Amerika Terancam Perang, Trump Langsung Temui Kim Jong Un, Biden Pilih Cara Ini Hadapi Korea Utara
Hubungan Korea Utara dengan Amerika tengah menjadi sorotan jelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat.
Menilik sejarah ketika Muammar Gaddafi menyerahkan senjata penghancur massalnya di tahun 2003 lalu, model ini merupakan pendekatan yang menargetkan penahanan.
Fokusnya yaitu tekanan tingkat lebih tinggi dan koersi untuk mencapai denuklirisasi dalam diplomasi tunggal.
Salah satu yang berhasil melakukan kebijakan ini adalah mantan penasihat keamanan nasional John Bolton.
Ia menuntut langkah denuklirisasi tunggal oleh satu pihak (Korea Utara).
Strategi ini menerapkan tekanan sanksi maksimum dan ancaman aksi militer preventif yang berguna melumpuhkan pemimpin Pyongyang agar melihat jika mereka justru lebih aman tanpa senjata-senjata nuklir tersebut.
Bedanya dengan model sebelumnya, negosiasi ini diwarnai dengan deklarasi penuh dan penyimpanan senjata-senjata nuklir Korea Utara, bahkan sebelum mereka dibekukan.
Rasionalisasinya adalah untuk menunjukkan jika satu pihak memang sudah dibekukan.
Meski jadi salah satu kebijakan paling mudah, kebijakan ini juga menjadi satu yang paling sulit.
Gaddafi saat itu tidak memiliki satupun senjata nuklir saat ia dibekuk, sedangkan Kim Jong-Un punya banyak.
Serta, Kim bisa belajar mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Gaddafi setelah ia berikan semua senajtanya.
Biden kemungkinan akan memilih opsi ini jika Korea Utara benar-benar lakukan provokasi di awal tahun 2021 setelah inagurasinya.
Sementara itu, China dan Korea Selatan akan memprotes hal ini karena timbulkan guncangan di semenanjung Korea.
Meski begitu, Jepang akan mendukung penuh jika hal ini memang berhasil mendenuklirisasi penuh Korea Utara.
3. Model Trump
Cara selanjutnya adalah menggunakan para pemimpin untuk saling berkomunikasi.
