumah.

Jalan Menuju Kegiatan PWN 2021 Bakal Diperbaiki, Pemkab Batanghari Sediakan Anggaran Rp 13,6 Miliar

Ganjar Pranowo Tak Enak Hati Dibenturkan dengan Puan Seakan Berkonflik, Ini Kata Sang Gubernur

Kasus Perusakan Hutan, Syamsu Rizal: Ini Konsekuensi Politik Yang Harus Dihadapi

Tradisi itu diturunkan dari mulut ke mulut sejak nenek moyang orang Kibul. Namun sejak tahun 1980-an tradisi agar mengatur pergaulan anak muda agar sesuai adat istiadat mulai dilupakan. (Tribunjambi.com/ Darwin Sijabat)

Penulis: Darwin Sijabat
Editor: Rahimin
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved