Nelayan Lokal Ngeluh Marak Penggunaan Pukat Harimau, Begini Tanggapan DPK Tanjab Timur
Masih maraknya penggunaan trawl gandeng di perairan Tanjab Timur, Dinas Perikanan dan Kelautan hanya bisa berikan masukan pada nelayan lokal.
Penulis: Abdullah Usman | Editor: Teguh Suprayitno
TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Masih maraknya penggunaan trawl gandeng di perairan Tanjab Timur, Dinas Perikanan dan Kelautan hanya bisa berikan masukan pada nelayan.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Tanjab Timur Hayat mengatakan, jika terkait permasalahan trawl laut wewenang sepenuhnya sudah diambil alih oleh provinsi. Kita kabupaten hanya sebatas pemantauan dan memberikan masukan.
“Solusinya kembali ke masyarakat itu sendiri, di antaranya mereka yang banyak di lapangan jika menemukan aktivitas tersebut untuk langsung melaporkan sehingga dapat segera ditangani, intinya kerja sama aktif,” jelas Hayat.
Katakannya, berbagai cara dan upaya sudah dilakukan bersama, baik secara sosialisasi bahkan memberikan solusi dengan mengganti jaring mereka namun hal tersebut masih terus terjadi.
“Sebelumnya kita juga sudah pernah melakukan pemusnahan jaring trawl (pukat harimau) nelayan dan menggantinya dengan jaring namun hal tersebut tidak lama,” ujarnya.
Baca: Marak Trawl Gandeng, Nelayan di Tanjab Timur Pensiunkan Jaring Ikan Belanak
Baca: Ekspresi Prabowo Saat Deklarasi Kemenangan Sama Seperti Konpres Ratna Sarumpaet Pakar Ungkap Artinya
Baca: Hutan Habis Buruan Langka, SAD di Jambi Nyoblos Berharap Hidupnya Bisa Berubah
Baca: Gabungan Seni Beladiri Gerakan dalam Bodycombat Lebih Menyenangkan untuk Bakar Kalori
Baca: VIDEO: Meski Banjir Warga Kota Jambi Tetap Antusias ke TPS untuk Nyoblos
Secara aturannya jelas, penggunaan trawl dan sejenisnya baik di sungai maupun di laut tidak lagi dibenarkan dan jika masih ada itu merupakan pelanggaran. Itu juga sudah sering kita sampaikan kepada para nelayan.
Bahkan melalui pertemuan langsung juga pernah dilakukan pada Maret lalu. Adanya laporan nelayan teluk majelis terkait penggunaan trawl di kawasan sungai.
“Kebanyakan mereka yang melakukan dan mereka pula yang saling melapor, intinya harus ada kesadaran dari masing-masing mereka (nelayan),” jelasnya.