Update Virus Corona di Jambi Kamis (26/3) Pagi, ODP 178 dan PDP 14 Orang, Positif 1 Orang
Juru BIcara Satgas Covid-19 Jambi, Johansyah, mengatakan penambahan lima ODP itu semuanya dari RSUD Raden Mattaher.
Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Duanto AS
Ia memecah masyarakat menjadi tiga kelompok berdasarkan tanggapan kita terhadap pandemi. Yaitu mereka yang menanggapi berlebihan, kurang menanggapi, dan mereka yang berada di antara keduanya.
"Penanggap berlebihan" adalah pembeli panik yang telah menimbun persediaan makanan untuk berbulan-bulan.
Mereka takut, dan berharap dengan membeli tumpukan tisu toilet dapat mengurangi ketakutan itu.
Orang-orang yang berada di "tengah-tengah" melakukan apa yang diminta tanpa panik atau bertindak gegabah.
Kemudian, mereka yang kurang menanggapi serius tidak mematuhi pedoman kesehatan masyarakat dan menganggap diri kebal.
Mereka tidak menerapkan social distancing karena percaya mereka tidak akan sakit, meski anjuran itu bisa mencegah lebih banyak orang terinfeksi.
Orang-orang yang tidak menanggapi virus corona secara serius bisa jadi disalahkan apabila virus terus menyebar di suatu negara.
Mereka melihatnya sebagai cara mendapatkan kendali hidup
Orang yang anti pembatasan jarak sosial terus berkumpul dalam kelompok dan mengabaikan saran karena mereka merasa tidak berdaya.
Tindakan pembangkangan yang mereka lakukan membuat virus tampak lebih kecil, kata Vaile Wright, psikolog dan direktur riset di American Psychological Association.
"Salah satu tantangan dengan ketidakpastian adalah itu mengingatkan kita pada hal-hal di luar kendali kita," kata Wright.
"Saya pikir pembangkangan semacam ini, sampai batas tertentu, adalah cara untuk mendapatkan kembali kendali."
Sama seperti menimbun persediaan untuk menghindari virus, menentang saran pejabat kesehatan mengenai social distancing juga merugikan. Berkumpul di tengah orang banyak hanya meningkatkan risiko seseorang terpapar.
Membatasi kontak dengan orang lain adalah satu-satunya cara untuk memperlambat penyebaran virus corona.
Mereka tidak melihat pandemi sebagai masalah mereka