Kamis, 4 Juni 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Berita Jambi

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ekonom Unja Ingatkan Bahaya Ilusi Kemakmuran

Ekonom Universitas Jambi Haryadi menilai pelemahan rupiah berpotensi memunculkan "ilusi kemakmuran" akibat kenaikan biaya hidup dan tekanan inflasi.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: M Yon Rinaldi | Editor: Heri Prihartono
Istimewa
PEMICU INFLASI- Ekonom Universitas Jambi Prof Haryadi menilai pelemahan rupiah memang menguntungkan daerah penghasil komoditas ekspor, namun berpotensi memunculkan "ilusi kemakmuran" akibat kenaikan biaya hidup dan tekanan inflasi. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI –  Pergerakan nilai tukar rupiah dimana mata uang Amerika Serikat berhasil menembus level psikologis Rp18.000.

Menurut Pakar Ekonomi, Guru Besar Unja, Prof. Dr.H. Haryadi, S.E., M.M.S. sebagian pelaku pasar menyambutnya  sebagai sinyal yang menguntungkan bagi daerah penghasil komoditas ekspor.

Daerah-daerah yang selama ini mengandalkan sawit, karet, batubara, minyak bumi, dan berbagai komoditas primer lainnya diperkirakan memperoleh tambahan keuntungan karena nilai ekspor meningkat ketika dikonversi ke dalam rupiah.

Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah. Dalam jangka pendek, penguatan dolar memang dapat memperbesar penerimaan ekspor.

Nilai transaksi perdagangan meningkat, pendapatan perusahaan bertambah, dan aktivitas ekonomi terlihat lebih bergairah. 

"Daerah yang memiliki keterkaitan kuat dengan pasar global biasanya merasakan dampak positif lebih cepat dibandingkan daerah yang orientasi ekonominya bersifat domestik," ujarnya Kamis (4/6/2026)

" Namun sejarah ekonomi menunjukkan bahwa manfaat tersebut sering kali hanya bersifat sementara," timpalnya.

Lebih lanjut ia mengatakan persoalan mendasarnya terletak pada kenyataan bahwa ekonomi daerah tidak hanya menjual barang ke pasar global, tetapi juga membeli berbagai kebutuhan produksi yang harganya dipengaruhi pasar internasional.

Ketika nilai tukar bergerak semakin tinggi, manfaat yang semula dinikmati dari sisi pendapatan perlahan digantikan oleh tekanan dari sisi biaya. 

Pada tahap inilah muncul paradoks yang jarang dibicarakan. Nilai ekspor meningkat, tetapi biaya ekonomi yang harus ditanggung masyarakat dan dunia usaha meningkat lebih cepat.

Provinsi Jambi merupakan salah satu contoh yang menarik. Struktur ekonomi daerah masih didominasi oleh sektor perkebunan, pertambangan, dan migas. Sawit, karet, batubara, dan minyak bumi menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi. 

Ketika harga ekspor membaik, daerah memang memperoleh tambahan energi pertumbuhan. 

Akan tetapi, hampir seluruh aktivitas produksi sektor-sektor tersebut tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan barang yang sensitif terhadap perubahan kurs.

Pupuk, pestisida, alat berat, mesin industri, suku cadang kendaraan, bahan kimia, hingga berbagai perangkat teknologi yang digunakan dalam proses produksi memiliki keterkaitan langsung maupun tidak langsung dengan pasar global. Ketika harga barang-barang tersebut meningkat, biaya produksi ikut terdorong naik. 

Tambahan pendapatan yang semula dinikmati pelaku usaha perlahan mulai tergerus oleh kenaikan biaya operasional.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved