Walhi: Eksploitasi SDA di Provinsi Jambi, Masih jadi Andalan

"Tetap bersandar pada sumber-sumber alam yang akan tereksploitasi, terutama sumber-sumber pertambangan, industri perkebunan, monokultur, dan HTI,"

Walhi: Eksploitasi SDA di Provinsi Jambi, Masih jadi Andalan
tribunjambi/mahreza
Catatan Akhir Tahun Walhi, menyebut Eksploitasi SDA masih jadi andalan di Provinsi Jambi. Rudiansyah (baju hitam) menjelaskan potret SDA Jambi 2018 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Mareza Sutan A J

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Mencermati sektor-sektor pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jambi, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jambi menyimpulkan, aktivitas eksploitasi SDA masih menjadi andalan.

Direktur Walhi Jambi, Rudiansyah dalam konferensi pers yang digelar di kantor Walhi Jambi, Jelutung, Kota Jambi, Kamis (10/1/2019) menyampaikan hal itu.

Atas hal tersebut, menurut Rudi, skenario kebijakan dalam perencanaan pembangunan yang disusun tidak jauh berbeda.

Baca: Walhi Jambi Minta DLH Bungo Hentikan Penimbunan Sungai Batang Bungo

Baca: Walhi Jambi Sorot Pertambangan di Jambi, Rudiansyah: Masih Banyak Perusahaan Belum Siap Beroperasi

Baca: Strawbery dan Terongfirus jadi Produk Unggulan, Desa Mekar Sari, Wakili Jambi di Tingkat Nasional

"Tetap bersandar pada sumber-sumber alam yang akan tereksploitasi, terutama sumber-sumber pertambangan, industri perkebunan, monokultur, dan HTI," kata dia.

Sebagai contoh, Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Jambi pada 2013-2033, pemerintah Provinsi Jambi telah mengalokasikan peruntukan perkebunan kelapa sawit seluas 1,8 juta hektare.

"Dalam konsolidasi data yang dilakukan oleh Walhi Jambi dengan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, terungkap bahwa pada tahun 2018 saja, sudah ada 1.368.000 hektare izin yang dikeluarkan kepada 186 perusahaan perkebunan kelapa sawit," sebutnya.

Kawasan Hutan Harapan di Provinsi Jambi jadi incaran banyak orang untuk dijadikan areal perkebunan
Kawasan Hutan Harapan di Provinsi Jambi jadi incaran banyak orang untuk dijadikan areal perkebunan ()

Adapun rinciannya, 1.368.000 hektare izin lokasi, 248.000 hektare Hak Guna Usaha (HGU), dan 962.000 hektare Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang ada di Provinsi Jambi.

Menurutnya, pengusahaan pertambangan mineral dan batu bara di Provinsi Jambi berkembang pesat.

Hal tersebut ditandai dengan banyaknya IUP yang telah diterbitkan pemerintah kabupaten/kota. Mayoritas kata dia, pengusaha pertambangan berada di sektor batu bara, sisanya ada di biji besi dan emas.

Terkait dengan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), lanjut Rudi, Walhi Jambi telah berkonsentrasi dengan empat kabupaten. Keempatnya adalah Merangin, Sarolangun, Bungo, dan Tebo.

Baca: Pesan Orangtua Dijadikan Pemicu, Obin Anak Petani Sumut Raih Master di AS dan Ketemu Obama

Baca: Melawan Suap Utusan Koruptor, Mantan Hakim Agung Artidjo Alkostar Diserang dari Berbagai Sisi

Baca: Polda Jambi Tandatangani Komitmen Integritas Reskrim Rasa Baru Penyidikan yang Cepat, Tepat, Tuntas

Dari keempat kabupaten itu, Merangin menjadi yang paling serius diperhatikan.

"Pasalnya, ada lima kawasan yang jadi sorotan. Di antaranya adalah Kecamatan Pangkalan Jambu 655 hektare luas area, Sungai Manau 260 hektare, Renah Pembarap 2 hektare, Tabir Lintas 125 hektare, dan Tabir Barat 185 hektare. Luas area itu belum termasuk aktivitas PETI di badan sungai," ungkapnya.

Rudi juga mengungkapkan, selain aktivitas perkebunan dan pertambangan, penguasaan wilayah Jambi oleh Hutan Tanaman Industri juga cukup mencenangkan. Informasi yang mereka peroleh dari Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, hingga tahun 2018, luas HTI di Provinsi Jambi sudah mencapai 890.265 hektare.

"Atau lebih seperlimanya luas wilayah kawasan hutan yang ada di Provinsi Jambi," pungkasnya.(*)

Penulis: Mareza
Editor: budi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved