Jumat, 5 Juni 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Berita Jambi

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ekonom Unja Ingatkan Bahaya Ilusi Kemakmuran

Ekonom Universitas Jambi Haryadi menilai pelemahan rupiah berpotensi memunculkan "ilusi kemakmuran" akibat kenaikan biaya hidup dan tekanan inflasi.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: M Yon Rinaldi | Editor: Heri Prihartono
Istimewa
PEMICU INFLASI- Ekonom Universitas Jambi Prof Haryadi menilai pelemahan rupiah memang menguntungkan daerah penghasil komoditas ekspor, namun berpotensi memunculkan "ilusi kemakmuran" akibat kenaikan biaya hidup dan tekanan inflasi. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI –  Pergerakan nilai tukar rupiah dimana mata uang Amerika Serikat berhasil menembus level psikologis Rp18.000.

Menurut Pakar Ekonomi, Guru Besar Unja, Prof. Dr.H. Haryadi, S.E., M.M.S. sebagian pelaku pasar menyambutnya  sebagai sinyal yang menguntungkan bagi daerah penghasil komoditas ekspor.

Daerah-daerah yang selama ini mengandalkan sawit, karet, batubara, minyak bumi, dan berbagai komoditas primer lainnya diperkirakan memperoleh tambahan keuntungan karena nilai ekspor meningkat ketika dikonversi ke dalam rupiah.

Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah. Dalam jangka pendek, penguatan dolar memang dapat memperbesar penerimaan ekspor.

Nilai transaksi perdagangan meningkat, pendapatan perusahaan bertambah, dan aktivitas ekonomi terlihat lebih bergairah. 

"Daerah yang memiliki keterkaitan kuat dengan pasar global biasanya merasakan dampak positif lebih cepat dibandingkan daerah yang orientasi ekonominya bersifat domestik," ujarnya Kamis (4/6/2026)

" Namun sejarah ekonomi menunjukkan bahwa manfaat tersebut sering kali hanya bersifat sementara," timpalnya.

Lebih lanjut ia mengatakan persoalan mendasarnya terletak pada kenyataan bahwa ekonomi daerah tidak hanya menjual barang ke pasar global, tetapi juga membeli berbagai kebutuhan produksi yang harganya dipengaruhi pasar internasional.

Ketika nilai tukar bergerak semakin tinggi, manfaat yang semula dinikmati dari sisi pendapatan perlahan digantikan oleh tekanan dari sisi biaya. 

Pada tahap inilah muncul paradoks yang jarang dibicarakan. Nilai ekspor meningkat, tetapi biaya ekonomi yang harus ditanggung masyarakat dan dunia usaha meningkat lebih cepat.

Provinsi Jambi merupakan salah satu contoh yang menarik. Struktur ekonomi daerah masih didominasi oleh sektor perkebunan, pertambangan, dan migas. Sawit, karet, batubara, dan minyak bumi menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi. 

Ketika harga ekspor membaik, daerah memang memperoleh tambahan energi pertumbuhan. 

Akan tetapi, hampir seluruh aktivitas produksi sektor-sektor tersebut tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan barang yang sensitif terhadap perubahan kurs.

Pupuk, pestisida, alat berat, mesin industri, suku cadang kendaraan, bahan kimia, hingga berbagai perangkat teknologi yang digunakan dalam proses produksi memiliki keterkaitan langsung maupun tidak langsung dengan pasar global. Ketika harga barang-barang tersebut meningkat, biaya produksi ikut terdorong naik. 

Tambahan pendapatan yang semula dinikmati pelaku usaha perlahan mulai tergerus oleh kenaikan biaya operasional.

Kondisi ini menjelaskan mengapa manfaat dari pelemahan rupiah sering hanya berlangsung dalam jangka pendek. 

Efek pertama yang muncul adalah meningkatnya penerimaan ekspor. Akan tetapi, efek berikutnya adalah meningkatnya biaya produksi. 

Setelah itu muncul tekanan inflasi. Pada akhirnya, daya beli masyarakat mulai menurun. 

Rantai dampak seperti ini berulang kali terjadi dalam berbagai episode gejolak nilai tukar yang pernah dialami Indonesia.

Kelompok yang paling rentan menghadapi situasi tersebut justru bukan para eksportir. 

Tapi masyarakat yang bekerja di sektor jasa, pegawai negeri, guru, tenaga kesehatan, pekerja informal, serta pelaku usaha kecil tidak memperoleh manfaat langsung dari meningkatnya nilai ekspor. 

Sebaliknya, mereka harus menghadapi kenaikan harga berbagai kebutuhan hidup. 

Harga material bangunan meningkat, bahkan harga kendaraan naik. 

Biaya transportasi bertambah. Harga obat-obatan dan berbagai kebutuhan rumah tangga ikut terdorong naik. 

Pada titik tertentu, kenaikan biaya hidup tersebut menggerus kemampuan masyarakat untuk mempertahankan tingkat konsumsinya.

Fenomena inilah yang melahirkan ilusi kemakmuran daerah. 

Statistik ekonomi menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, tetapi kesejahteraan masyarakat tidak meningkat dalam skala yang sama. 

Nilai perdagangan membesar, sementara ruang ekonomi rumah tangga menyempit.

Daerah terlihat semakin kaya dari luar, tetapi sebagian masyarakat justru menghadapi tekanan yang semakin besar dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Persoalan tersebut sesungguhnya mengungkap kelemahan mendasar pembangunan daerah selama ini.

Banyak daerah masih terlalu bergantung pada ekspor komoditas primer. Ketika harga komoditas naik, ekonomi tumbuh. Ketika harga turun atau biaya produksi meningkat, pertumbuhan melemah. 

Kondisi tersebut membuat perekonomian daerah sangat rentan terhadap faktor-faktor yang berada di luar kendalinya.

Kemakmuran akhirnya bergantung pada fluktuasi harga dunia dan pergerakan nilai tukar, bukan pada kekuatan produktivitas daerah itu sendiri.

Bagi Jambi, tantangan yang muncul jauh lebih besar dibandingkan sekadar menjaga pertumbuhan ekonomi. 

Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana membangun ekonomi yang mampu bertahan ketika situasi global berubah. 

Ketahanan ekonomi tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan ekspor bahan mentah. 

Ketahanan ekonomi memerlukan nilai tambah yang diciptakan di dalam daerah, keterkaitan yang kuat antar-sektor ekonomi, serta kemampuan menghasilkan produk yang memiliki daya saing tinggi.

Karena itu, agenda pembangunan daerah ke depan harus lebih menekankan transformasi ekonomi dibandingkan sekadar peningkatan produksi. 

Sawit tidak cukup hanya dipanen dan diekspor. Karet tidak cukup hanya dijual sebagai bahan baku. Potensi energi dan pertambangan tidak cukup hanya menghasilkan komoditas mentah. 

Nilai ekonomi yang lebih besar harus diciptakan melalui industri pengolahan, pengembangan rantai pasok lokal, dan peningkatan kandungan lokal dalam setiap aktivitas produksi.

Diversifikasi ekonomi juga menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar. Ketergantungan yang berlebihan terhadap sektor primer membuat daerah mudah terombang-ambing oleh perubahan eksternal. 

Penguatan sektor jasa, ekonomi digital, pendidikan, kesehatan, industri kreatif, dan pariwisata menjadi penting untuk memperluas sumber pertumbuhan ekonomi.

Struktur ekonomi yang lebih beragam akan membuat daerah memiliki daya tahan yang lebih baik ketika menghadapi gejolak global.

Pada saat yang sama, kualitas tata kelola pemerintahan harus terus diperkuat. Investasi membutuhkan kepastian. 

Dunia usaha membutuhkan birokrasi yang efisien. Pembangunan memerlukan perencanaan berbasis data. 

Daerah yang mampu membangun tata kelola yang baik akan lebih mudah menarik investasi produktif dan mempercepat transformasi ekonomi.

Peristiwa hari ini seharusnya menjadi momentum refleksi bagi daerah-daerah penghasil sumber daya alam.

Ukuran kemajuan daerah tidak dapat hanya dilihat dari besarnya nilai ekspor atau tingginya pertumbuhan ekonomi. 

Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara nyata dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, kemakmuran yang bergantung pada naik turunnya nilai tukar adalah kemakmuran yang rapuh. 

Daerah yang benar-benar maju bukanlah daerah yang menikmati keuntungan sesaat ketika kurs menguat, melainkan daerah yang tetap mampu tumbuh ketika kondisi global berubah. 

"Jika manfaat ekspor yang meningkat hanya berakhir pada kenaikan biaya hidup yang harus ditanggung masyarakat, maka yang sedang tumbuh sesungguhnya bukan kemakmuran, melainkan sebuah ilusi kemakmuran," ujar  Haryadi

"Disitulah tantangan terbesar pembangunan daerah Indonesia hari ini," pungkasnya.

Baca juga: Tujuh Saksi Diperiksa, Polisi Dalami Kebakaran Gudang Minyak di Kota Baru

Baca juga: Penjelasan Ending Film Pemuja, Horor Malaysia dengan Ending Plot Twist

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved