Jumat, 15 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Cobley Nekat Meski Satu Mesin Rusak

Hingga akhirnya Catalina nahas itu tak mampu melawan gaya gravitasi dan jatuh ke Sungai Batanghari. Simaklah bagaimana Prangko menuturkan pengalaman m

Tayang:
Penulis: Deddy Rachmawan | Editor: Fifi Suryani

TRIBUNJAMBI.COM - Beberapa alat berat, mesin penyedot lumpur tampak disiapkan di tepi Sungai Batanghari pada 26 Juli 1991. Sejumlah orang dari Korem 042/Garuda Putih dan pihak terkait meriung (berkumpul). Mereka mewujudkan gagasan yang lahir dua bulan sebelumnya pada Sidang Paripurna Veteran RI. Itulah awal proses pengangkatan bangkai pesawat Catalina RI 005 dari Sungai Batanghari.

Pesawat jeis amfibi beregister RI 005 itu memang berumur pendek. Diproduksi di Amerika pada 1942, Catalina RI 005 harus tenggelam enam tahun kemudian, persisnya pada 29 Desember 1948. Padahal di tahun 1947 pemerintah Indonesia baru menyewa pesawat berbaling-baling itu.

Belakangan, Komandan Sub Teritorial Jambi Kolonel Abunjani menyebut pesawat yang awalnya beregister VHROP itu sudah dibeli oleh Indonesia.

Terpendam selama 43 tahun membuat evakuasi bangkai pesawat yang bisa mendarat di air itu tak mudah. Penyelam dihadapkan pada tebalnya sedimentasi lumpur juga derasnya arus Sungai Batanghari.

Hasilnya, hari pertama evakuasi belum ada bangkai pesawat yang berpindah ke darat. Kecuali lumpur pasir yang disedot, tak tanggung-tanggung pasir ini hingga membuat gundukan "pulau" seluas 100 x 75 x 8 meter.

Barulah pada 3 Agustus sejumlah puing Catalina dapat dinaikkan, namun evakuasi belum usai.

Baca juga: Di Jambi Soekarno Pimpin Rapat Raksasa

Pencarian dan pengangkatan pesawat ini baru dinyatakan selesai pada 10 November. Sebelumnya ditemukan bagian pintu pesawat (28 Agustus), tulang belulang (31 Agustus), dan satu tengkorak manusia (21 Oktober).

Warkat Veteran yang terbit pada 17 Juni 1992 melaporkan, dari evakuasi turut pula ditemukan sepatu, tempat minum militer juga bendera Australia berukuran kecil.

Pelaku sejarah Jambi yang turut merasakan masa kolonial Belanda dan Jepang, Asrie Rasyid bercerita pesawat itu disewa di Singapura dari pilot bernama Ralph Richard Cobley.

"Singapura dulu memang banyak tempat untuk menyewa pesawat," tuturnya kepada Tribun baru-baru ini. Ia menyebut di Singapura pula, Indonesia mendapatkan pasokan senjata untuk memenuhi kebutuhan militer kala itu.

Tiga penumpang
Saat peristiwa nahas terjadi, ada tiga orang di dalam pesawat. RR Cobley sang pilot, perwira AURI Jan Londa dan Kepala TU Markas Pertahanan Surabaya Divisi I Narotama RH Abdillah Prangko Prawirokusumo yang popular dengan nama Prangko.

Budi Prihatna dari Museum Perjuangan Rakyat Jambi bercerita, ia sempat berkorespondensi dengan keponakan Cobley, Ian Cobley.

Walau disebut-sebut sebagai warga Negara Australia, tapi sepenuturan Ian, sang paman lahir di London pada 7 Februari 1919.

Itu artinya, Cobley harus menghentikan jam terbang untuk selamanya di usia 29 tahun.
Mengenai keterlibatan Cobley terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia, Ian mengutip buku yang terbit 1952 berjudul

"Recruit to Revolution". Bahwa, kiprah Cobley saat itu bukan soal uang. Dia, kata Ian, bersemangat untuk mendukung kemerdekaan dan memerangi Belanda.

Cobley, bersama teknisinya Jan Londa tewas tenggelam bersama Catalina RI 005. Hanya Prangko yang selamat dari kecelakaan tersebut. Prangko yang juga wartawan Soeara Oemoem di Surabaya sempat mengabadikan memorinya dalam catatan pribadi.

"Pesawat RI 005 Catalina yang dikemudikan oleh pilotnya seorang Australia RR Cobley pada hari Kamis pagi 8 September 1948 sekira jam 8 pagi dengan membawa penumpang sebanyak 22 orang, diantaranya 2 orang perempuan, dengan muatan barang-barang sebanyak 2 ton, pada jam 2 siang telah mendarat di sungai Batanghari di kota Jambi dengan selamat, sekalipun berangkatnya satu dari mesinnya yang sebelah kanan tidak jalan dengan sempurna (rusak)," tulis Prangko sebagaimana dikutip Warkat Veteran.

Kerusakan mesin itulah yang diceritakan Prangko, walau sudah tiga bulan berlalu tak kunjung bisa diperbaiki.

Hingga akhirnya pada 29 Desember 1948 pagi, Belanda mendaratkan pasukannya menguasai lapangan terbang Pal Merah. Invasi itulah yang akhirnya membuat Cobley memaksakan Catalina RI 005 terbang.

Mereka sedianya akan terbang ke Bangkok melalui Singapura. Tentunya, hanya dengan satu mesin pesawat yang normal.

Hingga akhirnya Catalina nahas itu tak mampu melawan gaya gravitasi dan jatuh ke Sungai Batanghari. Simaklah bagaimana Prangko menuturkan pengalaman menantang maut itu. Ketika pesawat sudah masuk air dengan daya yang ada ia menggapai ke belakang pesawat.

"Kemudian kami (ia menggunakan kata ganti orang pertama jamak untuk menyebut dirinya) terhalang oleh salah satu sayapnya. Pada waktu itu kami berusaha memegang sayap kapal udara, berusaha untuk pegangan di atasnya, tetapi kekuatan kami sudah tidak ada lagi sebab kaki kami yang sebelah kanan telah patah dan tulang di dada kami yang sebelah kanan juga putus. Sedangkan kedua orang Cobley dan Jan Londa terus tenggelam bersama-sama pesawatnya di dalam waktu tidak lebih 15 menit.," papar Prangko yang selamat setelah ditolong oleh nelayan.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved