Cobley Nekat Meski Satu Mesin Rusak
Hingga akhirnya Catalina nahas itu tak mampu melawan gaya gravitasi dan jatuh ke Sungai Batanghari. Simaklah bagaimana Prangko menuturkan pengalaman m
Penulis: Deddy Rachmawan | Editor: Fifi Suryani
"Recruit to Revolution". Bahwa, kiprah Cobley saat itu bukan soal uang. Dia, kata Ian, bersemangat untuk mendukung kemerdekaan dan memerangi Belanda.
Cobley, bersama teknisinya Jan Londa tewas tenggelam bersama Catalina RI 005. Hanya Prangko yang selamat dari kecelakaan tersebut. Prangko yang juga wartawan Soeara Oemoem di Surabaya sempat mengabadikan memorinya dalam catatan pribadi.
"Pesawat RI 005 Catalina yang dikemudikan oleh pilotnya seorang Australia RR Cobley pada hari Kamis pagi 8 September 1948 sekira jam 8 pagi dengan membawa penumpang sebanyak 22 orang, diantaranya 2 orang perempuan, dengan muatan barang-barang sebanyak 2 ton, pada jam 2 siang telah mendarat di sungai Batanghari di kota Jambi dengan selamat, sekalipun berangkatnya satu dari mesinnya yang sebelah kanan tidak jalan dengan sempurna (rusak)," tulis Prangko sebagaimana dikutip Warkat Veteran.
Kerusakan mesin itulah yang diceritakan Prangko, walau sudah tiga bulan berlalu tak kunjung bisa diperbaiki.
Hingga akhirnya pada 29 Desember 1948 pagi, Belanda mendaratkan pasukannya menguasai lapangan terbang Pal Merah. Invasi itulah yang akhirnya membuat Cobley memaksakan Catalina RI 005 terbang.
Mereka sedianya akan terbang ke Bangkok melalui Singapura. Tentunya, hanya dengan satu mesin pesawat yang normal.
Hingga akhirnya Catalina nahas itu tak mampu melawan gaya gravitasi dan jatuh ke Sungai Batanghari. Simaklah bagaimana Prangko menuturkan pengalaman menantang maut itu. Ketika pesawat sudah masuk air dengan daya yang ada ia menggapai ke belakang pesawat.
"Kemudian kami (ia menggunakan kata ganti orang pertama jamak untuk menyebut dirinya) terhalang oleh salah satu sayapnya. Pada waktu itu kami berusaha memegang sayap kapal udara, berusaha untuk pegangan di atasnya, tetapi kekuatan kami sudah tidak ada lagi sebab kaki kami yang sebelah kanan telah patah dan tulang di dada kami yang sebelah kanan juga putus. Sedangkan kedua orang Cobley dan Jan Londa terus tenggelam bersama-sama pesawatnya di dalam waktu tidak lebih 15 menit.," papar Prangko yang selamat setelah ditolong oleh nelayan.