Amerika Terancam Perang, Trump Langsung Temui Kim Jong Un, Biden Pilih Cara Ini Hadapi Korea Utara
Hubungan Korea Utara dengan Amerika tengah menjadi sorotan jelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat.
Amerika Terancam Perang, Trump Langsung Temui Kim Jong Un, Biden Pilih Cara Ini Hadapi Korea Utara
TRIBUNJAMBI.COM - Hubungan Korea Utara dengan Amerika tengah menjadi sorotan jelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat.
Namun, sepertinya sejarah akan kembali berulang, Korea Utara akan mulai lakukan provokasi militer setelah Joe Biden resmi menjabat Presiden AS.
Seperti diketahui, kurang dari 3 bulan setelah Presiden Barack Obama menjabat, Korea Utara mengisi ulang roket jarak jauhnya, dan enam bulan berikutnya mereka laksanakan tes nuklir.
Pada tahun 2017 lalu, Korea Utara mengirim rudal balistik jarah menengah tiga minggu setelah inagurasi Donald Trump saat ia berada di Mar-a-Lago dengan Perdana Menteri Shinzo Abe, dan bulan Maret setelahnya mereka lakukan tes rudal balistik hampir setiap minggu.
Baca juga: Korea Utara Mengerikan, Pasien Covid-19 Dibiarkan Mati Kelaparan, Terbongkar Ini Tujuan Kim Jong Un
Baca juga: China Marah Amerika Selalu Ikut Campur, Tiongkok Nekat Lakukan Hal Berbahaya Ini, Akhirnya Ketahuan
Baca juga: Israel dan Amerika Terancam! Iran Bangun Fasilitas Nuklir Bawah Tanah, Joe Biden Didesak Lakukan Ini
Kini, denuklirisasi Korea Utara menjadi salah satu agenda yang tidak bisa dilewatkan oleh Gedung Putih.
Melansir War on The Rocks, ada beberapa pilihan yang bisa diambil Joe Biden dan administrasinya atas masalah ini.
1. Denuklirisasi standar
Pendekatan ini dilakukan dengan cara mencari denuklirisasi melalui akumulasi "perjanjian kecil-kecilan" daripada perjanjian skala besar.

Negosiasi ini mirip dengan yang dilakukan oleh Presiden Bill Clinton di tahun 1994 dengan nama Kerangka Kerja Disepakati Bersama, dan Presiden George W. Bush pada 2005 sampai 2007 yang dinamakan Pembicaraan Enam Partai.
Denuklirisasi cara ini terdiri dari langkah-langkah terkalibrasi dari setiap sisi meliputi membekukan operasi nuklir di kompleks nuklir utama di Yongbyon, dengan kompensasi penghapusan beberapa sanksi.
Cara ini disebut oleh China model "membekukan untuk membekukan".
Keuntungan dari pendekatan ini adalah lebih mudah dinegosiasi dan dijual secara lokal, karena negosasi besar biasanya berhadapan dengan tentangan dari warga Korea Utara yang merasa dirugikan program nuklirnya tidak dipakai lagi.
Masalahnya dari kebijakan ini adalah pendekatan ini biasanya hanya fokus ke poin-poin tertentu saja dan tidak bisa maju ke masalah berikutnya.
Baca juga: Kasus FPI Terbongkar, Hasil Uji Balistik Ungkap Senjata Api yang Digunakan Laskar FPI Pengawal HRS
Baca juga: Jagoan Megawati Terancam, Sandiaga Uno Benar-benar Masuk Kabinet Jokowi, PDIP Bisa Diganggu di 2024
Baca juga: Beraninya Gibran Putra Jokowi, Sebelum Dilantik Jadi Wali Kota Solo Janji Ini Pada Menteri
2. Model Libya