Penambangan Liar Kian Mengkhawatirkan

Air Sungai Batang Ngaol Sudah Keruh, Warga Hanya Bisa Diam. Ini Kekhawatiran Mereka

Penggunaan alat berat untuk penambangan emas di sejumlah sungai di Merangin sudah berjalan cukup lama. Namun penggunaan

Air Sungai Batang Ngaol Sudah Keruh, Warga Hanya Bisa Diam. Ini Kekhawatiran Mereka
TRIBUN JAMBI/SUANG SITANGGANG

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Penggunaan alat berat untuk penambangan emas di sejumlah sungai di Merangin sudah berjalan cukup lama. Namun penggunaan alat berat untuk menambangnya marak terjadi belakangan ini. Dulu banyak penggunaan alat berat di daratan, bukan di tepi sungai, apalagi di alur sungai.

Kondisi ini terpantau di Sungai Batang Ngaol, Kecamatan Tabir Barat. Di lokasi yang tak jauh dari pemukiman, satu unit alat berat bekerja di dalam aliran sungai. Air sungai itu pun menjadi sangat keruh, berwarna coklat tua.

Baca: Tambang Emas Ilegal di Merangin Kian Merajalela, Pelaku Mulai Gunakan Alat Berat

Kondisinya berbeda 180 derajat dengan kondisi air di atas lokasi tambang liar itu, airnya terlihat sangat jernih. Air dari Batang Ngaol ini juga digunakan untuk sumber pembangkit listrik tenaga mikro hidrop (PLTMH) di Desa Ngaol. PLTMH di sana memasok listrik ke ratusan rumah.

Sekretaris Desa Ngaol, Zamri, saat dikonfirmasi Tribunjambi.com pekan lalu, membenarkan alat berat yang beraktivitas di Sungai Batang Ngaol itu adalah untuk mencari emas, atau penambangan emas tanpa izin (PETI). Namun dia enggan mengungkapkan secara detail aktivitas PETI di desa itu.

Dia mengatakan sebagian yang bekerja di PETI yang di Sungai Batang Ngaol adalah warga dari desanya. “Kita mau melarangnya bagaimana? Ini menyangkut periuk nasi mereka. Memang dari situ sumber hidup mereka,” ucapnya. Dia bilang PETI di arah hulu sungai baru ada baru-baru ini.

Zamri menyadari akan dampak buruk yang bakal terjadi atas aktivitas di sungai yang sebenarnya sangat cantik itu. Makanya pihaknya melarang ada aktivitas PETI di bagian hulu, sebab nantinya akan berpengaruh pada aliran air untuk PLTMH.

Baca: Penambangan Emas Liar Kian Mengkhawatirkan, Alur Sungai Dibombardir Hingga Area Taman Nasional 

Baca: Triton Gathering 2018, Apresiasi dan Silaturahmi Jadi Satu

“Mereka di bawah aliran air PLTMH,” ujarnya.

Menurut seorang warga di Desa Ngaol yang meminta namanya tidak ditulis, selalu ada pemodal besar di balik PETI. Warga desa itu hanya dimanfaatkan sebagai pekerja kasarnya. Dia bilang, sudah sejak lama warga desa dimanfaatkan untuk PETI, mulai dari PETI di daerah dan di sungai.

“PETI itu selalu ada pemodalnya. Modal utama mereka alat berat, solar, dan merkuri. Warga kampung jadi pekerja kasarnya saja,” ungkapnya. Dia menyadari banyak yang tergiur bekerja di sana, sebab hasil yang menjanjikan. Bila beruntung, ucapnya, seorang bisa mendapatkan bagi hasil hingga Rp 5 juta sebulan, bahkan lebih.  Namun bila nahas, hanya sedikit yang didapat.

Pekerjaan tersebut umumnya menerapkan sistem bagi hasil. Namun pria itu tidak mengetahui secara jelas bagaimana metodenya. Yang jelas, ucapnya, semakin banyak emas yang didapat, akan semakin besar bagi hasil untuk para pekerjanya.

Baca: GALERI FOTO: Ingin Membuat Aquascape Sendiri? Ini Harga Komponen-komponen yang Disediakan

Baca: GALERI FOTO: Ini Cara Perawatan Aquascape agar Tetap Indah dan Berestetika

Baca: Berkebun dalam Air dengan Aquascape

Terkait modal, dia mengungkapkan untuk satu hari, biaya solar yang habis untuk alat berat lebih Rp 500 ribu.

“Kalau kerja pagi sampai sore, biaya solar saja sudah sekitar Rp 500 ribu. Harga solar di sini lebih mahal. Ada yang memang khusus memasok solar ke penambang itu,” tuturnya.

Dia bilang banyak warga hanya bisa diam melihat aktivitas ilegal itu karena pemodalnya bukan orang biasa. Warga tak kuasa untuk melarangnya, karena khawatir berdampak pada keluarganya.

Dia mengaku cukup sedih melihat kondisi sungai di kampungnya itu sekarang. Keberadaan PETI itu, jelasnya, telah membuat sungai menjadi tidak jernih lagi. “Batang Ngaol ini sekarang sudah mirip Sungai Batanghari. Airnya keruh sekali, tidak bisa lagi diminum. Kalau dulu airnya sangat jernih, mirip air dari gunung,” tuturnya.

Baca: Tunggakan Pelanggan PLN di Merangin Capai Rp3,3 M

Baca: Toyota Bagikan Satu Unit Mobil dan Motor Kepada Costumer, Ini Pemenang dari Jambi

Baca: VIDEO: Dukung Program Tribun Jambi Batanghari River Explore 2018, Ini Pernyataan Wali Kota Fasha

Baca: VIDEO: Ini Tampilan dan Spesifikasi Baru Brio dan HR-V Generasi ke-2 di Ajang Honda Exhibition

Penulis: muzakkir
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved