7 Offet Satwa Senilai Rp 20 Juta Akan Dimusnahkan Usai Lebaran, Ada Harimau Sumatera dan Macan Tutul

Kejaksaan Negeri Jambi akan musnahkan 7 offset satwa liar selepas lebaran.

7 Offet Satwa Senilai Rp 20 Juta Akan Dimusnahkan Usai Lebaran, Ada Harimau Sumatera dan Macan Tutul
TRIBUN JAMBI/HERU PITRA
Offset harimau. 

7 Offset satwa liar senilai Rp 20 Juta Hasil Sitaan Kejaksaan Negeri Jambi akan dibakar setelah Lebaran.

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Kejaksaan Negeri Jambi akan musnahkan 7 offset satwa liar selepas lebaran. Hal ini dikatakan Aji Sumbara selaku kasi barang bukti dan perampasan di Kejaksaan Negeri Jambi.

Barang bukti offset tersebut masing-masing satu ekor offset Harimau Sumatera, beruang madu, Macan Tutul, kijang dan binturong. Selain itu ada dua offset kepala rusa.

“Kemungkinan habis lebaran kita musnahkan tujuh offset satwa ini. Untuk tempat menyusul. Ada kemungkinan di tempat pembuangan akhir lagi,” katanya.

Sebelumnya diketahui tujuh offset ini merupakan perkara terdakwa bernama Rudi Hartono Siagian. Rudi dinyatakan bersalah karena kelalaiannya menyimpan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati.

Rudi divonis pidana penjara satu bulan dan denda sebesar Rp 5.000.000. Apabila tidak dibayarkan maka akan diganti penjara 1 bulan. Ini lebih ringan dari tuntutan JPU.

Baca: Tiga Hari Pertama Ramadan, Siswa Sekolah di Bungo Diliburkan

Baca: Bulan ke Lima Proses Tender di Kerinci Belum juga Dimulai, Ini Penjelasan Setda Kerinci

Baca: Wacana Ilegal Drilling di Jambi Dilegalkan, ESDM Sebut Tak Ada Peluang Kecuali Hal Ini Dilakukan

Baca: Tengah Malam Rumah Buruh di Jambi Digerebek Polisi, Aparat Temukan Sabu 8 Gram

Baca: VIDEO: Mini Bus Adu Kambing dengan Dua Motor di Pondok Meja, Sepasang Suami Istri Tewas di Tempat

Sebelumnya Yusmawati selaku Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut kurungan 8 bulan dikurangi masa tahanan dan menjatuhkan pidana denda sebesar 10 juta rupiah dan subsidair 1 bulan.

Rudi dijerat pasal 40 ayat (4) Jo pasal 21 ayat 2 huruf b UU RI No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati.

Sebeumnya Rudi diketahui menjadi tahanan rumah sejak 27 November 2018 sampai 26 Desember 2018. Persidangan dipimpin Makaroda Hafat selaku ketua majelis hakim.

Sejak tahun 2000 hingga 2018 Rudi juga diketahui melakukan perniagaan satwa dilindungi dalam keadaan mati.

Bermula pada tahun 2000 terdakwa ke rumah saksi bernama Yunus dan ditawari untuk membantu biaya pengobatan temannya bernama Basar yang kini sudah meninggal dunia.

Basar membantu Yunus dalam hal pengobatan. Dia ingin menukar tujuh offset miliknya untuk biaya pengobatan Yunus. Basar membantu untuk membeli obatnya. Karena itu tujuh opset ini ingin ditukar dan jika dihitung dengan uang seingat Rudi jumlahnya Rp 20 juta.

Sebagai pengganti biaya obat, Basar menyerahkan pada Rudi tujuh offset miliknya. Pada Senin tanggal 23 April 2018 Rudi ditelpoon anaknya bahwa ada orang dari tim gabungan KLHK dan Bareskrim Polri. Terdakwa lantas langsung pulang dan mendapatkan keterangan dari BKSDA bahwa terdakwa tidak boleh menyimpan opset tersebut.

Penulis: Jaka Hendra Baittri
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved