Berita Jambi
Dolar Tembus Rp 18 Ribu, Pakar Ekonomi: Jambi Harus Percepat Hilirisasi
Penguatan dolar AS dinilai menjadi peluang bagi Jambi untuk mempercepat hilirisasi agar komoditas unggulan tidak hanya diekspor sebagai bahan mentah.
Penulis: M Yon Rinaldi | Editor: Heri Prihartono
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Menguatnya nilai tukar dolar AS hingga menembus level Rp18 ribu dinilai menjadi momentum bagi Provinsi Jambi untuk mempercepat pengembangan kawasan hilirisasi dan industri pengolahan.
Pakar Ekonomi Universitas Jambi, Haryadi, menilai kenaikan dolar memang memberikan keuntungan bagi daerah penghasil komoditas ekspor seperti Jambi.
Namun keuntungan yang diperoleh akan jauh lebih besar apabila komoditas tersebut diolah terlebih dahulu sebelum diekspor.
"Kenaikan dolar memang menguntungkan komoditas ekspor seperti CPO, karet, dan batu bara. Tetapi keuntungan terbesar justru akan dirasakan daerah yang memiliki industri hilirisasi karena yang dijual bukan lagi bahan mentah, melainkan produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi," kata Haryadi kepada Tribun Jambi, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, selama ini sebagian besar komoditas unggulan Jambi masih dijual dalam bentuk bahan baku sehingga nilai tambah yang diperoleh daerah belum maksimal.
Karena itu, kondisi dolar yang menguat seharusnya menjadi dorongan bagi pemerintah daerah untuk mempercepat pembangunan kawasan industri berbasis hilirisasi.
"Kalau hanya menjual bahan mentah, keuntungan memang ada. Tapi nilainya tidak sebesar ketika komoditas itu sudah diolah menjadi produk jadi atau setengah jadi," ujarnya.
Haryadi mengatakan Jambi sebenarnya memiliki potensi besar untuk mengembangkan kawasan ekonomi berbasis hilirisasi karena didukung sumber daya alam yang melimpah.
Bahkan, menurutnya, rencana pengembangan kawasan hilirisasi di wilayah timur Jambi, tepatnya sekitar Kemingking, sudah lama masuk dalam perencanaan.
"Masterplan kawasan hilirisasi sebenarnya sudah ada, salah satunya di kawasan timur sekitar Kemingking. Tinggal bagaimana pengembangannya dipercepat sehingga bisa menarik investasi masuk," katanya.
Ia menambahkan, keberadaan kawasan ekonomi khusus atau kawasan industri hilirisasi yang terintegrasi dengan akses pelabuhan akan menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing ekspor Jambi di masa depan.
Selain meningkatkan nilai tambah komoditas, hilirisasi juga dinilai mampu membuka lapangan kerja baru, mendorong pertumbuhan UMKM, serta memperkuat struktur ekonomi daerah agar tidak terlalu bergantung pada fluktuasi harga komoditas mentah.
"Dolar yang tinggi bisa menjadi peluang. Tinggal bagaimana Jambi memanfaatkannya untuk membangun industri pengolahan sehingga manfaat ekonominya tidak hanya dirasakan perusahaan eksportir, tetapi juga masyarakat secara lebih luas," pungkasnya. (Tribunjambi.com/M Yon Rinaldi)
Baca juga: Analisis Guru Besar Universitas Jambi Prof Haryadi, Dampak Dolar Naik ke Jambi
| Al Haris: Peran Pondok Pesantren Tak Tergantikan Bentuk Akhlak Generasi |
|
|---|
| Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ekonom Unja Ingatkan Bahaya Ilusi Kemakmuran |
|
|---|
| Kanwil KemenHAM Jambi Tangani 73 Dugaan Kasus HAM Sejak Awal 2026 |
|
|---|
| Tak Terdampak Pergantian Pimpinan BGN, Distribusi MBG di Kota Jambi Berlangsung Normal |
|
|---|
| Al Haris Minta Minta Proyek Sekolah Rakyat di Tanjabtim Dipercepat, Sambut Siswa Baru |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/Prof-Haryadi.jpg)