Kasus Kekerasan

Kasus Kekerasan Anak 3 Tahun Terakhir - Anak Perempuan Terbanyak Alami Pelecehan Seksual

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Jambi telah mencatat kasus kekerasan terhadap

Penulis: Wahyu Herliyanto | Editor: Fifi Suryani
zoom-inlihat foto Kasus Kekerasan Anak 3 Tahun Terakhir - Anak Perempuan Terbanyak Alami Pelecehan Seksual
net
Ilustrasi

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Wahyu Herliyanto

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Jambi telah mencatat kasus kekerasan terhadap anak perempuan dan laki-laki di bawah umur mengalami peningkatan dan penurunan tercatat sejak tahun 2015 hingga 2017.

Berdasarkan data, tiga tahun terakhir pihak (P2TP2A) Jambi sudah mencatat total sebanyak 145 kasus  kekerasan anak maupun kekerasan seksual anak di Jambi. Pada tahun 2015 sebanyak 28 anak, pada tahun 2016 meningkat menjadi 65 anak, pada tahun 2017 menurun 52 anak, dan sampai Maret 2018 ini sudah 13 anak.

Baca: GALERI FOTO: Cantiknya Dokter Tieka Leony Berkebaya, Ini Komentarnya tentang Kartini Zaman Kini

P2TP2A Jambi mencatat, kekerasan terhadap anak perempuan paling banyak mengalami tindak kekerasan seksual dengan total 77 orang sedangkan anak laki-laki hanya 17 orang. Sedangkan tahun 2018 hingga Maret tercatat sudah 14 kasus kekerasan terhadap anak perempuan dan 6 orang laki-laki.

Selain mengalami tindak kekerasan seksual, korban anak perempun itu juga mendapat perlakuan kasar seperti mendapat perlakuan pemukulan (psikis), fisik, dan penelantaran dari orang dewasa.

Dikatakan Kabid Perlindungan Anak (DP3APP) Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Provinsi Jambi, Abd Hanan, kekerasan terhadap anak di daerah ini salah satunya dipicu faktor kekerasan rumah tangga dan kehidupan sosial, rata-rata berdampak pada seksual dan psikis.

"Dampak psikis, salah satu penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga dan bisa juga pola asuh yang salah dari orang tua. Bukan cuman itu, kekeraaan seksual biasanya dari pemerkosaan, pencabulan dan pelecehan seksual," katanya Sabtu (21/4).

Baca: Adirozal Jadi Penceramah Isra Miraj di BKMT Depati Tujuh

Baca: Peringatan Hari Kartini di Bandara Sultan Thaha - Penumpang Minta Berfoto dengan Staf Pria Berkebaya

Kasus-kasus ini menurutnya terjadi karena saat ini banyak pernikahan di usia muda. Dengan kurangnya visi dalam menjalani kehidupan menjadi penyebab utama di samping faktor ekonomi dan lingkungan.

"Faktor kekerasan terhadap anak juga bisa dialami lingkungan sosial, ekonomi, pendidikan, dan Imtaq terhadap anak itu sendiri, sehingga tidak terlepas juga pendidikan dalam rumah tangga, kejadian tersebut berdapak pada psikis anak bagi anak yang mengalami korban kekerasan," katanya.

Ditambahkannya, untuk mengatasi hal tersebut, anak tersebut perlu dibawa ke psikolog atau pindah dari lingkungan tempat tersebut.

Maka dari itu pihaknya gencar menyosialisasikan bahaya kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sebab banyak kasus yang masuk berakhir ke jalur hukum namun juga ada kasus yang berhasil dimediasi.

Baca: Pergantian Antar Waktu DPRD Kerinci - Resmi Gantikan Arsal, Yustiar Sempat Gugup Saat Dilantik

Baca: Masjid Bakal Dibangun di Bandara Sultan Thaha Jambi

Baca: Multifungsi Mainan - Tak Hanya Sekedar Permainan, Juga Mengajar Anak Soal Tanggung Jawab

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved