Berita Internasional
Benarkah Operasi Tempur Tiongkok di Laut China Selatan Untuk Perang Hadapi Negara Asia Tenggara?
Benarkah Operasi Tempur Tiongkok di Laut China Selatan Untuk Perang Hadapi Negara Asia Tenggara?
China semakin giat meningkatkan kapabilitas militernya.
• Fakta-fakta Mayat ABK Indonesia Dilempar ke Laut oleh Kapal China, Jam Kerja hingga Diskriminasi
• Kisah Pilu ABK Indonesia di Kapal China Long Xing 629, Terpaksa Minum Air Laut dan Makan Umpan Ikan
• Tensi Makin Tinggi, China Disebut Bakal Tambah Hulu Ledak Nuklir Hingga 1000 Buah
Beijing saat ini sangat aktif membuat berbagai mesin perang.
Bayangkan saja dalam setahun galangan-galangan kapal di China mampu memproduksi 20 unit kapal perang kelas berat.
Kapabilitas inilah yang membuat negara-negara di kawasan khususnya di Asia Tenggara yang terlibat tumpang tindih klaim teritori laut dengan China was-was bukan main.
• Pesona Masjid Tua di Seberang Kota Jambi, Dibangun Sejak 1880
• Update Covid-19 di Indonesia Sabtu (9/5) - 13.645 Positif 2.607 Sembuh 959 Meninggal Jambi Tambah 15
• Areal Rawan Terbakar di Provinsi Jambi Bakal Dipasang CCTV untuk Pantau Karhutla
Belakangan, Beijing tampak aktif melakukan kegiatan pembangunan dan penguatan militer sehingga menjadi tindakan administratif dan penegakan hukum untuk memperkuat klaimnya di Laut China Selatan.
Melansir South China Morning Post, langkah China baru-baru ini untuk menciptakan dua distrik administratif serta menyebutkan 80 fitur geografis di Laut China Selatan telah menuai protes dari negaa lain, seperti Vietnam.
Menurut para pejabat dan pakar di wilayah tersebut, hal lain yang juga menyebabkan kegelisahan negara tetangga adalah perluasan alat penegakan hukum domestik China baru-baru ini ke wilayah yang disengketakan.
• Video Diduga YouTuber Ferdian Paleka Diplonco Napi di Penjara, Sampai Dimasukkan ke Tong Sampah
• Negara Lain Lengah Karena COVID-19, Indonesia Bersama TNI AU Siaga dengan Jet F-16 di Tempat Ini
• Mengapa Umur Helm Orang Indonesia Pendek?
Negara-negara Asia Tenggara juga cemas bahwa China akan memilih untuk melakukan konflik langsung dengan negara-negara penuntut yang lebih kecil ketika mereka berupaya untuk melawan upaya China dalam mengembangkan sumber daya perikanan dan energi di wilayah tersebut.
"Hanya ada sedikit informasi yang tersedia tentang kampanye ini, tetapi kami mengawasi dengan seksama untuk mengetahui apa implikasinya bagi Laut China Selatan," kata seorang diplomat dari Asosiasi Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) seperti yang dikutip South China Morning Post.
Seorang diplomat Asia lainnya mengatakan negaranya prihatin dengan aksi China baru-baru ini di Laut China Selatan, yang dilakukan ketika negara-negara lain disibukkan dengan urusan virus corona.
• 10.000 Sampai 141.000 Tahun Penjara, Ini 5 Penjahat dengan Hukuman Super Lama
• Takjil Dingin - Jus Melon Timun, Es Anggur, Es Kumut, Blewah Campur, Es Jeli Cincau Kelapa
• Gagal Rampas Tas Pengendara Motor, Jambret di Kota Baru Babak Belur Dihajar Massa
Xinhua melaporkan, pada tanggal 1 April lalu, misalnya, penjaga pantai Tiongkok meluncurkan kampanye penegakan hukum selama delapan bulan bernama "Blue Sea 2020", yang salah satu tujuannya adalah untuk menindak "pelanggaran dalam eksplorasi dan eksploitasi minyak lepas pantai", serta konstruksi proyek kelautan dan pesisir .
Kampanye ini merupakan upaya multi-lembaga antara penjaga pantai dan transportasi, sumber daya alam, dan kementerian lingkungan.
China sejauh ini hanya merilis akun operasi terbaru yang menargetkan pelanggaran domestik.
• Banyak Virus dan Bakteri Hidup Kembali Setelah Lapisan Es Antartika Meleleh
• Penerimaan Polri 2020, Cara Login dan Tata Cara untuk Lakukan Verifikasi Online, Masuk Polisi Gratis
• Tinggi Muka Air Sungai Batanghari Berangsur Turun, Jambi Masih Siaga II
Namun para diplomat dan pakar di wilayah tersebut meyakini arahan itu dapat diperluas ke perairan Laut China Selatan yang disengketakan.
China dan Vietnam mengalami bentrok bulan lalu akibat sebuah insiden yang melibatkan tabrakan antara kapal pengintai maritim Tiongkok dan kapal nelayan Vietnam di dekat Pulau Paracel.