Senin, 13 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Polemik Stockpile Batu Bara Jambi

Debu Jalan Tambang Ancam Warga Aur Kenali dan Mendalo Darat, Jambi

Ibu tunggal itu tidak pernah membayangkan rumah petak yang dibeli orang tuanya akan berhadapan langsung aktivitas jalan khusus tambang dan stockpile

Penulis: Rifani Halim | Editor: asto s
Tribun Jambi
BATAS TIPIS - Lenawati berdiri di belakang dapur rumahnya yang berhadapan dengan jalan tambang batu bara PT Sinar Anugerah Suskes (PT SAS) pada 10 Agustus 2025. Jarak dua titik tersebut hanya beberapa meter. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Perabotan rumah tangga tersusun di dapur Lenawati (50). 

Dapur itu bagian dari rumah batako sederhana di Kelurahan Aur Kenali, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, tempat Lenawati tinggal bersama tiga anaknya sejak tahun 1996.

Sedikit gelap, sinar matahari masuk dari rongga-rongga ventilasi dapur. 

Lenawati, seorang buruh cuci dan asisten rumah tangga, berjalan membelah perabotan rumah tangga, lalu membuka pintu cokelat warna asli kayu dengan suara decitan. 

Ketika pintu terbuka, tampak jelas alat berat crane menjulang tinggi, berdiri kokoh.

Ibu tunggal itu tidak pernah membayangkan rumah petak yang dibeli orang tuanya itu akan berhadapan langsung dengan aktivitas jalan khusus tambang dan stockpile batu bara PT Sinar Anugerah Sukses atau PT SAS.

Puluhan tahun silam, di belakang rumahnya hanya ada hutan, semak, dan rumpun bambu. 

Pemilik tanah, seorang tetua yang akrab disapa Mbah Lanang, bahkan mempersilakan keluarga Lenawati menanam pohon agar lahan tidak menjadi semak belukar.

"Daripada bersemak banyak nian, lebih baik bertanam," kenang Lena.

Ia bersama almarhumah ibu menanam cokelat, jengkol, pinang, dan nangka. 

Hasilnya memang tidak banyak, tapi cukup menambah penghasilan dari pekerjaannya sebagai buruh cuci.

Perubahan besar datang pada tahun 2015 kala Lena mendengar kabar akan ada pembangunan jalan batu bara di belakang rumahnya tanpa ada informasi yang jelas. 

Traktor dan alat berat mulai berdatangan. 

Tanpa permisi, pekerja perusahaan menebangi pohon-pohon yang telah ia rawat bertahun-tahun.

"Kok ribut di belakang, kata aku dalam hati saat itu. Kok sudah masuk sini tidak pakai permisi-permisi. Pohon cokelat, pinang, nangka, dan jengkol sudah tumbang," keluhnya.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved