Yusuf Mansur Unggah Video Brama Kumbara Ceritakan Marak Pembunuhan karena Miras,MUI: Kehilangan Arah
Ustaz Yusuf Mansur mengunggah video drama Brama Kumbara dalam akun Instagram-nya. Ini soal kekecewaan terhadap pemerintah yang melegalkan miras.
TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Usai pemerintah melegalkan minuman keras banyak warga yang kecewa dengan keputusan tersebut.
Apalagi para ulama yang mengungkapkan kekecewaannya, seperti Ustaz Yusuf Mansur yang meluapkan perasaannya lewat akun Instagram-nya.
Ustaz Yusuf Mansur mengunggah video serial drama Brama Kumbara dalam akun Instagram-nya @yusufmansurnew pada Selasa (2/3/2021).
Potongan video serial drama Brama Kumbara berdurasi 3.25 menit yang diunggah Ustaz Yusuf Mansur itu mengisahkan terkait beredarnya minuman keras (miras) di wilayahnya yang menjadi penyebab maraknya pelaku pembunuhan.
Unggahan video Brama Kumbara unggahan Ustaz Yusuf Mansur itu pun, langsung dibanjiri komentar netizen yang mengaitkan dengan kondisi Indonesia mengenai polemik investasi miras.
Baca juga: Remaja 17 Tahun di Banyumas Dinodai Dua Pemuda Kenalan dari Medsos, Korban Sempat Dicekoki Miras
Baca juga: Tanggapan Menteri Agama Saat Din Syamsuddin Disebut Radikal
"Wah... ini serial drama favorit... brama kumbara... Selamat melihat versi visualnya. yg seumur, pasti inget, hehehe. kuping ampe nempel di radio," tulis Ustaz Yusuf Mansur.
Dalam video tersebut tampak Prabu Angling Dharma tengah melakukan pembahasan mengenai beberapa kali pembunuhan dilakukan oleh para pemabuk.
Pembahasan tersebut dilakukan bersama jajarannya.
Saat itu wilayah mereka diresahkan oleh para pelaku pembunuhan yang dilakukan karena dipengaruhi minuman keras.
Lalu mereka mencoba mencari penyebab kenapa tiba-tiba banyak sekali pemuda yang mabuk-mabukan.
Di mana penjual miras juga menjamur berjualan di wilayahnya.
Mereka hendak menindak para penjual dan pembuat miras.
Baca juga: Siapa Zuhairi Misrawi Ini, Kader NU yang Berani Jawab Tantangan Fadli Zon Wakili Menteri Agama Yaqut
Namun, ada juga yang menyebut bahwa penjual dan pembuat miras itu membayar pajak yang cukup tinggi.
Sehingga dengan pajak tinggi itu bisa dilakukan pembangunan di wilayahnya.
Tapi hal itu juga menjadi penolakan karena dampak dari beredarnya miras, mempengaruhi watak dan perilaku konsumennya.
Yaitu terjadinya kekerasan akibat miras tersebut.