Update Virus Corona di Jambi Kamis (26/3) Pagi, ODP 178 dan PDP 14 Orang, Positif 1 Orang
Juru BIcara Satgas Covid-19 Jambi, Johansyah, mengatakan penambahan lima ODP itu semuanya dari RSUD Raden Mattaher.
Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Duanto AS
Bagi sebagian orang, Covid-19 tampak seperti masalah yang ditanggung oleh penduduk di kota-kota yang padat atau negara-negara asing. Mereka merasa sedih, tapi itu bukan beban mereka.
Orang-orang yang tinggal di sebuah kelompok di mana infeksi tidak menyebar atau petugas tidak memberlakukan lockdown cenderung tidak menjauhkan diri dari orang lain, kata Steven Taylor, psikolog klinis dan penulis "The Psychology of Pandemics."
"Orang-orang meremehkan pentingnya --mungkin karena mereka tidak melihat orang-orang di komunitas mereka terkena virus," kata Taylor.
Mereka mengalami mati rasa
Virus corona menciptakan apa yang disebut Taylor sebagai "infodemik." Ketika orang melihat media, linimasa di media sosial dan percakapan dengan orang yang dicintai membahas COVID-19, mereka mungkin menjadi peka terhadap keparahan pandemi.
"Orang-orang menjadi mati rasa," kata Taylor.
Informasi yang berlebihan ini juga berkontribusi pada pesan yang simpang siur. Orang yang lebih muda telah berulang kali diberi tahu mereka berisiko lebih rendah terkena infeksi.
Ketika hal itu dipadukan dengan kecenderungan orang dewasa muda untuk mengambil risiko, bisa berarti mereka tidak takut virus.
Mereka berpikir secara individu
Negara-negara barat, khususnya AS, telah lama menghargai kebebasan individu. Dan selama pandemi, pola pikir itu bisa berakibat fatal bagi mereka yang paling rentan terkena virus.
Itu sebabnya, petugas kesehatan, selebritas dan orang-orang meminta masyarakat tidak tinggal di rumah bukan cuma untuk kepentingan diri mereka, melainkan juga demi kepentingan orang lain.
Orang dewasa berusia di atas 60 tahun, orang dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu, dokter, serta perawat berisiko tinggi terpapar virus corona.
Mereka kesepian
Para psikolog setuju, manusia mendambakan koneksi, dan kehilangan interaksi sosial untuk waktu yang lama bisa terasa menyakitkan.
Hal ini bisa sangat sulit bagi orang tua, di mana mereka memiliki risiko kematian lebih tinggi akibat depresi dan kesepian. Mereka cenderung kurang tertarik menggunakan perangkat teknologi, seperti FaceTime atau Zoom, untuk berkomunikasi.
Kita makhluk sosial. Kita juga memiliki banyak kebebasan. Sulit membuat perubahan yang diminta.
Lantas, bisakah mereka dibujuk untuk tetap tinggal di rumah? Hal ini sedang dipelajari oleh Asmundson.
Dengan mengidentifikasi faktor-faktor psikologis yang berkontribusi terhadap respon yang terlalu esktrem atau penolakan, pejabat publik dapat kembali meyakinkan masyarakat untuk menerapkan social distancing.
Beberapa orang percaya, mereka perlu merasa takut dan tinggal di rumah. Namun sebagian lain berpendapat, ketakutan dapat menjadi bumerang karena orang-orang yang takut tidak membuat keputusan berdasarkan logika dan berujung pada panic buying.
Sulit menyatukan persepsi antara responden ekstrem dan responden yang tidak menanggapi pandemi secara serius, kata Asmundson.
Tapi para ahli setuju akan satu hal. Meyakinkan orang agar tetap berada di rumah adalah taruhan terbaik kita dalam melawan pandemi. (Mareza SutanAJ, Kompas.com)
• Pangeran Charles Dikabarkan Terjangkit Virus Corona, Begini Kabar Kondisi Terbarunya Kini!
• Artis Olga Kurylenko Dinyatakan Sembuh Dari Virus Corona Ternyata Rutin Konsumsi Minuman Ini!
• Begini Kondisi Papua yang Terapkan Lockdown, Bandara, Pelabuhan, Jalan Darat Lintas Negara Tutup