Kisah Militer
Jenderal TNI Beri 'Teguran Maut' Presiden hingga Dicopot, 20 Tahun Kemudian Soeharto Mengakuinya
Teguran maut Jenderal TNI rupanya membangkitkan kemarahan Soeharto. Namun, 20 tahun kemudian Soeharto mengakuinya.
Ketika Soeharto menjabat presiden kedua, hingga lebih dari 30 tahun (1967-1998), Benny Moerdani terus dipercaya sebagai ‘tangan kanan’ Pak Harto.
Benny menangani masalah keamanan, hubungan diplomatik dengan negara lain, sekaligus pengawal presiden yang loyal dan setia.
Tapi meski menjadi seorang loyalis Soeharto, Benny ternyata seorang yang kritis dan berani memberi masukan serta teguran kepada presiden.
Benny Moerdani memang berprinsip.

Meskipun seorang loyalis Pak Harto, Benny bukan tipe penjilat dan suka menjatuhkan orang lain dengan memberikan informasi tidak benar.
Dia berprinsip harus bisa menjauhkan Soeharto dari orang-orang yang suka menjilat atau orang yang suka menfitnah demi mendapat perhatian Soeharto.
Kerisauan menteri pada 1984
Saat anak-anak Soeharto mulai dewasa, pada 1984, sejumlah menteri merasa risau.
Para menteri risau dengan anak-anak Soeharto yang sudah tumbuh dewasa dan mulai berbinis, tapi dengan cara memanfaatkan kekuasaan bapaknya.
Denjaka Kopaska Kopassus Meluncur di Laut, Perompak Somalia Tak Bekutik Minta Ampun
Sama-sama Baret Merah, Ini Dia Pasukan Khusus Wanita Spetsnaz Rusia & Kopassus yang Terkenal Brutal
Jenderal Jebolan Kopassus Terbang ke Thailand, 4 Penyanderaan yang Diselesaikan Pasukan Elite TNI
Bisnis anak-anak Soeharto bahkan merambah ke soal pembelian alutsista (alat utama sistem senjata) yang seharusnya ditangani pemerintah dan ABRI/TNI, bukan oleh warga sipil.
Pertemuan di meja biliar
Ketika ada kesempatan bermain billiar dengan Soeharto, Benny Moerdani yang saat itu menjabat sebagai Panglima ABRI memberanikan diri ‘menegur’ Soeharto.
Teguran Benny Moerdani ke Soeharto itu terkait bisnis anak-anaknya yang sudah merambah ke mana-mana dan terkesan memonopoli.
Soeharto ternyata tidak terima oleh teguran Benny yang dianggap sangat kurang ajar.
Setelah itu, hubungan Soeharto dan Benny Moerdani memburuk.