Hutan Habis Buruan Langka, SAD di Jambi Nyoblos Berharap Hidupnya Bisa Berubah
Warga Suku Anak Dalam di Jambi berharap rajo besak (presiden) yang terpilih di Pemilu 2019 bisa merubah nasib mereka.
Penulis: Wahyu Herliyanto | Editor: Teguh Suprayitno
TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN- Warga Suku Anak Dalam di Jambi berharap rajo besak (presiden) yang terpilih di Pemilu 2019 bisa merubah nasib mereka.
Kelompok SAD di pedalaman Kecamatan Bathin VIII, Sarolangun mengaku mulai kesulitan mencari makan. Mereka hidup bergantung dengan alam dan mengandalkan hasil buruan.
"Kami ni masih berburu, kalok kito buru terus kan lamo-lamo abes, kadang dak dapat, kadang seminggu baru dapat, anak kami nak makan apo, rimbo (hutan) kini lah mulai abis jugo," kata Jenang Yani.
Tumenggung Meladang juga mengatakan dengan ikut pemilu kelompoknya berharap pemimpin yang terpilih bisa adil dan mau mendengarkan jeritan SAD.
"Biso bantu kito untuk maju, kayak jalan, yo kayak yang lain, biso majukan kito," katanya.
Baca: Pakar Bahasa Tubuh Ungkap Makna Gestur Sandiaga Uno, tangan ke belakang artinya nurut
Baca: Gabungan Seni Beladiri Gerakan dalam Bodycombat Lebih Menyenangkan untuk Bakar Kalori
Baca: Pengumuman Rekrutmen Bersama BUMN dan FHCI Jumat (19/4) Siang, Ini Cara Melihatnya
Baca: Isu People Power yang Disebut Amien Rais, Ini Komentar Mahfud MD, Sri Sultan Hingga PP Muhammadiyah
Baca: VIDEO: Meski Banjir Warga Kota Jambi Tetap Antusias ke TPS untuk Nyoblos
Tumenggung Meladang mengaku masih kesulitan mencari makan meski di Kampung Madani kelompoknya sudah diberikan akses dan sarana prasarana dari pemerintah.
"Dengan ikutnya kami memilih. Harapan kami kedepan ada jaminan makanan kami. Intinya kami ingin jaminan soal makan kami sehari-hari," katanya.
Jenang Mustafa, yang menghubungkan SAD dengan masyarakat luar dan juga pemerintah, mengakui jika kelompok SAD di Sarolangun kesulitan ekonomi. Terlabih kondisi hutan di Sarolangun yang terus tergerus izin konsesi.
"Karena kami (SAD) mencari makan dengan berburu babi, jadi lama kelamaan tambah sulit mencarinya, kadang dapet kadang gak," kata Mustafa.
Selain ekonomi, masalah pendidikan kelompok SAD juga jauh tertinggal. "Jadi kami harap pada pemerintah ataupun apapun, kami mengharap itu, jadi kalok kami ni mau milih tapi membaca sulit."
Kata Mustafa sejak melakukan pendampingan, warga SAD masih sulit untuk berinterkasi dengan masyarakat umum.
"Susahnya karena mereka punya adat dan istiadatnya sendiri, itu susahnya, memang jauh ketinggalan," ujarnya.