Berita Jambi
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ekonom Unja Ingatkan Bahaya Ilusi Kemakmuran
Ekonom Universitas Jambi Haryadi menilai pelemahan rupiah berpotensi memunculkan "ilusi kemakmuran" akibat kenaikan biaya hidup dan tekanan inflasi.
Penulis: M Yon Rinaldi | Editor: Heri Prihartono
Daerah yang mampu membangun tata kelola yang baik akan lebih mudah menarik investasi produktif dan mempercepat transformasi ekonomi.
Peristiwa hari ini seharusnya menjadi momentum refleksi bagi daerah-daerah penghasil sumber daya alam.
Ukuran kemajuan daerah tidak dapat hanya dilihat dari besarnya nilai ekspor atau tingginya pertumbuhan ekonomi.
Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara nyata dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, kemakmuran yang bergantung pada naik turunnya nilai tukar adalah kemakmuran yang rapuh.
Daerah yang benar-benar maju bukanlah daerah yang menikmati keuntungan sesaat ketika kurs menguat, melainkan daerah yang tetap mampu tumbuh ketika kondisi global berubah.
"Jika manfaat ekspor yang meningkat hanya berakhir pada kenaikan biaya hidup yang harus ditanggung masyarakat, maka yang sedang tumbuh sesungguhnya bukan kemakmuran, melainkan sebuah ilusi kemakmuran," ujar Haryadi
"Disitulah tantangan terbesar pembangunan daerah Indonesia hari ini," pungkasnya.
Baca juga: Tujuh Saksi Diperiksa, Polisi Dalami Kebakaran Gudang Minyak di Kota Baru
Baca juga: Penjelasan Ending Film Pemuja, Horor Malaysia dengan Ending Plot Twist
| Kanwil KemenHAM Jambi Tangani 73 Dugaan Kasus HAM Sejak Awal 2026 |
|
|---|
| Tak Terdampak Pergantian Pimpinan BGN, Distribusi MBG di Kota Jambi Berlangsung Normal |
|
|---|
| Al Haris Minta Minta Proyek Sekolah Rakyat di Tanjabtim Dipercepat, Sambut Siswa Baru |
|
|---|
| Daftar 5 Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jambi Tahun 2026 |
|
|---|
| Suami Kaget Dapati Pom Mini Depan Warung di Jambi Hilang Pagi Buta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/17102025-Haryadi.jpg)