Selasa, 21 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Opini

Menebus Dosa Ekologis: Metanoia Lingkungan dalam Perspektif Islam

Krisis lingkungan sebagai Dosa Ekologis saat ini, mulai dari deforestasi, polusi, hingga perubahan iklim, bukan sekadar tantangan teknis

Penulis: tribunjambi | Editor: Suci Rahayu PK
Istimewa
Dr. M. Junaidi Habe, M.Si, Akademisi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi 

Menebus Dosa Ekologis: Metanoia Lingkungan dalam Perspektif Islam

Oleh: 
Dr. M. Junaidi Habe, M.Si. 
Akademisi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi


Krisis lingkungan sebagai Dosa Ekologis saat ini, mulai dari deforestasi, polusi, hingga perubahan iklim, bukan sekadar tantangan teknis, tetapi juga refleksi dari krisis spiritual. 

Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. al-A‘raf)

Hadits Nabi pun menggarisbawahi pentingnya kontribusi positif terhadap alam: “Jika hari kiamat tiba, saat kamu memiliki sebongkah bibit, tanamlah…” 

Kedua nasihat ini mengajak manusia untuk introspeksi, untuk mengakui kesalahan kita terhadap alam  dan menanamkan penyesalan yang melahirkan perubahan hidup: sebuah metamorfosis batin atau metanoia ekologis.                                                                                        

Sebagai bentuk Teologi Pertobatan, Taubat Ekologis ala Islam menanamkan tanggung jawab ekologis melalui beberapa rumusan teologis mendasar. 

Pertama, Khalifah (Penjaga Bumi): Manusia diberi amanah untuk merawat ciptaan Allah, menganugerahkan potensi ilmu, akal, dan kemampuan berinisiatif, di samping penundukan alam raya kepada manusia, bukan mengeksploitasinya. 

Kedua, Mizan (Keseimbangan): Akibat dari krisis lingkungan adalah bentuk ketidakseimbangan, yang mesti dikoreksi melalui tindakan adil dan ramah lingkungan. Memang Allah Swt menciptakan semua makhluk saling kait-berkait dalam keterkaitan itu, lahirlah keserasian dan keseimbangan dari yang terkecil hingga yang terbesar, dan semua tunduk dalam pengaturan Allah yang Mahabesar. 

Bila terjadi gangguan pada keharmonisan dan keseimbangan itu, maka kerusakan terjadi, dan ini kecil atau besar pasti berdampak pada seluruh bagian alam, termasuk manusia, baik yang merusak maupun yang merestui perusakan itu, bahkan tidak mustahil yang tidak berdosa pun. 

Ketiga, Biocentrisme Islami: Segala makhluk hidup memiliki nilai intrinsik sebagai wujud ekspresi ketundukan pada Allah, bukan sekadar sumberdaya buat manusia.                        

Resacralization of Nature: Mengembalikan Kesucian Alam 

Seyyed Hossein Nasr menawarkan nilai spiritual ekologis melalui konsep resacralization of nature, yaitu membalik kebiasaan melihat alam sebagai objek menjadi sumber spiritual. 

Alam menjadi tanda Ilahi (ayat kauniyah) yang patut dihormati dan dilindungi.

Pada Landasan Spiritual dan Etis, pertama, Al-Qur’an dan Hadits memerintahkan menjaga keadaban terhadap alam, mencakup larangan kerusakan dan pemborosan. Contohnya, hadits tentang zakat pohon dan perilaku wastage dalam wudhu. 

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved