Berita Tanjabbar

Kisah Haru Sari Wahyuni Ketika Mendapat Pesan dari Pasien Sembuh dari Covid-19

Namun, jika sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas dan demi kepentingan orang banyak, maka menjadi bagian dalam penangganan Covid 19 adalah kewajiban.

Penulis: Samsul Bahri | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
zoom-inlihat foto Kisah Haru Sari Wahyuni Ketika Mendapat Pesan dari Pasien Sembuh dari Covid-19
ist
Sari Wahyuni, perawat di RSUD Daud Arif.

TRIBUNJAMBI.COM, KUALATUNGKAL - Menjadi garda terdepan dalam penangganan Covid-19 tidak lah mudah, resiko kematian adalah hal terburuk yang akan terjadi.

Namun, jika sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas dan demi kepentingan orang banyak, maka menjadi bagian dalam penangganan Covid 19 adalah kewajiban.

Inilah yang disampaikan oleh Sari Wahyuni, perempuan berusia 33 tahun ini mengambil keputusan untuk mendedikasikan kemampuannya sebagai perawat di RSUD Daud Arif Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjabbar.

Baca juga: Satgas Covid-19 Kerinci Gelar Briefing Soal Bentuk Posko di Setiap Desa

Baca juga: Cerita Sari Wahyuni, Kepala Tim Isolasi Pasien Covid-19 RSUD Daud Arif, Ini Misi Kemanusiaan

Baca juga: Nama Yasonna Laoly Disebut Napoleon Dalam Kasus Djoko Tjanda:Itu Permintaan APH Bukan Suka-suka Kita

Selama 11 tahun mengabdi menjadi seorang perawat di RSUD Daud Arif, kinerja Sari tentu tidak di ragukan lagi.

Di tengah situasi Pandemi ini, Ia bersama dengan rekan perawat lainnya harus berjibaku turun langsung dalam penangganan Covid 19.

Sari mengambil alih menjadi Kepala Tim Ruangan Isolasi Pasien Covid 19. Tidak hanya menjadi kepala tim, Ia juga turun langsung melakukan perawatan terhadap pasien yang terkonfirmasi Positif Covid 19.

"Saya sebagai perawat dan saya memiliki prinsip bahwa ketika memiliki kemampuan untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan maka gunakan kemampuan itu untuk orang banyak, jika berbicara soal resiko. Itu adalah konsekuensi dari keputusan saya menjadi perawat," tegasnya

Awal September hingga hari ini, Selasa (23/2/2021) Ia mengabdikan diri untuk merawat pasien positif Covid 19.

Sari sedikit bercerita tentang pengalaman Ia selama menjadi perawat untuk pasien Positif Covid 19.

Ia menyadari bahwa bertugas di ruangan isolasi yang banyak di takuti masyarakat membawa stigma ketakutan tersendiri ketika bertemu dengannya.

Namun hal itu Ia kesampingkan, Ia hanya merasakan ada kewajiban yang harus Ia lakukan.

Sari menyebutkan bahwa ada rasa bangga bercampur rasa haru jika pasien yang Ia rawat bisa pulang dan di nyatakan sehat kembali.

"Ketika pasien masuk (ruangan) dalam keadaan sesak berat, tidak sadar dan dengan begitu banyak lagi keluhan lain. Kami merasa itu adalah tugas dan amanah yang harus kami jalani," sebutnya

"Dengan keyakinan, kami selalu memberikan pelayanan kesehatan semaksimal mungkin. Ini adalah kewajiban kami, dan tugas kami adalah dengan penuh harapan ketika pasien masuk bahwa pasien akan pulang dengan keadaan yang sehat, dan itu yang terus kami yakini,"ungkapnya

Sari menyebutkan bahwa Ia pernah merawat seorang pasien yang datang dengan keadaan lemah, bahkan sulit diajak komunikasi.
Namun atas izin Tuhan pasien tersebut bisa sehat dan pulang kembali berkumpul bersama keluarga.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved