Paguyuban di Garut Bikin Heboh, Ganti Lambang Negara dan Cetak Uang Sendiri, Punya 13 Ribu Anggota
Ada paguyuban di Garut, Jawa Barat menjadi sorotan. Namanya Paguyuban Tunggal Rahayu.
Salah satu yang dinilai menyimpang oleh Ai adalah perubahan ayat Alquran. Kalimat Bismillah diganti menjadi Al-Bismillah oleh pimpinan paguyuban.
Ai yang masuk jadi anggota sejak bulan Agustus 2020 menilai ada kejanggalan dari paguyuban itu. Selama menjadi anggota, Ai belum dipungut bayaran.
Namun dari informasi anggota lain, ada biaya pendaftaran sebesar Rp 100 ribu untuk membuat kartu anggota. Selain itu, ada juga biaya pembuatan sertifikat pendanaan sebesar Rp 600 ribu.
Ai sempat tertarik karena dijanjikan mendapat sejumlah keuntungan berupa uang. Namun janji itu tidak terbukti hingga kini.
"Yang masuknya duluan itu ada pungutan untuk jadi anggota. Alasannya buat dipakai kartu anggota terus ada juga untuk jaminan bantuan," ucapnya.
• Full Download Lagu Mp3 Minang Terbaru 2020, Lengkap dari Ovhi Firsty hingga Ipank Feat Kintani
• Anies Baswedan kembali Berlakukan PSBB Total DKI Jakarta, Berapa Lama Hal Ini Idelnya Berlangsung?
• Jadwal MotoGP San Marino 2020 Dimulai Hari Ini 11 September 2020, Live Streaming dan Siaran Langsung
Aktivitas Paguyuban Tunggal Rahayu di Kecamatan Cisewu disebut sudah sepi.
Kantor Paguyuban Tunggal Rahayu berada di Kampung Cigentur, Desa/Kecamatan Cisewu.
\Menurut mantan anggotanya, sudah tak ada aktivitas yang dilakukan. Pimpinan paguyuban pun tak diketahui keberadaannya
"Saya enggak tahu di mana sekarang Cakraningrat itu. Di Cisewu katanya juga sudah tak ada aktivitas," ujar Amas (37), warga Cisewu, Rabu kemarin.
Terkait adanya perubahan lambang negara, Amas tak mengetahuinya. Ia menyebut hanya pimpinan Prof Dr Ir Cakraningrat yang mengetahui soal lambang paguyuban.
"Enggak tahu soal lambang negara yang diubah. Saya juga baru dengar pas ramai sekarang," katanya yang sudah bergabung sekitar satu tahun.
Ia tertarik bergabung karena dijanjikan medapat deposito emas. Untuk menjadi anggota, Amas dikenakan iuran sebesar Rp 100 ribu.
Robiah (40), mantan anggota lainnya menyebut jika aktivitas di paguyuban biasanya sering membahas soal peningkatan ekonomi.
Pimpinan paguyuban juga kerap membicarakan soal bantuan sosial dan pengajian.
"Paling suka tawasulan. Kalau pertemuan rutin yang ngomongin soal ekonomi biar lebih baik," ujarnya.
Artikel ini telah tayang di tribunjabar.id dengan judul Sutarman Mengaku Tak Ubah Lambang Negara, Tegaskan Hanya Meluruskan Garuda Pancasila