Kamis, 30 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Berita Jambi

Gerobak dan Balita di Pinggir Jalan, Aktivitas Mengemis Marak Saat Ramadan

Fenomena manusia gerobak kembali marak di Kota Jambi selama Ramadan, memicu kekhawatiran soal eksploitasi anak.

Tayang:
Penulis: Rifani Halim | Editor: Heri Prihartono
istimewa
PENGEMIS-Fenomena manusia gerobak kembali marak di Kota Jambi selama Ramadan, memicu kekhawatiran soal eksploitasi anak dan ketergantungan pada sedekah jalanan. 

Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari meningkatnya aktivitas masyarakat di perkotaan serta momentum berbagi yang kerap dilakukan warga, seperti pada tradisi Jumat Berkah.

“Kalau kita melihat ini memang fenomena kota. Banyak masyarakat dari luar datang melakukan aktivitas di Kota Jambi. Dalam tiga tahun terakhir sejak saya di Dinas Sosial, memang terlihat peningkatan, apalagi saat Ramadan,” kata Yunita saat berbincang dengan Tribun Jambi.

Ia menjelaskan, pada momen Ramadan dan Jumat Berkah banyak masyarakat bersedekah di jalan. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk duduk di pinggir jalan dalam waktu lama.

“Di situ kita melihat ada yang membawa gerobak, ada juga yang disebut manusia karung, yang duduk dalam waktu lama di satu tempat. Tapi mereka bukan memulung. Nah ini yang menjadi perhatian kita karena jumlahnya semakin banyak,” ujarnya.

Menurut Yunita, peningkatan jumlah orang yang melakukan aktivitas tersebut bahkan bisa mencapai sekitar 100 orang setiap tahun.

Dari hasil pemantauan di lapangan, para pengemis atau manusia gerobak biasanya memilih lokasi yang ramai dilalui masyarakat, seperti di kawasan Jalan Sudirman, Selamet Riyadi, kawasan Pasar, Simpang BI, Telanaipura, Kawasan Kotabaru dan beberapa wilayah lainnya.

“Yang pertama mereka cari tempat duduk yang nyaman, kemudian orang berlalu lalang banyak. Kadang gerobak atau karung itu juga menjadi properti untuk menarik simpati dan melakukan aktivitas meminta-minta,” jelasnya.

Ia menegaskan, jalan raya bukan tempat yang layak untuk aktivitas tersebut, terlebih jika melibatkan anak-anak.

“Jalan harusnya bebas dari bentuk-bentuk penyimpangan. Apalagi kalau anak-anak ikut berada di simpang jalan. Itu bisa berdampak pada mental mereka,” tegasnya.

Berdasarkan identifikasi Dinas Sosial, sebagian besar anak yang ditemukan di lapangan sebenarnya masih terdaftar sebagai siswa aktif di sekolah. Namun ada orang tua yang membiarkan bahkan menyuruh anak ikut mencari uang di jalan.

“Alternatif untuk melatih jiwa wirausaha anak itu banyak, tapi bukan dengan cara berjualan atau meminta-minta di jalan,” katanya.

Ia menilai keterlibatan anak-anak dalam aktivitas tersebut dapat menimbulkan persoalan sosial jangka panjang. Anak-anak berpotensi terbiasa hidup di jalan dan kehilangan pola disiplin dalam kehidupan sehari-hari.

“Kadang mereka membawa anak-anaknya. Ini yang membuat kita miris karena anak-anak jadi merasa nyaman duduk di jalan, mendapatkan uang atau makanan, sehingga kehidupannya menjadi bebas,” ujarnya.

Menurut Yunita, kondisi tersebut juga berkaitan dengan latar belakang ekonomi keluarga. Banyak anak yang berasal dari keluarga dengan kategori desil 1 dan desil 2, yakni kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.

Karena itu, ia berharap program pendidikan seperti sekolah rakyat dapat membantu memutus mata rantai kemiskinan.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved