Hoax Atau Fakta, Cuaca Panas Bisa Mematikan Virus Corona? Ini Hasil Kajian Para Pakar
Seiring dengan semakin mewabahnya Pandemi Covid-19 di Indonesia, imbauan atau ajakan
TRIBUNJAMBI.COM - Seiring dengan semakin mewabahnya Pandemi Covid-19 di Indonesia, imbauan atau ajakan untuk berjemur juga semakin sering terdengar.
Aktivitas menjemur dibawah sinar matahari disebut-sebut bisa membunuh virus corona?
Tapi benarkah isu tersebut? Atau cuma sekedar hoax alias kabar bohong?
• Penuh Haru, Keluarga Sambut Napi di Lapas Klas IIB Muara Bungo yang Mendapatkan Asimilasi
• Pasien Positif COVID-19 di Usia Muda Lebih Diutamakan Dokter Spanyol dan Italia Untuk Diselamatkan
• Gagal Login Token Listrik Gratis di WWW.PLN.CO.ID? Coba 4 Cara Ampuh Ini
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta melakukan kajian/penelitian tentang Pengaruh Cuaca dan Iklim dalam Penyebaran Covid-19. Benarkah cuaca panas bisa mematikan virus corona?
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan Tim BMKG yg diperkuat oleh 11 Doktor di Bidang Meteorologi , Klimatologi dan Matematika, serta didukung oleh Guru Besar dan Doktor di bidang Mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM, telah melakukan Kajian berdasarkan analisis statistik, pemodelan matematis dan studi literatur.
• Nonton Streaming Boruto Episode 151, Rilis Minggu (5/4/2020) Pukul 15.30, Boruto vs Bandit Mujina
• Batuk Sebulan Hingga Suhu Tubuh Diatas 37 Derajat, Annisa Pohan Akui Khawatir Terinfeksi Covid-19
• Begini Nasib Polisi Penangkap Seorang Perampok Toko Emas yang Dinyatakan Dokter Positif COVID-19
Hasil kajian yg telah disampaikan kepada Presiden dan beberapa Kementerian terkait pada tanggal 26 Maret 2020 yang lalu ini, menunjukkan adanya indikasi pengaruh cuaca dan iklim dalam mendukung penyebaran wabah Covid-19, sebagaimana yg disampaikan dalam penelitian Araujo dan Naimi (2020), Chen et. al. (2020),
Luo et. al. (2020), Poirier et. al (2020), Sajadi et.al (2020), Tyrrell et. al (2020), dan Wang et. al. (2020), tulis Dwikorita melalui komunikasi online.
Hasil analisis Sajadi et. al. (2020) serta Araujo dan Naimi (2020) juga menunjukkan sebaran kasus Covid-19 pada saat outbreak gelombang pertama, berada pada zona iklim yang sama, yaitu pada posisi lintang tinggi wilayah subtropis dan temparate.
Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan sementara bahwa negara-negara dengan lintang tinggi cenderung mempunyai kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tropis.
• Ikuti Tantangan Until Tomorrow, Wajah Nafa Urbach Bikin Salfok, Unggah Foto Saat Usia 16 Tahun
• Meneladani Sikap Nabi Muhammad SAW Dengan Penuh Kesyukuran, Halal dan Beristiqamah
• Respon Ashanty saat Aurel Hermansyah Minta Nikah Muda, Singgung Keluarga Atta Halilintar,Belum Siap?
• Tak Tersorot Kamera, Menhan Prabowo Diam-diam Lakukan Ini saat Wabah COVID-19 Landa Indonesia
Penelitian Chen et. al. (2020) dan Sajadi et. al. (2020) menyatakan bahwa kondisi udara ideal untuk virus corona adalah temperatur sekitar 8 - 10 °C dan kelembapan 60-90%.
Artinya dalam lingkungan terbuka yang memiliki suhu dan kelembaban yang tinggi merupakan kondisi llingkungan yang kurang ideal untuk penyebaran kasus Covid-19.
Para peneliti itu menyimpulkan bahwa kombinasi dari temperatur, kelembapan relatif cukup memiliki pengaruh dalam penyebaran transmisi COVID-19.
Selanjutnya penelitian oleh Bannister-Tyrrell et. al. (2020) juga menemukan adanya korelasi negatif antara temperatur (di atas 1 °C) dengan jumlah dugaan kasus COVID-19 per-hari.
Mereka menunjukkan bahwa bahwa COVID-19 mempunyai penyebaran yang optimum pada suhu yang sangat rendah (1 – 9 °C).
"Artinya semakin tinggi temperatur, maka kemungkinan adanya kasus COVID-19 harian akan semakin rendah," jelas Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati.
Lebih lanjut Wang et. al. (2020) menjelaskan pula bahwa serupa dengan virus influenza, virus Corona ini cenderung lebih stabil dalam lingkungan suhu udara dingin dan kering.