Berita Nasional

Aksi Kopassus Hadapi 3.000 Pemberontak Kongo, Ide Mistis Gunakan Kain Putih Sukses Perdaya Musuh

Aksi Kopassus Hadapi 3.000 Pemberontak Kongo, Ide Mistis Gunakan Kain Putih Sukses Perdaya Musuh

Editor: Andreas Eko Prasetyo
Patriot Bangsa
Kopassus 

TRIBUNJAMBI.COM - Menterengnya nama Komando Pasukan Khusus (Kopassus) berkat aksi tumpas teroris di Bandara Thailand yang sangat melegenda.

Ya cerita satu ini saat Kopassus menghadapi 3000 pemberontak di Kongo.

Kisah prajurit Kopassus (Komando Pasukan Khusus) terpaksa pakai cara mistis usir 3000 pemberontak Kongo cuma 30 menit.

Sebagai pasukan elit, Kopassus diharapkan dapat menyelesaikan misi sesulit apapun, termasuk dalam misi kemanusiaan dan membantu masyarakat yang tertindas. 

Ini Syarat Lengkap Untuk Penumpang Bisa Naik Pesawat Garuda, Lion Air dan Citilink saat New Normal

Sudah Jadi Bos BUMN, Mantan Kapolri Badrodin Haiti Muncul dengan Penampilan Baru, Bikin Pangling

Bahas Peningkatan Pelayanan Publik, Ombudsman Silaturahmi ke Kediaman Bupati Masnah Busro

Kopassus juga diajarkan melakukan penyamaran sempurnah demi mengecoh lawan bahkan jika harus melakukan hal mistis demi kemenangan. 

Seperti kisah berikut, ketika Kopassus terpaksa harus menggunakan kemampuan mistis demi mengusir pemberontak Kongo, Afrika. 

Kejelian melihat medan ditopang mental baja tak takut mati, Kopassus bahkan bisa menghancurkan markas pemberontak dengan ribuan prajurit. 

Kopassus
Kopassus (Tribunnews)

Mantan Kades Bukit Talang Mas Kabupaten Sarolangun Dihukum Lima Tahun Penjara

120 Perwira Tinggi Polri Dimutasi Kapolri Idham Azis, Dua Wakapolda Ini Alih Jabatan

Ratusan Pelanggan PDAM Tirta Batanghari Diputus

Bukan sekedar nekat, apa yang mereka lakukan penuh perhitungan bahkan begitu lihai melihat peluang. 

Cerita ini dilansir dari pemilik akun Kaskus, Agung Mina.

Dalam artikel yang ditulisnya berujudul LES SPIRITESSES - Kisah Kontingen Garuda III di Kongo, 1962, menyebutkan kisah rinci ini berdasarkan informasi dari intelijen.

Tahun 1962, saat itu Kopassus terjun menjadi pasukan perdamaian dunia bersama PBB. 

Tergabung dalam tim Garuda III, Kopassus memiliki misi menghancurkan markas musuh di Kongo, Afrika. 

Tugas berat itu menjadi ujian sekaligus titik awal bagaimana Kopassus mencetak sejarah melegenda di PBB.

Peristiwa tersebut terjadi saat anggota Kopassus yang masih bernama RPKAD (Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat), diminta PBB untuk menjaga perdamaian di Kongo, pada 1962.

Kala itu, Kongo tengah dilanda konflik mencekam akibat adanya pemberontak.

Akhirnya, Indonesia pun mengirimkan tim terbaik yang dikenal sebagai pasukan Garuda III.

Letjen Kemal Idris lah yang saat itu memimpin Pasukan Garuda III.

Anggota DPR RI dan DPRD Kota Jambi Partai NasDem Berikan APD ke Puskesmas

Akhir Pekan di Kota Jambi, Wisata Danau Sipin Dipadati Pengunjung

Update Perkembangan Kasus Covid-19 Provinsi Jambi, Angka Pasien Positif Tidak Berubah

Kakek 70 Tahun di Jaluko Dikabarkan Cabuli Delapan Remaja Tanggung, Polisi Belum Dapat Laporan

Mereka bermarkas di kawasan Albertville.

Selama bertugas di sana, pasukan Garuda III mudah beradaptasi dengan warga setempat.

Para anggota Kopassus kerap berinteraksi hingga mengajarkan cara memasak makanan Indonesia.

Tak heran, warga kerap menaruh kepercayaan tinggi.

Alhasil, pergaulan hangat yang dijalin pasukan Garuda III, membuat warga turut bersimpati atas program yang dilancarkan untuk mengamankan daerah tersebut dari pemberontak.

Hal ini membuat warga tanpa pamrih memberikan bocoran, terkait akan adanya serangan dari gerombolan pemberontak.

Memang benar, suatu waktu markas pasukan Garuda III diserang para pemberontak.

Pemberontak merasa terusik terhadap kehadiran pasukan Garuda III.

Posisi Cut Syifa di Poster Terbaru Sinetron Samudra Cinta SCTV Picu Reaksi, Rangga Azof : Ready?

Cut Syifa Unggah Foto Wajah Bocahnya, Sudah Main Film & Sinetron Sejak Kecil Bareng Ciccio Manassero

Bukan Sosok Biasa, 2 PNS yang Pingsan Setengah Telanjang Dalam Mobil Ternyata Pejabat di Dinas Ini

Penyerbuan para pemberontak pada tengah malam, membuat markas terkepung.

Penyerangan secara tiba-tiba terdiri dari 2 ribu pemberontak, sedangkan pasukan di markas hanya 300 orang.

Akhirnya, pasukan Garuda III pun mencoba bertahan dan balik menyerang.

Pertempuran kedua pihak pada dini hari, membuat kawasan tersebut semakin mencekam.

Kopassus
Kopassus (Stapico/Kolase)

Gara-gara Persoalan Uang, Seorang Wanita di Cianjur Dibakar Hidup-hidup oleh Adik Kandung!

167 Paket Kegiatan di Pemprov Jambi Sudah Ditenderkan di UKPBJ Provinsi Jambi

Masih Ada Rusak Berat, Kementrian PUPR Segera Tuntaskan Pembangunan Ruas Jalan Nasional Jambi-Sabak

Adanya baku tembak ini membuat sejumlah pasukan Garuda III mengalami cedera ringan.

Menjelang subuh, para pemberontak pun balik kanan.

Namun, pasukan Garuda III justru tak tinggal diam.

Mereka menyiapkan strategi untuk balik menyerang.

Akhirnya, 30 anggota Kopassus pun diturunkan menjadi tim paling depan.

Pagi hari, 30 anggota Kopassus ini memulai perjalanan menuju lembah mematikan, disebut 'no man's land' atau kawasan tak bertuan di atas kekuasaan pemberontak.

Mereka melakukan pergerakan dalam tiga kelompok.

30 anggota Kopassus ini menyamar menjadi warga Kongo.

Tubuhnya dilumuri arang, kemudian membawa bakul sayuran, kambing, dan sapi.

Mereka berjalan menyusuri danau. Setelah matahari terbenam, mereka memantapkan strategi penyerangan, sambil beristirahat di tepi danau.

30 anggota Kopassus yang nekat ini melancarkan serangannya.

Bayangkan, bagaimana bisa 30 anggota Kopassus menyerang maskas pemberontak yang ditinggali ribuan orang?

Strategi cerdas pun dilakukan, tanpa diawali gempuran bom.

Tepat pukul 12 malam, anggota Kopassus ini beraksi.

Mereka membungkus diri menggunakan kain putih di atas kapal hitam.

Kain putih itu pun melayang-layang terterpa angin malam.

Semerbak bawang putih tercium dari sosok mereka yang melayang-layang bak hantu gentayangan.

Ya, mereka sengaja menyamar menjadi hantu.

Hal ini dilakukan untuk menundukkan pasukan pemberontak itu.

Pasalnya, pemberontak itu percaya dan sangat takut pada hantu putih.

Hal itulah yang dimanfaatkan anggota Kopassus untuk memberikan serangan ampuh.

Bayi Satu Tahun yang Sempat Dijenguk Kapolres Tanjabbar Meninggal Dunia Karena Gizi Buruk

Bukan Sosok Biasa, 2 PNS yang Pingsan Setengah Telanjang Dalam Mobil Ternyata Pejabat di Dinas Ini

Terbukti, saat 'hantu putih' itu mendekat menerobos pintu masuk, para pemberontak gemetar ketakutan.

Padahal, mereka memiliki senjata lengkap, tapi kali ini pemberontak itu tak bisa berkutik.

Kala itu, mereka percaya ada hantu putih di hadapan mereka. Oleh karena itu, mereka tak berani melawan.

Dalam waktu 30 menit saja, markas pemberontak pun terkuasai. Sebanyak 3.000 pemberontak menyerah mohon ampun.

Memang terlihat mustahil, Panglima PBB Kongo Letjen Kadebe Ngeso pun seakan tak percaya.

Namun, ini adalah strategi nyata yang kemudian menjadi legenda dalam sejarah penjaga perdamaian PBB.

Keberhasilan 30 hantu putih ini, membuat warga Kongo kagum.

Warga Kongo bahkan menjuluki si pasukan hantu putih ini dalam sebutan Les Spiritesses.

Kisah perlawanan 30 anggota Kopassus di Kongo ini ditulis dalam artikel yang berujudul LES SPIRITESSES - Kisah Kontinden Garuda III di Kongo, 1962, menyebutkan kisah rinci ini berdasarkan informasi dari intelijen.

Tanggapan Pedagang yang Kiosnya Dibongkar: Kami Baru Terima Surat Peringatan Tiga Hari Lalu

Smartfren Luncurkan eSIM untuk Android Awal Juni

IKUTI KAMI DI INSTAGRAM:

NONTON VIDEO TERBARU KAMI DI YOUTUBE:

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved